Tim PKM-PM IPB University Larungkan Duka Remaja Panti Asuhan Lewat Suara Karinding dan Celempung

ZETIZENS.ID – Siapa sangka, getaran alat musik segenggaman tangan bisa membantu remaja menyalurkan emosi yang selama ini sulit mereka ungkapkan?
Itulah yang coba dihadirkan Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) IPB University melalui BINALAR (Bina-Aksi-Larung-Rasa), sebuah program Narrative Arts Therapy berbasis budaya Sunda di Yayasan Rumah Cahaya Cendekia (YRCC).
Melalui tahap LARUNG, seni dan musik tradisional digunakan sebagai media bagi remaja untuk mengekspresikan perasaan sekaligus mengenal dan melestarikan budaya lokal.
Dalam rangkaian kegiatan LARUNG, peserta mengikuti tiga kegiatan utama, yaitu Lalakon Sukma, Pancak Wiraga, dan Gema Laras. Peserta tidak hanya diperkenalkan pada seni tradisional, tetapi juga terlibat langsung dalam aktivitas seni dan musik sebagai bagian dari proses ekspresi diri.
Pada kegiatan Gema Laras, peserta memainkan berbagai alat musik tradisional, seperti angklung, celempung, dan karinding. Peserta diajak untuk mencoba secara langsung menghasilkan bunyi, mengikuti irama, serta bermain bersama.
Aktivitas tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk mengekspresikan perasaan melalui musik dalam suasana yang menyenangkan dan kolaboratif.
Salah satu peserta berinisial N mengaku mendapatkan pengalaman baru dari kegiatan tersebut.
“Aku nggak nyangka ternyata alat musik tradisional Sunda banyak banget. Selama ini aku cuma tahu angklung. Bahkan ini pertama kalinya aku melihat dan memainkan celempung serta karinding,” ungkapnya.
Ilham Holik, selaku penanggung jawab kegiatan LARUNG, menjelaskan alasan pemilihan alat musik tradisional dalam program BINALAR.
“Kami berharap anak-anak dapat melarungkan emosi mereka melalui musik. Karena itu, kami memilih alat musik yang mudah dimainkan agar lebih diterima oleh peserta. Setiap instrumen memiliki karakter suara yang unik dan mampu menjadi sarana bagi peserta untuk mengekspresikan perasaan yang selama ini sulit mereka sampaikan,” jelasnya.
Penggunaan alat musik tradisional dalam LARUNG tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi emosi. Berdasarkan rancangan program BINALAR, pemilihan angklung, celempung, dan karinding juga menjadi upaya untuk memperkuat identitas serta mengenalkan kembali seni budaya lokal kepada remaja. Pendekatan ini membuat proses ekspresi emosi berjalan beriringan dengan pengenalan dan pelestarian budaya Sunda.
Bagi Tim PKM-PM IPB University, LARUNG menjadi bukti bahwa seni dan budaya tradisional dapat memiliki fungsi lebih luas dari sekadar warisan budaya. Melalui musik, gerak, dan aktivitas seni, budaya dapat menjadi ruang bagi remaja untuk mengekspresikan diri, membangun kepercayaan diri, serta menemukan cara baru dalam memaknai pengalaman emosional mereka. (Ilham)







