Life Style

Lawan Obesitas dengan Gaya Hidup Dulu, Operasi Bariatrik Kemudian

Di kawasan Asia Tenggara, posisi Indonesia berada di peringkat atas dalam prevalensi jumlah obesitas dewasa.

ZETIZENS.id – Indonesia tengah berada di situasi yang cukup mengkhawatirkan soal angka obesitasnya. Di kawasan Asia Tenggara, posisi Indonesia berada di peringkat atas dalam prevalensi jumlah obesitas dewasa.
“Indonesia ada di nomor urut ke-6 untuk angka obesitas dewasa dalam daftar tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Dan oleh karena itu, sudah disepakati dan dinyatakan WHO bahwa obesitas digolongkan sebagai suatu penyakit,” ujar Dr. dr. Errawan Wiradisuria, Sp.B, Subsp. BD(K), M.Kes, Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif Konsultan, saat membahas perkembangan penanganan obesitas melalui pendekatan bedah bariatrik–metabolik bersama RS Premier Bintaro di di PUJA Bumi Kenduri The Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026) lalu.
Dr. Errawan menyampaikan, obesitas kini dipandang sebagai penyebab penyakit kronis yang dapat memicu berbagai komplikasi serius seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan tidur, hingga penurunan kualitas hidup.
Menurut beliau, berbagai organisasi kesehatan dunia seperti American Medical Association dan Canadian Medical Association telah mengategorikan obesitas sebagai bagian penyakit kronis yang membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan. Namun di Indonesia, obesitas masih sering dianggap hanya sebagai masalah pola hidup.
Melawan angka obesitas yang terus melonjak ini, dr Errawan menawarkan opsi instan seperti bedah bariatrik (operasi pengecilan lambung) sebagai jalan pintas. Namun, secara medis dan etis, praktik operasi yang ditanganinya ini bukanlah garis awal melawan obesitas.
“Kalo segala macam usaha seperti diet, olahraga, tidak berhasil dilakukan pasien barulah tindakan operasi bariatrik-metabolik ini dilakukan. Secara etika tindakan itu baru benar dilakukan,” ucapnya mengenalkan Apa Itu Bedah Bariatrik–Metabolik untuk Obesitas, Rabu siang.
Menurut dr. Errawan, bedah bariatrik–metabolik merupakan prosedur pembedahan yang bertujuan membantu penurunan berat badan sekaligus memperbaiki gangguan metabolisme tubuh, seperti diabetes dan hipertensi. Dibandingkan metode konservatif seperti diet, olahraga, dan obat-obatan, tindakan ini dinilai memberikan hasil jangka panjang yang lebih efektif pada kasus obesitas berat.
“Akibat kegemukan yang sudah pada tingkat obesitas kelas dua di mana Indeks Massa Tubuhnya (BMI) sudah di atas 35-39.9 dan ada komorbidnya maka bedag bariatrik bisa dilakukan,” katanya lagi memastikan pasien tidak asal atau langsung ambil keputusan jalan pintas memotong lambungnya.
Jika prosedur tersebut sudah dilakukan dengan benar, pasien obesitas akan bisa merasakan beberapa manfaat utama dari pembedahan bariatrik antara lain: penurunan berat badan yang signifikan dan bertahan lama, perbaikan kualitas hidup pasien, penurunan risiko penyakit penyerta (co-morbid), perbaikan kondisi diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi.
Selain itu, pasien obesitas juga harus menyertai untuk memiliki komitmen menjalani perubahan pola hidup sehat dan kontrol kesehatan jangka panjang.
Dalam sesi edukasi, dr. Errawan menjelaskan beberapa jenis teknik bariatrik modern yang dikuasainya, seperti Sleeve Gastrectomy (SG)  Roux-en-Y Gastric Bypass (RYGB), One Anastomosis Gastric Bypass (OAGB), Biliopancreatic Diversion with Duodenal Switch (BPD-DS), dan Sleeve Gastrectomy with Proximal Jejunal Bypass (PJB-S).
Namun beliau menjelaskan salah satu prosedur yang banyak dipilih adalah Laparoscopic Sleeve Gastrectomy (LSG) karena prosedurnya relatif sederhana, angka komplikasi rendah, serta memberikan penurunan berat badan yang cepat dengan masa rawat inap yang lebih singkat.
Selain tindakan operasi, keberhasilan terapi juga sangat dipengaruhi oleh kepatuhan pasien menjalani pola makan pasca operasi, konsumsi vitamin, olahraga rutin, dan perubahan gaya hidup sehat secara menyeluruh.
Namun saat ini prosedur bedah bariatrik masih belum mendapatkan dukungan pembiayaan dari asuransi maupun BPJS, karena masih banyak yang menganggap tindakan bariatrik sebagai prosedur kosmetik. Padahal sejak tahun 2013, World Health Organization telah menyatakan bahwa obesitas merupakan suatu penyakit (obesity is a disease) karena hampir selalu disertai berbagai penyakit penyerta (co-morbid) seperti hipertensi, obstructive sleep apnea (OSA), hiperlipidemia, diabetes, batu empedu, gangguan hormonal dengan menstruasi tidak teratur, nyeri lutut, hingga varises pada tungkai.
Untuk mendapatkan penanganan yang sesuai, konsultasi dengan dokter spesialis sangat dianjurkan agar pasien memperoleh evaluasi dan terapi yang optimal sesuai kondisi masing-masing.
RS Premier Bintaro berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana edukasi bagi media dan masyarakat agar semakin memahami bahwa obesitas merupakan kondisi medis yang dapat ditangani secara tepat melalui pendekatan multidisiplin dan teknologi bedah modern. (*)

Al Sobri

Senang menyapa meski kadang nggak balik disapa. Suka berlari meski kadang nggak dapat medali. Journalist.

Tulisan Terkait

zetizens.id