Recehan Bahasa #2: Receh Tak Selalu Remeh

ZETIZENS.ID — Dalam rangka merayakan Hari Buku Sedunia pada 17 Mei, Narabahasa bersama Mizan telah resmi membuka pemesanan spesial untuk buku Recehan Bahasa: Receh Tak Selalu Remeh atau Recehan Bahasa #2 pada Senin, 18 Mei 2026.
Buku ini adalah terbitan kedua dari seri Recehan Bahasa. Pembukaan dilaksanakan melalui diskusi secara daring bersama Ivan Lanin dan Harrits Rizqi selaku penulis Recehan Bahasa #2 yang dipandu oleh Hafizh Pragitya sebagai moderator sekaligus editor dari Mizan.
Secara umum, diskusi difokuskan pada penjelasan mengenai substansi dan proses dari buku ini. Kegiatan ini juga merupakan rangkaian dari peluncuran buku yang akan dilaksanakan pada 13 Juni 2026.
Recehan Bahasa adalah seri buku yang membahas mengenai fenomena bahasa yang terjadi di masyarakat secara populer. Sesuai dengan subjudulnya, “receh tak selalu remeh” adalah nilai yang dipegang oleh Ivan dan Harrits selaku penulis pada seri kedua ini.
Menurut Harrits, “Seri pertama dari Recehan Bahasa adalah angin segar bagi pemelajar bahasa Indonesia. Kapan terakhir kali kita punya tokoh yang membahas bahasa dengan cara yang populer? Seri ini dapat menjadi pintu masuk bagi orang-orang untuk mencintai bahasa Indonesia”
Ivan Lanin juga menjelaskan alasannya mengajak Harrits untuk menulis di seri kedua ini. Menurut Ivan, kehadiran sosok Harrits menambah sudut pandang baru mengenai isu-isu bahasa yang ada. Hal itu juga yang meningkatkan kualitas dari seri Recehan Bahasa.
Hafizh juga menambahkan bahwa kolaborasi yang dilakukan oleh Ivan dan Harrits telah mengisi kesenjangan komunikasi dalam berbahasa. Jika topik kebahasaan sering kali hadir dengan bahasa yang kaku, Recehan Bahasa #2 hadir dengan pendekatan yang berbeda.
Prinsip tersebut dibuktikan dengan salah satu pembahasan yang ada di seri kedua ini, yaitu produksi kata viral.
“Seri Recehan Bahasa memang memotret fenomena kebahasaan di masyarakat. Buku ini kami anggap sebagai dokumentasi dari fenomena yang ada,” ungkap Ivan.
“Mulai dari jujurly hingga mengsedih, itu adalah kata yang diproduksi berdasarkan kreativitas para penutur bahasa. Kami mencoba menjelaskan alasan dari produk-produk bahasa tersebut” ungkapnya.
Melalui buku ini, Narabahasa berharap masyarakat dapat melihat bahasa Indonesia sebagai sesuatu yang dekat, dinamis, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Selain menjadi dokumentasi fenomena kebahasaan, buku ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kreativitas berbahasa di ruang publik.
Dengan pendekatan yang populer dan komunikatif, Recehan Bahasa #2 diharapkan dapat menjadi jembatan bagi masyarakat untuk makin mencintai bahasa Indonesia. (Zee)







