Beeswax Kembali dengan Album Penuh

ZETIZENS.ID – Lama menjalani karirnya dengan tampil dan rilis single demi single setelah album ketiga, Beeswax kembali dengan sebuah album yang merangkum perjalanan panjang mereka melalui album penuh self titled Beeswax.
Trio emotif yang terdiri dari Bagas Yudhiswa (vokal/gitar), Putra Vibrananda (vokal/bass), dan R. Yanuar Ade Laksono (drum) ini menghadirkan sebuah rilisan yang tidak sekadar nostalgia, melainkan juga refleksi mendalam atas evolusi musikal dan personal mereka yang hadir pada 10 April 2026.
Sebagai salah satu pionir dalam skena midwest emo di Indonesia, khususnya Jawa Timur, Beeswax telah menempuh perjalanan panjang yang kini memasuki tahun ke-12.
Di mana usia 12 tahun ini sebuah proses yang tidak singkat dan dipenuhi dinamika, tantangan, serta berbagai pembaruan hingga membentuk reputasi mereka hari ini.
Berawal sebagai proyek one-man band pada 2014, Beeswax kemudian berkembang menjadi kuartet di album kedua sampai album ketiga sebelum menjadi trio seperti sekarang, dengan identitas musikal yang sejak awal kuat dipengaruhi gelombang Midwest emo era 90-an dan emo revival global di era 2010an.
Melalui album Beeswax ini, Beeswax tidak hanya menghadirkan karya terbaru, tetapi juga merayakan sekaligus mensyukuri perjalanan tersebut sebagai penanda penting atas evolusi musikal dan personal mereka yang kini hadir dengan kedewasaan baru.
Album self-titled ini menjadi titik temu antara masa lalu dan masa kini. Beeswax meninjau kembali dua rilisan awal mereka yaitu EP First Step dan LP Growing Up Late yang ditulis saat mereka masih berada di usia 20-an.
Kini, 16 lagu dalam album ini diaransemen ulang untuk merepresentasikan perkembangan selera, pengalaman, dan kedalaman emosional yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.
Rangkaian perilisan album Beeswax dimulai dari “THE BRIDGE OF THE EMPTYNESS” (Februari 2026) dan “TAKE ME HOME” (Maret 2026), hingga mencapai puncak lewat “THE MOST PATHETIC ONE ON PLANET” pada 10 April 2026 bersamaan dengan rilis album.
Lagu ini menghadirkan kolaborasi dengan Dochi Sadega dan mengangkat tema dilema menyaksikan penderitaan orang lain dari jarak dekat—menjadi benang merah album yang mengajak pendengar menghadapi masa lalu secara lebih dewasa.
Seluruh proses produksi dikerjakan mandiri oleh para personel dalam waktu tiga bulan, dengan rekaman dilakukan di Surabaya dan Malang serta dukungan tim kreatif di balik layar.
Ke depan, Beeswax memilih langkah sederhana: terus berkarya dan menjaga perjalanan tetap hidup. Dengan mengolah ulang materi lama dalam perspektif baru, mereka menjadikan album “Beeswax” sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini—membuka ruang nostalgia sekaligus menawarkan pemaknaan baru bagi pendengar lintas generasi. (Zee)







