Wajah Baru Indonesia di Dunia Arab, Ini Kata Adkhilni M Shidqi

ZETIZENS.ID – Selama 10 tahun terakhir ada wajah-wajah baru WNI yang bermunculan d Arab Saudi. Mereka adalah para pekerja profesional yang mengisi posisi-posisi tidak terbayangkan selama ini. Seperti perawat, dosen, atau pramugari juga pilot.
Ini yang diungkap AM Shidqi atau Adkhilni Mudkhola Shidqi, diplomat yang menulis buku Wajah Baru Indonesia di Tanah Arab pada Diskusi dan Bedah Buku Hari Buku Nasional yang digelar di Teater Terbuka Tasikardi, Rumah Dunia, Kota Serang pada Minggu (17/5/2026).
Alumni Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan pertama ini menjelaskan, buku Wajah Baru Indonesia di Tanah Arab ini lahir dari podcast Ahlan di KBRI yang mewawancarai tokoh-tokoh Indonesia berpengaruh di Arab Saudi.
“Kalau kita ke rumah sakit dan perawatnya kebetulan sama-sama orang Indonesia, antrian kita biasanya diprioritaskan, atau diberi tahu tempat nunggu yang ada kopi gratis, atau dikasih tau dokter yang bagus dimana,” tutur diploma yang pernah bertugas di Mesir, Suriah, dan Riyadh ini.
Selain perawat, alumni SMAN 1 Kota Serang ini bahkan menyebut, ada WNI yang berprofesi sebagai pilot dan pramugari di Arab Saudi. Bahkan yang membuat rancang bangun MRT di Arab Saudi adalah orang Indonesia.
“Nah itu yang tidak terpetakan selama ini,” imbuhnya.
Adkhilni bilang, buku ini bukan untuk menggantikan wajah lama atau menganulir wajah lama WNI di Indonesia tapi untuk melengkapi. Ia menegaskan, kehadiran buku ini bukan untuk narasi tandingan tapi untuk melengkapi.
“Buku ini sebenernya semacam oleh-oleh setelah bertugas di Riyadh. Biasanya para diplomat akan menulis buku setelah selesai bertugas. Diplomat di KBRI kalau menulis buku biasanya tentang catatan perjalanan. Kalau di Arab Saudi, apa yang akan ditulis tentang Arab saudi padahal dalam setahun ada 2 juta orang Indonesia yang datang dan pergi ke Arab Saudi. WNI banyak yang sudah tahu tentang Arab. Akhirnya muncullah buku ini yang membahas wajah baru WNI di sana,” jelasnya.
Selama ini diakui Aad, begitu ia biasa dipanggil, wajah WNI diwakili oleh para asisten rumah tangga dan supir. Wajah lama itu jumlahnya sekitar 80 persen.
Sekarang kondisinya berbeda. Bahkan ada dosen-dosen dan guru besar dari Indonesia yang mengajar di Perguruan Tinggi di Arab Saudi. Bahkan di Saudi National Bank, kata Aad, Vice President-nya adalah orang Indonesia.
Dalam buku yang Ada hanya ada 27 profil yang diulas. Aad mengakui itu hanya potret kecil saja sebagai sampel.
“Buku ini hadir untuk menandingi pesimisme, dibuat untuk narasi orang-orang agar lebih relate. Ada perawat dan profesional lain dengan peluang yang lebih menjanjikan berkarier di Arab Saudi yang tengah bertransformasi,” jelas Aad.
Ade Jaya Suryani, pemantik diskusi kali ini yang juga penulis buku Perempuan Banten Pergi ke Arab berkomentar, ia menghendaki penulis tidak menyajikan orang per orang tapi penjelasan lebih komprehensif.
“Saya tertarik dengan narasi wajah baru ini. Berharap ada bagaimana transformasi ini terjadi. Dan menjelaskan berapa jumlah pekerja profesional di Arab. Ini sepertinya lebih menarik,” kata alumni Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan pertama bersama Aad ini. (Hilal)







