
ZETIZENS.ID – Diam diam aku belajar mengeja rindu
menahan air mata yang jatuhnya tak pernah meminta izin
entah dari rindu yang belum sempat tumbuh
atau dari harap yang terlanjur kusemai
masih tak percaya pada takdir yang tergesa
belum sempat kita memulai kisah
namun waktu lebih dulu menutup bukunya
semesta seakan berbisik lirih
kita tidak ditulis untuk bersama.
lalu aku bertanya pada langit
mengapa ia mempertemukan dua jiwa
yang sama-sama retak
sama-sama membawa gema trauma yg belum reda.
aku kira kaulah jawaban
yang tuhan kirim diam-diam
untuk menyembuhkan yang patah
aku kira kaulah cinta
yang lama kudukan dalam sunyi
namun rupanya, aku keliru menafsirkan isyarat.
kita hanya dua garis
yang bersilang sekejap
lalu kembali kearah masing-masing.
aku kembali bertanya
pada langit
mengapa aku begitu yakin
bahwa pertemuan itu bukan
sekadar sapa, bukan
sekadar cerita singkat
melainkan awal dari kita
ternyata lagi-lagi aku salah
semesta mempertemukan kita
hanya untuk sebuah acara
bukan untuk sebuah asmara
namun aku tak menyalahkannya
justru aku berterimakasih
karena meski singkat
pertemuan itu terasa lekat
kita adalah jeda
yang indah dalam perjalanan panjang
sebuah singgah yang tak pernah tinggal
sebuah rasa yang tak sempat bernama
bagaimana kita dipertemukan
adalah rahasia waktu
dan bagaimana kita dipisahkan
adalah keputusan langit
mengenalmu adalah sebuah keniscayaan
sesuatu yang memang harus terkadi
meski bukan untuk dimiliki
dan pada akhirnya
aku akan melanjutkan langkahku tanpamu
nomon namamu
akan tetap menjadi bagian
dari bab yang tak pernah benar-benar selesai (*)
Raezuli, siswa SMAN 4 Kota Serang. Zetizens Icon 2026



