Nusantara

Grup 1 Kopassus Gelar Workshop Pengelolaan Sampah dan Technical Meeting Lomba Desa Berkelanjutan

ZETIZENS.ID — Grup 1 Kopassus bersama Aliansi Satu Aksi (ASA) menggelar workshop Eco Waste Desa Berkelanjutan Provinsi Banten pada Sabtu, 25 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sampah serta mendorong penerapan konsep lingkungan berkelanjutan di tingkat desa.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kolonel Infanteri Dhanang Agus Setiawan, S.E., M.Si., selaku Wadan Grup 1 Kopassus; Letkol Inf Tomy Hakim G., S.Hub.Int., M.H.I., M.Tr.Mil., selaku Danyon 14 Grup 1 Kopassus; Bapak Nur Agis Aulia, S.Sos., selaku Wakil Wali Kota Serang; serta Farach Richi, S.STP., M.Si., selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Serang.

Workshop menghadirkan sejumlah materi yang memberikan pemahaman sekaligus praktik mengenai pengelolaan sampah, pemanfaatan limbah organik, penguatan kelembagaan bank sampah, hingga pengembangan inovasi lingkungan berbasis masyarakat.

Materi pertama membahas pengolahan sampah dengan teknik biokonversi menggunakan lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot yang disampaikan oleh Masrur Alawi, S.E.

Dalam pemaparannya, peserta diperkenalkan pada karakteristik sampah organik serta berbagai metode pengolahannya, seperti pengomposan, eco enzyme, dan biokonversi menggunakan maggot BSF.

Biokonversi maggot BSF dijelaskan sebagai salah satu metode pengolahan sampah organik yang dapat menghasilkan biomassa berprotein tinggi untuk pakan ternak, maggot segar maupun kering, tepung frass, pupuk organik cair, serta produk turunan lainnya.

Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai siklus hidup BSF, manfaat maggot sebagai pakan ternak dan ikan, serta potensinya dalam membantu mengurai limbah organik.

Larva BSF dapat dimanfaatkan untuk mengurai limbah organik, termasuk limbah kotoran ternak, dan proses penguraiannya tidak menimbulkan bau menyengat sehingga berpotensi diterapkan di lingkungan rumah maupun permukiman.

Materi kedua disampaikan oleh Desty Eka Putri Sari dengan topik Management Bank Sampah: Aktivasi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Komunitas.

Materi ini membahas pentingnya pengelolaan sampah berbasis komunitas, mulai dari mengenali berbagai sumber sampah yang berasal dari lingkungan perumahan, pasar, pusat perbelanjaan, sekolah, perkantoran, hingga industri.

Peserta juga diperkenalkan dengan operasional dasar pengelolaan bank sampah serta mekanisme bank sampah sebagai salah satu upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di masyarakat.

Sementara itu, materi ketiga disampaikan oleh Dr. Taufiq Supriadi yang mengangkat pengalaman pengembangan Eco EduFarm RT 08 RW 04 Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.

Dalam paparannya, ia menjelaskan bagaimana lingkungan masyarakat dapat dikembangkan menjadi ruang inovasi berbasis ekonomi sirkular yang mengintegrasikan pengelolaan sampah, ketahanan pangan, energi terbarukan, dan pemanfaatan teknologi digital.Menurut Dr. Taufiq, lingkungan masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai unit administratif, tetapi juga dapat menjadi pusat inovasi yang mampu menghasilkan solusi terhadap berbagai persoalan lingkungan dan sosial.

Pengalaman RT 08 Malaka Jaya menunjukkan bahwa inovasi dapat dikembangkan dari tingkat komunitas melalui berbagai program, mulai dari budidaya tanaman produktif, komposter komunal, bank sampah, budidaya maggot, kolam ikan, pemanfaatan energi surya, sumur resapan, hingga sistem informasi RT berbasis digital.Konsep tersebut mengedepankan prinsip People, Planet, dan Profit, dengan menghubungkan berbagai aktivitas dalam satu ekosistem ekonomi sirkular.

Sampah organik dapat diolah menjadi pakan maggot, kemudian dimanfaatkan untuk mendukung budidaya ikan dan ayam.

Sementara itu, limbah dari proses tersebut dapat kembali dimanfafaatkan menjadi pupuk organik untuk mendukung kegiatan pertanian masyarakat.Selain pengelolaan lingkungan, pendekatan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan dan membuka peluang ekonomi baru melalui pemanfaatan ruang-ruang yang tersedia di lingkungan masyarakat.

Dalam pemaparannya, Dr. Taufiq juga memperkenalkan RTOnline, sebuah sistem digital yang mendukung transparansi administrasi, validasi data warga, pengelolaan keuangan RT, bank sampah digital, hingga pengumpulan data lingkungan.

Ia menekankan bahwa keberhasilan sebuah program lingkungan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kegiatan yang dilakukan, tetapi juga oleh kemampuan membangun sebuah sistem yang dapat diterapkan dan direplikasi di wilayah lain sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah.

Rangkaian workshop ini kemudian dilanjutkan dengan technical meeting Lomba Desa Berkelanjutan, sebagai bagian dari upaya mendorong peserta untuk menerapkan pengetahuan dan praktik yang diperoleh selama kegiatan ke dalam pengelolaan lingkungan di wilayah masing-masing.Melalui kegiatan ini, Grup 1 Kopassus bersama para mitra dan pihak yang terlibat hingga termasuk dari komunitas Satu Banten, Wira Permukiman Sehat Banten, Aopgi Kota serang, Perempuan Iklim Banten, GenB kota Serang, Neragreen Indonesia yang tergabung dalam ASA berharap pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Edukasi, kolaborasi, dan penerapan inovasi di tingkat komunitas diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mewujudkan desa yang lebih bersih, produktif, dan berkelanjutan. (Zee)

Tulisan Terkait

zetizens.id