When Bulan dan Venus Bertemu di Langit 14 September

ZETIZENS.ID – Pada 14 September 2026, ada fenomena cantik banget di langit. Di atas bulan sabit, ada pendar cahaya yang tak lain Venus atau yang sering kita kenal sebagai Bintang Kejora.
Fenomena memukau ini terjadi dan ramai diperbincangkan di Indonesia pada 14 September 2026.
Secara astronomis, peristiwa ini disebut konjungsi. Konjungsi terjadi ketika dua atau lebih benda langit terlihat berada sangat berdekatan atau dalam satu garis pandang jika diamati dari permukaan Bumi.
Padahal, jarak nyata antara Bulan dan Venus di luar angkasa sebenarnya terpisah sangat jauh jutaan kilometer.
Penampakan pada malam tersebut terlihat sangat mencolok karena dua alasan utama. Pertama, fase bulan sabit muda. Bulan baru berusia sekitar tiga hari dengan tingkat pencahayaan (iluminasi) yang sangat tipis (sekitar 10–12%), memberikan bentuk melengkung yang estetik layaknya simbol sabit.
Kedua, kecerahan maksimal venus. Planet Venus kala itu sedang berada pada tingkat kecerahan tertingginya atau greatest illuminated extent atau magnitudo ekstrem), menjadikannya objek paling berkilau di langit malam setelah Bulan.
Oh ya, kalau kamu perhatikan area gelap pada piringan Bulan yang tidak terkena sinar matahari langsung, bagian tersebut masih tampak bersinar redup membentuk bulatan utuh.
Fenomena ini disebut Earthshine atau pantulan cahaya Bumi. Cahaya matahari yang mengenai permukaan Bumi dipantulkan kembali ke ruang angkasa hingga menyinari bagian gelap Bulan, membuatnya tampak indah.
Bagi pengamat di wilayah Indonesia bagian barat seperti sebagian Sumatra, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat, fenomena ini bahkan berlanjut menjadi Okultasi Venus.
Ini merupakan peristiwa langka di mana piringan Bulan bergerak melintas tepat di depan Venus, sehingga Venus seolah-olah “gerhana” dan menghilang sementara waktu di balik Bulan sebelum akhirnya muncul kembali.
Bukan Kejadian Langka
Kalau hanya melihat Bulan sabit dan Venus yang berdampingan dekat seperti pada kejadian 14 September 2026, secara astronomis fenomena ini tidak tergolong sangat langka.
Menurut data peneliti astronomi, konjungsi semacam ini terjadi cukup sering—bisa hampir setiap bulan karena Bulan mengitari Bumi dalam siklus 29,5 hari. Namun, momen yang membuat keduanya terlihat sangat presisi, kontras, jernih, dan menyerupai lambang “bulan bintang” dengan mata telanjang memang jarang terjadi.
Nah, kalau fenomena Venus benar-benar menghilang dan “ditelan” di balik piringan Bulan, peristiwa ini tergolong langka. Lembaga antariksa seperti NASA mencatat bahwa okultasi Venus di tahun 2026 hanya terjadi tiga kali di seluruh dunia, dan Indonesia beruntung menjadi salah satu jalur lintasannya.
Kesempatan menyaksikan okultasi dari lokasi spesifik yang sama sangat terbatas dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terulang.
Secara global, fenomena di malam yang sama ini juga melintasi sebagian wilayah di benua Asia lainnya, Afrika, Eropa, serta Rusia bagian barat. (Zee)







