Rupiah Cetak Rekor Terendah di Tengah Kekosongan Gubernur Bank Sentral

ZETIZENS.ID – Pada 22 Juli, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% dalam rapat dewan gubernur yang dipimpin Gubernur Perry Warjiyo, yang juga memaparkan data cadangan devisa Juni.
Lima hari kemudian, ia mengundurkan diri, dua tahun sebelum masa jabatannya dijadwalkan berakhir pada 2028. Kini Indonesia mempertahankan mata uang yang berada di rekor terlemah di bawah kepemimpinan pelaksana tugas gubernur, sembari menunggu penunjukan definitif.
Aset Indonesia menghadapi dua premi risiko: premi energi yang lazim dialami negara pengimpor minyak di Asia akibat tingginya harga minyak mentah dan biaya pengangkutan, serta premi institusional yang khas Indonesia dan dapat diukur secara kuantitatif.
Sepuluh Bulan, Tiga Pengunduran Diri, Satu Rekor Terendah
Pengunduran diri Warjiyo menjadi pergantian pejabat senior ketiga dalam jajaran pimpinan ekonomi Indonesia dalam sepuluh bulan terakhir. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, yang dipandang sebagai jangkar fiskal, digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa pada 8 September 2025. Deputi Gubernur Juda Agung juga mengundurkan diri secara mendadak pada 13 Januari 2026, sebelum masa jabatannya berakhir.
Pada 19 Januari, Presiden Prabowo menunjuk keponakannya, Thomas Djiwandono, untuk mengisi kursi dewan gubernur yang kosong. Rupiah pun melemah ke rekor saat itu di 16.985 per dolar AS keesokan harinya, lima minggu sebelum perang pecah dan di tengah pelemahan dolar AS.
Rekor awal ini mencerminkan apa yang disebut diskon Jakarta: bagian dari pelemahan rupiah yang terkait dengan pengumuman institusional, bukan harga minyak mentah.
Untuk mengukur besaran diskon tersebut, dilakukan perbandingan terhadap sekeranjang mata uang negara pengimpor minyak di Asia serta analisis tanggal-tanggal peristiwa kunci.
Rupiah melemah menuju level 18.000 hanya dalam hitungan jam setelah pengunduran diri Warjiyo, tanpa ada pemicu dari harga minyak maupun dolar AS, mengulangi pola yang terjadi pada Januari. Moody’s mengutip alasan “berkurangnya prediktabilitas dalam pembuatan kebijakan” saat memangkas outlook pada Februari.
Penyusutan US$10,9 Miliar Berpapasan dengan Posisi Short US$27 Miliar
Cadangan devisa turun dari US$156,5 miliar pada Desember 2025 menjadi US$144,9 miliar pada Mei, level terendah sejak Juni 2024, sebelum kembali naik ke US$145,6 miliar pada Juni.
Bank Indonesia mengaitkan pemulihan ini dengan penerimaan pajak dan jasa, di tengah intervensi yang masih berlangsung. Rasio cakupan impor dan pembayaran utang turun menjadi 5,4 bulan, sementara penerbitan obligasi global senilai US$3,25 miliar pada Mei turut menopang angka headline tersebut.
Intervensi di pasar spot maupun pasar forward domestik telah membentuk posisi short valuta asing bersih Bank Indonesia sekitar US$27 miliar per akhir Mei, menurut komentar Fitch pada 1 Juli. Lembaga pemeringkat ini memproyeksikan cakupan cadangan devisa sebesar 4,9 bulan pembayaran eksternal pada 2026, di bawah median 5,0 bulan untuk negara berperingkat BBB, dan memperingatkan bahwa penurunan cadangan devisa yang tajam dan berkelanjutan “dapat menambah tekanan pada peringkat sovereign”.
Membela nilai tukar mata uang memberi sinyal soal arah kebijakan ke depan, namun seorang pelaksana tugas gubernur hanya bisa memberikan jaminan jangka pendek. Akibatnya, setiap dolar yang digunakan untuk intervensi kini memberikan stabilitas yang lebih kecil dibandingkan pada April, saat itu bank sentral masih dipimpin gubernur definitif dengan masa jabatan penuh.
Keputusan 22 Juli mencerminkan keterbatasan ini: alih-alih menaikkan suku bunga untuk keempat kalinya, Bank Indonesia mengandalkan imbal hasil SRBI, biaya lindung nilai yang lebih rendah, dan intervensi langsung, sebagaimana diuraikan dalam analisis EBC.
Rupiah di Level 18.000: Lebih Lemah dari 1998, tapi Didukung Neraca yang Lebih Kuat
Rupiah kini diperdagangkan di bawah titik terendah krisis 1997-98 secara nominal, namun kedua episode ini nyaris tidak memiliki kesamaan di balik angka nilai tukarnya. Pada 1998, Indonesia menganut sistem kurs tetap, menghadapi keruntuhan utang dolar korporasi, dan cadangan devisa yang nyaris kosong. Pada 2026, perekonomian Indonesia memiliki cadangan devisa US$145,6 miliar, tumbuh 5,11% pada 2025, menjalankan proyeksi defisit fiskal 2,85% dari PDB yang masih berada di bawah batas hukum 3%, serta menganut sistem kurs mengambang.
