KKM 36 Untirta Sosialisasikan Pengelolaan Sampah dan Pembuatan Kompos Jerami di Desa Tanjungsari

ZETIZENS.ID – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Untirta Kelompok 36 Desa Tanjungsari menggelar Sosialisasi Pengelolaan Sampah dan Pembuatan Pupuk Kompos Jerami dengan tema “Satu Langkah untuk Bumi: Pilah Sampah, Olah Organik Menjadi Pupuk” di Aula Desa Tanjungsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Kamis (23/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai tersebut menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang dan diikuti oleh 25 masyarakat Desa Tanjungsari.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga serta memanfaatkan limbah pertanian, khususnya jerami, menjadi sesuatu yang bernilai guna.
Permasalahan sampah dan limbah pertanian masih menjadi tantangan di Desa Tanjungsari. Penumpukan sampah organik serta kebiasaan membakar jerami setelah panen berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan. Di sisi lain, sampah organik dan jerami dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk kompos.
Selain sampah organik, sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, dan jenis sampah lainnya juga dapat dikelola melalui Bank Sampah yang telah tersedia di Desa Tanjungsari.
Pemanfaatan kembali sampah tersebut diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang sekaligus memberikan nilai guna dan ekonomi bagi masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan persiapan melalui koordinasi antara mahasiswa KKM 36 dengan perangkat Desa Tanjungsari. Mahasiswa juga menyiapkan materi sosialisasi, brosur, banner, serta tempat sampah percontohan yang dibedakan berdasarkan tiga kategori warna untuk membantu masyarakat memahami praktik pemilahan sampah dari sumbernya.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Serang yang menjabat sebagai Fungsional Umum.
Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan sejumlah materi mengenai pengelolaan lingkungan, mulai dari pengenalan jenis-jenis sampah hingga pentingnya melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.
Materi juga membahas dampak pembakaran jerami dan penumpukan sampah terhadap lingkungan serta kesehatan. Masyarakat diberikan pemahaman bahwa limbah pertanian seperti jerami tidak harus dibakar setelah panen, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk pembuatan pupuk kompos.
Selain itu, masyarakat diperkenalkan dengan metode sederhana pembuatan kompos dari jerami dan sampah organik rumah tangga yang dapat diterapkan secara mandiri.
“Masalah sampah dan pembakaran jerami sudah lama terjadi di desa. Padahal, sampah organik dan jerami itu bukan limbah, tapi sumber daya. Kalau dikomposkan, kita bisa dapat pupuk gratis, tanah jadi lebih subur, dan lingkungan juga lebih bersih. Kuncinya ada pada kebiasaan kecil dari rumah masing-masing,” ujar Dani Ramdani, S.Ap*, Fungsional Umum Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Serang.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung. Masyarakat didampingi mahasiswa KKM 36 untuk mempraktikkan pemilahan sampah menggunakan tempat sampah percontohan yang telah disediakan dan diberi label sesuai kategori.
Praktik tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan karena peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga melihat dan mencoba secara langsung cara memilah sampah dari sumbernya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pendampingan awal kepada warga. Pendampingan diberikan sebagai upaya mendorong agar kebiasaan memilah dan mengelola sampah dapat terus dilakukan setelah kegiatan KKM selesai. Pada tahap evaluasi, mahasiswa mencatat tingkat partisipasi dan pemahaman masyarakat sebagai bahan untuk melihat capaian kegiatan.
Ketua KKM 36 Desa Tanjungsari, *Naufal Bayu Afrianto*, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat.
“Melalui KKM 36 kami ingin menjadi jembatan antara ilmu di kampus dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan ini kami adakan karena masih banyak warga yang membakar jerami dan membuang sampah sembarangan. Harapan kami, warga Desa Tanjungsari bisa lebih peduli lingkungan, mampu membuat pupuk kompos secara mandiri, dan mewujudkan desa yang lebih bersih serta pertanian yang berkelanjutan,” kata Naufal.
Dari pelaksanaan kegiatan, sebanyak 80 persen masyarakat yang mengikuti praktik dinyatakan telah memahami cara memilah sampah organik dan nonorganik.
Kegiatan juga mendorong peningkatan kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah dari sumbernya serta membuka pemahaman mengenai pemanfaatan jerami dan sampah organik sebagai bahan pupuk kompos.
Pemanfaatan pupuk kompos diharapkan dapat mendukung kebutuhan pertanian dan pekarangan masyarakat serta mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Pengelolaan sampah yang lebih baik juga diharapkan dapat mengurangi penumpukan sampah dan pembakaran jerami, sehingga turut mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Selain manfaat lingkungan, pemanfaatan limbah juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi baru dari bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKM 36 Desa Tanjungsari berharap pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh masyarakat dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Serang, dan mahasiswa juga diharapkan dapat terus terjalin dalam mendukung pengelolaan lingkungan serta pemanfaatan limbah pertanian secara berkelanjutan di Desa Tanjungsari. (Zee)







