Karya

Taiwan: Berani Berubah dari Bawah

ZETIZENS.ID – Kalau kita lihat dari buku Budi Winarno, Taiwan itu sebetulnya bukan negara yang kaya sumber daya alam. Tapi mereka berhasil. Kenapa? Karena pemerintahnya berani melakukan hal yang banyak negara lain tidak mau lakukan — membagi tanah secara betulan ke petani kecil (Winarno, 2003).

Bayangin aja, dulu petani di Taiwan itu cuma buruh di tanah milik tuan tanah. Tapi setelah reforma agraria berjalan serius pasca-1949, mereka jadi punya tanah sendiri. Kalau tanahnya sudah milik sendiri, otomatis semangat kerjanya beda — karena hasilnya juga buat diri sendiri. Ini yang para ahli sebut sebagai dampak nyata dari land reform yang konsisten (BPN, 2007, dalam Winarno, 2003).

Dari situ, sektor pertanian Taiwan tumbuh pesat. Dan yang menarik, pertumbuhan pertanian itu justru jadi batu loncatan ke industri. Bukan industri dulu, pertanian belakangan — tapi pertanian dulu, baru industri menyusul. Urutannya ini yang sering kebalik di negara lain (Wikipedia, 2024; FEB UMA, 2021).

Yang juga bikin Taiwan beda adalah cara mereka memperlakukan organisasi petani. Di banyak negara — termasuk Indonesia di era Orde Baru — organisasi petani itu lebih banyak jadi alat pemerintah, bukan benar-benar mewakili petani. Taiwan justru sebaliknya: petani diberi ruang untuk mengurus diri mereka sendiri, termasuk soal pemasaran hasil panen bareng-bareng (Focus Taiwan, 2025).

Intinya, keberhasilan Taiwan itu bukan soal teknologi canggih atau bantuan luar negeri semata. Tapi soal kepercayaan — negara percaya kepada petaninya, dan petani punya alasan untuk percaya kepada negara (Winarno, 2003).

Pelajarannya simpel tapi berat: kalau mau petani maju, lepaskan dulu kendali yang berlebihan atas mereka. (*)

Ditulis oleh Siti Lutfiah, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang

Tulisan Terkait

zetizens.id