Angkot di Sukabumi Viral, Pakai Gas Elpiji 3 Kg

ZETIZENS.ID – Sebuah angkutan kota (angkot) di Sukabumi, Jawa Barat, viral karena menggunakan gas elpiji 3 kg sebagai bahan bakar alternatif pengganti BBM.
Inovasi ini dilakukan untuk menghemat biaya operasional hingga Rp50.000 per hari, dengan rata-rata dua tabung gas mampu digunakan untuk empat kali perjalanan (rit).
Hendra Irawan, sopir angkot di Sukabumi, memodifikasi kendaraannya agar bisa menggunakan tabung gas melon (3 kg) sebagai bahan bakar.
Penggunaan gas 3 kg dinilai jauh lebih irit daripada bensin, mampu menghemat biaya operasional hingga Rp50 ribu setiap hari.
Namun Pertamina menegaskan bahwa LPG 3 kg bukan peruntukan kendaraan dan berisiko tinggi terhadap keselamatan. Penggunaan bahan bakar alternatif seharusnya menggunakan SPBG resmi, bukan elpiji bersubsidi.
Tindakan ini muncul di tengah tingginya biaya operasional angkot, namun menghadapi sorotan terkait keamanan dan regulasi penggunaan gas bersubsidi.
Alternatif
Laman Detik Jabar membahas, angkot melintas di jalur Terminal Sukaraja-Kota Sukabumi ini memiliki suara mesin yang terdengar biasa.
Di balik kap mesinnya, tersambung tabung elpiji 3 kilogram yang menjadi sumber tenaga alternatif, sebuah pemandangan yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.
Angkot trayek 01 itu dikemudikan Hendra Irawan (53), sopir yang sudah puluhan tahun mengaspal di Sukabumi.
Ia bercerita, keputusan beralih ke elpiji bukan tanpa pertimbangan. Awalnya, ia hanya mengikuti jejak rekannya sesama sopir yang lebih dulu mencoba.
“Awalnya ikut teman saja. Dia sudah pakai duluan, saya tanya-tanya dulu soal keluhan dan kendalanya. Setelah dipertimbangkan, akhirnya saya pasang juga,” ujar Hendra, Senin (13/4/2024).
Perubahan itu perlahan membawa dampak pada pengeluaran hariannya. Hendra kini bisa menghemat biaya operasional Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per hari dibandingkan saat masih menggunakan bensin.
Dalam sehari, ia menghabiskan sekitar dua tabung gas. Satu tabung Elpiji bisa dipakai hingga empat kali perjalanan (rit). Jika dibandingkan dengan bensin, selisih biayanya terasa cukup jauh.
“Kalau pakai bensin, empat rit bisa habis sekitar Rp50 ribu. Sekarang satu tabung gas hanya Rp19 ribu,” katanya.
Dulu, Hendra mengaku membutuhkan sekitar 9 liter bensin per hari dengan biaya mencapai Rp 90 ribu. Kini, cukup dengan dua tabung Elpiji, pengeluarannya turun menjadi sekitar Rp 38 ribu.
“Alhamdulillah sangat terbantu, jadi ada sisa dari penghasilan,” ucapnya.
Selama sekitar tujuh bulan menggunakan elpiji, Hendra tidak merasakan kendala berarti pada mesin. Ia menyebut kondisi mesin tetap standar tanpa perlu penyesuaian khusus, bahkan pembakaran dinilai lebih bersih.
“Karburator aman, tidak ada servis tambahan. Pembakaran juga bagus, busi tidak cepat kotor seperti sebelumnya,” jelasnya.
Meski begitu, ia mengakui tenaga kendaraan sedikit berkurang, terutama saat melintasi tanjakan. Namun, kondisi tersebut bisa diatasi dengan cepat karena sistem bahan bakar masih bisa dialihkan ke bensin.
“Kalau nanjak memang agak kurang tenaganya, tapi bisa langsung pindah ke bensin, tinggal cabut selang saja,” tambahnya.
Untuk menekan biaya lebih jauh, Hendra biasanya membeli elpiji langsung dari agen agar mendapatkan harga yang lebih murah.
Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun sebagai sopir angkot, Hendra melihat penggunaan Elpiji sebagai solusi alternatif di tengah tingginya biaya operasional.
“Yang penting kendaraan tetap jalan dan ada sisa. Sekarang terasa lebih ringan di biaya,” pungkasnya. (Zee)







