Hasil FOMC Oktober 2026: Apa Artinya bagi Rupiah hingga Desember?

ZETIZENS.ID – Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), menahan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00% dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober, sesuai perkiraan pasar.
Keputusan ini tidak bulat: dua anggota, Gubernur The Fed Lisa Cook dan Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, memilih kenaikan 0,25 poin persentase. EBC Financial Group (EBC) menilai ada tiga hal lain yang kemungkinan lebih berpengaruh terhadap rupiah hingga Desember: seberapa kuat The Fed memberi sinyal kenaikan suku bunga pada Desember, apakah Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuannya, serta apakah harga minyak tetap tinggi dan investor asing terus menjual saham Indonesia.
Rupiah memasuki periode ini di level terlemah sepanjang sejarah. Rupiah ditutup di Rp18.183 per dolar AS pada 28 Oktober, penutupan terlemah dalam sejarah, sementara kurs referensi BI (JISDOR) berada di Rp18.139 pada 27 Oktober, mendekati rekornya di Rp18.171 yang tercatat pada 8 Juni. JISDOR terbaru yang telah dipublikasikan BI tercatat Rp18.183 per dolar AS untuk 28 Oktober.
Sana Ur Rehman, Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group, mengatakan, “Sebagian besar tekanan terhadap rupiah berawal dari minyak, karena harga minyak yang lebih tinggi membuat Indonesia mengeluarkan lebih banyak dolar AS untuk impor bahan bakar dan mendorong kenaikan harga di AS. Kenaikan harga di AS memberi The Fed alasan untuk menaikkan suku bunga pada Desember, yang dapat menarik dana asing keluar dari pasar seperti Indonesia. Kondisi ini membuat Bank Indonesia harus memutuskan sejauh mana menjaga rupiah, karena suku bunga acuan yang lebih tinggi juga akan membuat pinjaman di dalam negeri lebih mahal.”
Harga Kontrak Berjangka AS Mengarah pada Kenaikan Suku Bunga The Fed di Desember
Pada 27 Oktober, kontrak berjangka suku bunga AS, yaitu kontrak yang harganya mencerminkan perkiraan investor atas arah suku bunga AS, menunjukkan peluang sekitar 93% suku bunga tidak berubah pada Oktober.
Kontrak yang sama menunjukkan peluang 83% kenaikan suku bunga pada Desember, naik dari sekitar 71% pada 23 Oktober. Kenaikan tersebut akan menyusul kenaikan suku bunga The Fed pada September, yang pertama sejak 2023.
The Fed menyatakan pertumbuhan lapangan kerja sejalan dengan pertumbuhan angkatan kerja dan tingkat pengangguran relatif tidak berubah, sementara inflasi masih tinggi.
Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan kenaikan harga energi tidak boleh meluas menjadi tekanan inflasi di seluruh perekonomian. Ia mengatakan informasi terbaru akan menjadi dasar kebijakan, tanpa memastikan kenaikan suku bunga pada Desember dalam pernyataan pembukanya.
Pada pukul 07.34 WIB, 29 Oktober, harga emas spot tercatat US$4.044,04 per troy ounce, turun 0,6% pada hari itu, setelah keputusan The Fed.
Sebagai acuan, kontrak emas Desember ditutup di US$4.074,60 per ons pada 27 Oktober, menjelang keputusan.
Bank Indonesia Menaikkan Suku Bunga Deposit Facility Menjelang Dua Rapat Berikutnya
BI menaikkan suku bunga Deposit Facility, yaitu bunga yang dibayarkan BI kepada bank atas dana yang ditempatkan di BI semalam, menjadi 5,00% dalam rapat 20–21 Oktober.
Suku bunga yang lebih tinggi ini memberi bank alasan lebih kuat untuk memegang rupiah, sementara suku bunga acuan BI-Rate tetap di 5,75%. BI mengaitkan pelemahan rupiah dengan eskalasi ketegangan di Timur Tengah, ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih ketat, serta sentimen investor asing terhadap saham Indonesia.
Dua rapat BI berikutnya jatuh pada 17–18 November dan 15–16 Desember, sepekan setelah rapat The Fed pada Desember, sehingga sinyal The Fed yang tegas dapat menambah tekanan bagi BI untuk menaikkan BI-Rate.
Harga Minyak Mendorong Inflasi AS, yang Dapat Menentukan Keputusan The Fed di Desember
Di AS, harga konsumen naik 3,7% secara tahunan hingga September, dengan harga energi naik 20,4%. Harga di luar pangan dan energi naik 2,6%, jauh lebih dekat dengan sasaran The Fed sebesar 2%, yang menunjukkan seberapa besar kenaikan berasal dari energi dan pangan.
Dengan perang di Timur Tengah yang membuat harga minyak tetap tinggi, kontrak berjangka minyak Brent, patokan harga minyak global, ditutup di sekitar US$114 per barel pada 27 Oktober. Pada Agustus, EBC mencatat bahwa kenaikan harga minyak mentah menjadi titik lemah bagi neraca perdagangan Indonesia.
Aksi Jual Saham Indonesia oleh Investor Asing Menambah Permintaan Dolar AS
Investor asing yang menjual saham Indonesia umumnya menukarkan kembali rupiah yang mereka terima ke dolar AS. Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan jual bersih saham senilai Rp94,87 triliun sepanjang Januari hingga 23 Oktober.
Keputusan penyedia indeks MSCI yang masih tertunda, yang indeksnya menjadi acuan banyak dana global, dapat memperpanjang aksi jual tersebut. Pada 15 Oktober, MSCI mengusulkan pemindahan Indonesia dari status Emerging Market ke Standalone Market, yang akan mengeluarkan saham Indonesia dari indeks emerging market milik MSCI, dengan masa penyampaian masukan hingga 30 April 2027.
EBC sebelumnya telah menyoroti risiko arus keluar dana yang ditimbulkan isu ini terhadap rupiah.
Jadwal yang Perlu Dipantau hingga Desember
29 Oktober: Data inflasi PCE AS periode September, ukuran inflasi yang paling diperhatikan The Fed.
10 November: Data inflasi AS periode Oktober, data terakhir sebelum rapat FOMC Desember.
17–18 November: Rapat Dewan Gubernur BI.
8–9 Desember: Rapat FOMC.
15–16 Desember: Rapat kebijakan BI terakhir tahun ini.
“Keputusan Oktober memberi petunjuk yang lebih sedikit dibandingkan enam pekan ke depan. Jika harga minyak tetap tinggi dan inflasi AS tidak mereda, alasan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada Desember akan semakin kuat, dan tekanan terhadap rupiah serta Bank Indonesia kemungkinan meningkat. Jika keduanya mereda, rupiah punya ruang untuk stabil menjelang akhir tahun,” pungkas Sana. (Zee)







