Gen Z

Kafka Mencuri Perhatian di COC Season 3 Episode 4, Nilai Sempurna untuk Recall Lips

ZETIZENS.ID – Kompetisi Ruangguru Clash of Champion (Coc) Season 3 selalu saja menghadirkan hal seru setiap episodenya. Jika episode 1 ada Alfi dan episode 2 ada Ayden, maka pada episode 4 ada Kafka yang jadi king of memori yang jago menghafal 40 bibir dan menjawab secara tepat.

Nama Kafka Bintang Pratama memang lagi banyak dibahas di medsos. Mahasiswa berbakat asal Unhan ini dikenal publik karena memiliki kemampuan ingatan luar biasa aka photographic memory di ajang kompetisi kecerdasan Ruangguru Clash of Champions (COC) Season 3.

Dia tercatat sebagai mahasiswa dari Universitas Pertahanan (Unhan) dan sebelumnya juga menarik perhatian publik dengan latar belakang pendidikannya.

<span;>Laman Ruangguru membahas, Kafka berhasil menghafal gambar bibir terbanyak dalam games Lips Recall!

Kafka sempat tidak menyangka bisa menyabet posisi pertama di game ronde 2 ini.

Biodata Kafka
Nama Lengkap : Kafka Bintang Timora
Nama Panggilan : Kafka
Tempat, Tanggal Lahir : Bekasi, 2 Maret 2007
Angkatan Kuliah : 2025
Riwayat Pendidikan : Universitas Pertahanan, SMAN 3 Bekasi

GPA : 3.83/4.00
Akun Media Sosial
Instagram: kafkabintang_
TikTok: kafkapage

Hobi  :  Olahraga (basket, calisthenic, badminton), bermain catur, bermain gitar

Prestasi Kafka
Silver Medal – Olimpiade Sains Nasional Bidang Geografi 2024
Finalis – Kompetisi Sains Ruangguru (KSR) Bidang Geografi 2024

Bagi sebagian orang, berpindah fokus dari satu bidang akademis ke bidang lain yang jauh berbeda adalah hal yang menakutkan. Namun tidak bagi Kafka Bintang. Setelah sempat menorehkan prestasi di bidang Geografi, ia kini mantap menapakkan kakinya di jalur yang penuh disiplin: Kedokteran Militer Universitas Pertahanan (UNHAN).

Di balik ketangguhan fisiknya sebagai mahasiswa militer, Kafka juga baru-baru ini mencuri perhatian publik lewat penampilannya yang memukau di ajang Clash of Champions (COC) Season 3.

Ketertarikan Kafka pada dunia akademis sebenarnya berakar dari matematika. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, ia sudah akrab dengan berbagai kompetisi Matematika dan Sains.

Menariknya, hampir semua kompetisi yang ia ikuti berhasil membawanya hingga ke babak final, bahkan beberapa di antaranya berbuah kemenangan di lomba cerdas cermat.

Hebatnya lagi, semua pencapaian itu ia raih secara mandiri. Tanpa bimbingan khusus, Kafka terbiasa mengandalkan kemampuan alaminya dan maju ke medan lomba tanpa persiapan muluk-muluk.

“Dari dulu saya lebih sering lomba tanpa persiapan dan mengandalkan kemampuan yang saya miliki saja,” kenangnya.

Memasuki masa SMA, pihak sekolah melihat potensinya dan menarik Kafka untuk mendalami Geografi. Melalui pembinaan sekolah, ia menemukan keasyikan tersendiri dalam mempelajari berbagai “trivia” bumi.

Di bidang ini pula, ia sempat menuangkan ide-ide kreatifnya dalam Field War Game (FWT) saat OSN, khususnya mengenai teori perkotaan dan model kota—sebuah topik yang menarik minatnya karena memperlihatkan bagaimana kota ditata demi memenuhi kebutuhan penduduknya.

Meski sempat bersinar di bidang Geografi, impian masa kecil Kafka tidak pernah berubah: ia ingin menjadi seorang dokter. Sadar bahwa kuliah kedokteran membutuhkan biaya yang tidak sedikit, Kafka mencari peluang beasiswa. Kesempatan itu datang dari UNHAN. Berawal dari keisengan untuk mencoba mendaftar, jalan hidupnya ternyata memang dituntun ke sana.

