Seleb

Asri Welas dan Denyut Semesta untuk Gerakan Ramah Lingkungan

ZETIZENS.ID – Asri Welas bukan hanya komedian melainkan juga pecinta lingkungan. Melalui Denyut Semesta, Asri Welas melakukan aksi nyata untuk perlindungan bumi.

Denyut Semesta adalah gerakan dan brand fesyen ramah lingkungan yang digagas oleh Asri Welas untuk mengatasi limbah tekstil.

Gerakan ini mendaur ulang sisa kain atau limbah pabrik menjadi kapas dan benang baru, lalu ditenun menjadi kain dengan pewarna alami, serta melibatkan komunitas dan perempuan adat.

Bersama WWF Indonesia, Asri Welas dan para perempuan adat suku Dayak di kabupaten Malinau mengeksplorasi pewarna alam.

Lahir dari kesadaran Asri Welas terhadap tingginya limbah pakaian, khususnya di industri hiburan, Denyut Semesta mengubah sisa kain dan limbah garmen menjadi produk fesyen baru untuk mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan.

Kain yang dihasilkan menggunakan pewarna alam. Dalam proses produksinya, Denyut Semesta juga berkolaborasi dengan WWF Indonesia serta memberdayakan perempuan adat suku Dayak di Kalimantan.

Selain ramah lingkungan, motif-motif yang dihadirkan pada kain sarat akan makna dan doa, seperti harapan akan keberkahan, cinta, dan kebijaksanaan bagi pemakainya.

Produk dari Denyut Semesta kerap mencuri perhatian dan digunakan oleh pesohor. Kain ini bahkan pernah dibuat secara khusus dan bermakna mendalam untuk dikenakan oleh Luna Maya dan Maxime Bouttier.

Ramah Lingkungan

Laman Antara membahas, artis sekaligus perancang busana Asri Welas menghadirkan produk fesyen ramah lingkungan merek Denyut Semesta guna membantu upaya penanggulangan masalah limbah tekstil dan pakaian.

Seusai acara peluncuran Vidio Shopping di Jakarta, Selasa, Asri mengatakan bahwa dia membangun Denyut Semesta dengan misi untuk memberikan “napas kedua” bagi pakaian.

Kekhawatiran terhadap peningkatan signifikan limbah tekstil di Indonesia mendorongnya untuk menghadirkan produk fesyen yang lebih ramah lingkungan.

“Aku tuh berpikir, ini kalau sampah bertambah terus-menerus siapa yang tanggung jawab? Tekstil kan tidak bisa hancur alami,” katanya kepada ANTARA.

Ia menambahkan, menurut hasil riset timbulan limbah tekstil di Indonesia sampai satu truk setiap menit.

Sebagai orang yang kerap membeli pakaian dalam jumlah besar, utamanya untuk memenuhi kebutuhan syuting, Asri merasa perlu berkontribusi dalam upaya penanganan limbah tekstil dan pakaian.

“Aku merasa, aku pun bagian dari masalah. Aku terus belanja pakaian baru untuk syuting, yang sebenarnya membeli baju baru terus itu tidak perlu kan? Jadi ini adalah bentuk kontribusiku terhadap yang telah aku lakukan,” kata dia.

Dalam proses produksi kain Denyut Semesta, limbah tekstil dan pakaian dikumpulkan, dihancurkan, dipintal menjadi benang, lalu ditenun menjadi kain baru. Proses tersebut bisa memakan waktu hingga satu bulan.

Pewarnaan kain juga dilakukan secara tradisional menggunakan bahan alami. Proses pewarnaan kain melibatkan warga Suku Dayak di Kalimantan.

“Kami ingin semuanya ramah lingkungan, tidak merusak tanah dan air,” kata Asri.

Asri menjelaskan pula bahwa Denyut Semesta digunakan sebagai nama jenama guna mempromosikan produk fesyen yang ramah lingkungan dan mengajak publik untuk lebih bijak dalam berbelanja pakaian. (Zee)

Tulisan Terkait

zetizens.id