Putus Rantai Perundungan, Mahasiswa PLP UIN SMH Banten Gelar Sosialisasi dan Deklarasi Stop Bullying di MTsN 2 Kota Serang

ZETIZENS.ID — Dalam upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari tindakan kekerasan, mahasiswa Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Integratif Kelompok 19 Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menggelar kegiatan Sosialisasi dan Deklarasi Stop Bullying.
Kegiatan ini dilaksanakan selama empat hari, mulai dari tanggal 29 September hingga 2 Oktober 2026, menyasar peserta didik kelas VII A, B, C, D, dan E di MTsN 2 Kota Serang.
Kegiatan ini diprakarsai oleh Wiwin Sulistiyawati, mahasiswa PLP Integratif Kelompok 19, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. H. Nur Arifin, M.Pd. serta Guru Pamong MTsN 2 Kota Serang, Jazilatunnisa, S.Sos.
Materi sosialisasi dikemas secara interaktif dan mendalam. Salah satu poin utama yang ditekankan adalah dampak serius perundungan terhadap kesehatan mental remaja, mulai dari hilangnya rasa percaya diri, kecemasan berlebih, hingga depresi.
Selain itu, sosialisasi ini juga membongkar alasan mengapa aksi perundungan kerap berulang dan masih marak terjadi di lingkungan sekolah.
Salah satu faktor kuncinya adalah pola rantai perundungan, di mana korban bullying yang tidak mendapatkan pendampingan tepat sering kali berpotensi menjadi pelaku bullying di kemudian hari.
Oleh karena itu, penekanan utama dari materi ini adalah strategi kongkret untuk memutus mata rantai perundungan tersebut.
Untuk membangun empati peserta didik, kegiatan dilanjutkan dengan penayangan film pendek tentang bullying. Melalui media audiovisual ini, para siswa diajak untuk melihat, memahami, dan merasakan langsung dampak tindakan bullying dari tiga sudut pandang berbeda: sudut pandang pelaku, korban, dan saksi (bystander).
Suasana berubah menjadi haru dan khidmat saat memasuki sesi refleksi diri menggunakan teknik Butterfly Hug (pelukan kupu-kupu/memeluk diri sendiri).
Metode ini memberikan ruang bagi para siswa baik yang pernah menjadi pelaku maupun korban untuk melakukan pemulihan emosional, menyadari kesalahan, menerima diri sendiri, serta menumbuhkan rasa saling mengasihi antar sesama teman.
Setelah sesi refleksi, seluruh siswa diajak bernyanyi bersama lagu bernuansa Stop Bullying untuk mengembalikan semangat dan mempererat kebersamaan.
Kegiatan ini kemudian ditutup secara resmi dengan Deklarasi Stop Bullying, di mana seluruh siswa kelas VII menegaskan komitmen bersama dengan bertanda tangan di poster Deklarasi Stop Bullying untuk menolak segala bentuk kekerasan dan perundungan di lingkungan MTsN 2 Kota Serang.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa tidak hanya memahami bahaya bullying, tetapi juga berani menjadi pelopor kebaikan dan pelindung bagi sesama rekan di sekolah. (Zee)