Secara materi perkuliahan, apa yang dipelajari Kafka di Kedokteran Militer kurang lebih sama dengan kedokteran umum, seperti: Anatomi Dasar, Fisiologi, Patologi, dan Histologi.
Namun, sebagai kampus militer, kurikulumnya diperkaya dengan materi kewarganegaraan seperti Filsafat dan Sejarah Perang. Lulusannya pun diproyeksikan untuk menjadi Perwira dengan tugas pokok sebagai Dokter Militer.

Kehidupan Kampus: Disiplin dan Keseimbangan

Perbedaan paling mencolok dari kuliah di UNHAN terletak pada pola hidup sehari-hari yang terikat aturan ketat dan jadwal yang teratur. Untuk bisa bertahan, Kafka menekankan pentingnya pemahaman dasar biologi manusia serta keseimbangan antara kemampuan akademik dan fisik.

Sejauh ini, mata kuliah favorit Kafka adalah fisiologi, ilmu yang mempelajari bagaimana organ, jaringan, dan sel dalam tubuh saling berinteraksi. Ketertarikannya pada fisiologi begitu besar hingga ia mempertimbangkan bidang ini sebagai spesialisasi yang ingin ditekuni setelah masa koas nanti.

Kehidupan sebagai mahasiswa militer tentu tidak lepas dari aktivitas fisik. Kafka telah menjadikan latihan kekuatan dan stamina sebagai bagian dari rutinitas harian.

Di luar agenda wajib kampus, ia memiliki hobi olahraga yang beragam, mulai dari calisthenics, gym, basket, hingga berenang. Ketika jenuh, ia memilih bermain gitar atau mengasah otak lewat permainan seperti rubik, catur, Seterra, dan GeoGuessr.

Meski terlihat selalu prima, Kafka mengaku pernah mengalami fase demotivasi yang berat, di mana ia merasa kehilangan apa yang telah ia bangun. Namun, ia berhasil bangkit berkat prinsip evaluasi diri yang kuat.

Tips Bangkit dari Demotivasi ala Kafka:
Dimulai dari bertanya pada diri sendiri: “Mau sampai kapan terpuruk?” Lalu, mulailah berubah dari hal kecil, cukup 1% lebih baik setiap hari. Secara konsisten, dalam setahun kita akan menjadi tiga kali lebih baik dari diri kita yang sekarang.

Kejutan

Keterlibatan Kafka dalam Clash of Champions Season 3 penuh dengan cerita unik. Awalnya, ia sempat mengurungkan niat karena pendaftaran kompetisi sudah ditutup selama tiga hari. Namun, takdir berkata lain; pihak Ruangguru justru mengundangnya langsung untuk mengikuti seleksi.

Sempat ragu mengenai masalah perizinan kampus yang ketat, jalan Kafka lagi-lagi dipermudah hingga akhirnya ia resmi menjadi salah satu cast.

Tanpa persiapan khusus, Kafka berhasil memberikan performa luar biasa. Salah satu momen paling ikonik adalah ketika ia berhasil menghafal 50 bentuk bibir dalam tantangan Lips Recall.

Rahasia di Balik Photographic Memory

Banyak penonton berspekulasi bahwa Kafka memiliki kemampuan photographic memory. Menanggapi hal ini, Kafka menjelaskan bahwa strateginya saat Lips Recall adalah dengan merekam gambar secara berurutan.
$$ \text{Proses Memori} = \text{Merekam Gambar Berurutan} \rightarrow \text{Visualisasi Potongan Gambar di Kepala} $$

Kafka mengakui bahwa ia memang butuh waktu untuk merekam objek secara detail dan tidak bisa langsung dalam “sekali potret.” Namun, lewat ajang COC S3 inilah Kafka akhirnya bisa lebih mengenal potensi terpendam dalam dirinya sendiri.

Meskipun telah meraih banyak pencapaian di usia muda—mulai dari lolos UTBK dengan bantuan tryout Ruangguru hingga menjadi bintang kompetisi akademis—Kafka tidak mau cepat puas. Ia memiliki banyak rencana untuk terus meng-upgrade diri.

Target utamanya saat ini tetap satu: fokus mendalami studi kedokterannya demi menjadi seorang Dokter Militer yang berdampak bagi bangsa. (Zee)

Tulisan Terkait

zetizens.id