Dahulu, Indonesia kehabisan dolar AS. Kini, negara ini menggunakan cadangan devisa untuk menutupi kekosongan kepemimpinan, padahal cadangan devisa dapat dipulihkan lebih cepat dibandingkan kredibilitas. Faktor-faktor yang lebih luas, termasuk defisit neraca pembayaran kuartal pertama sebesar US$9,1 miliar, diuraikan dalam analisis enam faktor pelemahan rupiah dari EBC.
Sebuah keputusan presiden bertanggal 11 Februari 1998 memberhentikan Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono di tengah keruntuhan rupiah, dan ia baru mengetahuinya enam hari kemudian. Pada 9 Februari 2026, tepat dua hari sebelum genap dua puluh delapan tahun kemudian, putranya, Thomas, dilantik sebagai deputi gubernur di institusi yang sama, atas penunjukan pamannya, Presiden Prabowo Subianto.
Tiga Kemungkinan Arah Suksesi Bank Indonesia
Undang-undang Indonesia mewajibkan presiden mengajukan calon kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR); di lembaga ini, Komisi XI akan melakukan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test), dan parlemen mengambil keputusan dalam waktu satu bulan. Hingga 29 Juli, belum ada calon yang diajukan. Menteri Keuangan Purbaya, yang dianggap sebagai salah satu kandidat potensial, menyatakan, “Kami mengikuti arahan Presiden.”
Ada tiga kemungkinan hasil. Mengukuhkan teknokrat karier seperti Destry Damayanti atau tokoh internal Bank Indonesia lainnya berpotensi menurunkan premi institusional dan membawa USD/IDR kembali ke kisaran sebelum pengunduran diri Warjiyo. Menunjuk Purbaya dari kementerian keuangan akan menyatukan kepemimpinan fiskal dan moneter, sementara memilih kandidat di luar kalangan teknokrat berpotensi mendorong pasar kembali ke rekor Juni di level 18.209.
Pada 4 Juni, parlemen memperluas mandat Bank Indonesia untuk turut mencakup pertumbuhan ekonomi dan menjadikan rekomendasi anggota parlemen bersifat mengikat. Danantara, otoritas investasi negara, akan bergabung dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan, dan pelaksana tugas gubernur dipanggil ke istana kepresidenan hanya sehari setelah menjabat.
Mulai 1 September, anak usaha Danantara, DSI, akan mengalirkan ekspor batu bara, minyak sawit mentah (crude palm oil), dan feroalloy melalui satu pintu gerbang negara, mengonsolidasikan devisa hasil komoditas di institusi yang kini turut terlibat dalam keputusan stabilitas.
Defisit 2,85% dan Suku Bunga Terminal 6%: Hitungan Fiskal Baru
Komisi anggaran parlemen memproyeksikan defisit 2026 sebesar 2,85% dari PDB, lebih tinggi dari target anggaran 2,68% dan mendekati batas hukum 3%. Program makan bergizi gratis dialokasikan sebesar Rp335 triliun tahun ini, sekitar 1,4% dari PDB dan 550% lebih tinggi dibandingkan belanja pada 2025, guna mendukung target pertumbuhan 8% pada 2029 dibandingkan 5,11% tahun lalu. Defisit perdagangan sebesar US$1,16 miliar pada Mei, yang merupakan defisit pertama Indonesia dalam enam tahun terakhir, menghilangkan bantalan eksternal yang selama ini ada.
Ekspansi fiskal kini diimbangi dengan pengetatan kebijakan moneter. Economist Intelligence Unit memproyeksikan suku bunga acuan mencapai 6,00% pada akhir tahun, sementara para ekonom Bank Danamon memproyeksikan 6,25%. Imbal hasil SRBI yang terus naik menarik dana perbankan ke aset bebas risiko dan menjauh dari penyaluran kredit. Dari total arus masuk dana asing sebesar US$8,5 miliar pada semester pertama, sebagian besar mengalir ke obligasi dan SRBI, sementara pasar saham justru mencatat arus keluar dana, mengindikasikan bahwa modal asing lebih mengejar imbal hasil ketimbang pertumbuhan jangka panjang.
Pengumuman kebijakan fiskal ekspansif dari Jakarta kini justru berfungsi sebagai sinyal pengetatan, karena bank sentral tanpa gubernur definitif harus membela nilai tukar dengan alat kebijakan yang terbatas. Pola ini membalikkan kebiasaan umum di pasar negara berkembang: berita belanja pemerintah biasanya dipandang sebagai berita positif bagi pertumbuhan.
Catatan Penutup
Tiga indikator jelas dapat menurunkan diskon Jakarta: pengukuhan gubernur definitif dengan kredibilitas yang teruji pasar dalam batas waktu satu bulan sesuai undang-undang, cadangan devisa yang bertahan di atas US$145 miliar dalam laporan-laporan berturut-turut tanpa pembatasan baru terhadap pembelian dolar AS, serta USD/IDR yang tetap berada di bawah rekor JISDOR 18.171 pada periode-periode munculnya berita negatif.
Selama indikator-indikator ini belum terpenuhi, rupiah akan terus mencerminkan kedua premi risiko tersebut, dan hanya premi energi yang berpotensi mengecil jika gencatan senjata yang bertahan lama benar-benar terjadi. Bagi trader yang memantau USD/IDR hingga akhir 2026, linimasa suksesi kini menjadi faktor yang lebih penting dibandingkan harga minyak, karena calon yang diajukan presiden akan menentukan kisaran nilai tukar berikutnya. (*)
Penulis: Sana Ur Rehman
Reviewed by: Tim Riset & Peninjauan EBC







