Edu

Dari Sawah Tadah Hujan ke Pertanian Berkelanjutan AIRWISE Ubah Cara Warga Lamaran Kelola Air

ZETIZENS.ID – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 19 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menyelenggarakan program kerja bertajuk AIRWISE (Aksi Edukasi Irigasi, Water Saving, dan Environmental Sustainability) di Balai Desa Lamaran, Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang, pada Jumat, 25 Juli 2026.

Kegiatan ini mengusung tema “Smart Water Management for Sustainable Agriculture and Healthy Communities” dan menyasar warga serta petani setempat sebagai upaya membangun kesadaran kolektif akan pentingnya pengelolaan air yang bijak demi pertanian berkelanjutan dan lingkungan yang sehat.

Program AIRWISE dirancang sebagai rangkaian sosialisasi, edukasi, diskusi interaktif, serta demonstrasi sederhana mengenai pengelolaan air dan kesehatan lingkungan.

Melalui pendekatan partisipatif ini, mahasiswa KKM 19 Untirta berharap warga Desa Lamaran dapat menerapkan praktik irigasi yang lebih efisien, hemat air, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sekitar.

Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Lamaran ini dibuka secara resmi dengan sesi pembukaan, dilanjutkan dengan pembacaan doa, serta sambutan dari Ketua KKM 19 Untirta, Danish Arfi Suhendar.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas antusiasme dan dukungan warga Desa Lamaran terhadap terselenggaranya program AIRWISE, sekaligus berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat desa.

Acara kemudian memasuki sesi inti berupa sosialisasi yang disampaikan oleh Bapak Nuryana, S.TP., M.Si., selaku Koordinator Penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Binuang.

Dalam paparannya yang berjudul “Pengelolaan Irigasi, Pengendalian Hama, dan Pengolahan Limbah Pertanian”, narasumber mengangkat tiga persoalan yang kerap dihadapi petani di lahan sawah tadah hujan, yakni keterbatasan pengairan, serangan hama tanaman, dan penanganan limbah hasil panen yang selama ini masih sering dibakar begitu saja.

Pada bagian pengelolaan irigasi, Nuryana menjelaskan bahwa ketersediaan air di sawah tadah hujan dapat ditingkatkan melalui pembuatan instalasi pengairan seperti sumur bor, pompanisasi, pipanisasi, maupun penampung air berupa embung.

Ia juga mengingatkan pentingnya mengatur waktu tanam padi pada awal musim hujan atau saat sumber air masih tersedia, agar tanaman tidak kekurangan air di masa pertumbuhan yang krusial.

Selain itu, ia mendorong penerapan sistem irigasi hemat air melalui pola gilir giring, yakni pengaliran air secara bergiliran antar petak sawah agar pembagiannya lebih merata dan adil bagi semua petani.

Menurutnya, saluran irigasi seperti parit juga perlu dibersihkan secara rutin dari sampah, rerumputan, dan endapan lumpur agar aliran air ke sawah tidak tersumbat.

Beralih ke topik pengendalian hama, Nuryana mengimbau warga untuk rutin mengamati kondisi sawah setiap minggu agar serangan hama dapat dideteksi sejak dini sebelum menyebar luas dan merusak tanaman.

Ia menganjurkan pemanfaatan musuh alami hama seperti kumbang, laba-laba, dan kepik sebagai pengendali hama yang alami dan tanpa biaya, serta pentingnya penanaman serempak dalam satu hamparan bersama petani sekitar agar hama tidak mudah berpindah dari satu petak sawah ke petak lainnya.

Penggunaan pestisida kimia, tegasnya, sebaiknya menjadi pilihan terakhir dan hanya digunakan ketika serangan hama sudah tergolong parah, dengan dosis sesuai anjuran agar kesehatan tanah tetap terjaga.

Pada sesi pengolahan limbah pertanian, Nuryana menekankan bahaya membakar jerami sisa panen karena dapat merusak kesuburan tanah dan mencemari udara.

Sebagai gantinya, ia mengajak warga mengolah jerami menjadi kompos dengan mencampurnya bersama pupuk kandang dan mendiamkannya selama beberapa minggu hingga menyuburkan tanah, atau memanfaatkannya sebagai pakan ternak melalui proses fermentasi sederhana untuk sapi maupun kambing.

Ia turut memperkenalkan pemanfaatan sekam padi yang dapat diolah menjadi arang sekam sebagai media tanam atau campuran pupuk organik, sehingga limbah pertanian tidak lagi terbuang percuma melainkan memberi nilai tambah bagi warga.

Sesi sosialisasi ini berlangsung interaktif, ditandai dengan antusiasme warga yang aktif bertanya seputar penerapan teknik irigasi hemat air, cara mengenali hama tanaman padi, hingga langkah praktis mengolah jerami menjadi kompos.

Materi turut diperkaya dengan demonstrasi sederhana, sehingga warga dapat lebih mudah memahami dan mempraktikkan langsung apa yang telah disampaikan oleh narasumber.

Melalui program AIRWISE, mahasiswa KKM 19 Untirta berharap dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga Desa Lamaran dalam mengelola sumber daya air secara bijak, mendukung produktivitas pertanian yang berkelanjutan, serta menjaga kesehatan lingkungan di sekitar wilayah pertanian dan permukiman.

Kegiatan ini juga diharapkan mampu mempererat sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, penyuluh pertanian, dan masyarakat dalam mewujudkan desa yang mandiri, produktif, dan berwawasan lingkungan.

Program AIRWISE menjadi salah satu wujud nyata kontribusi mahasiswa KKM 19 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dalam menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang pengabdian kepada masyarakat, sekaligus menjadi langkah awal menuju terciptanya sistem pertanian dan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan di Desa Lamaran. (Zee)

Tulisan Terkait

zetizens.id