Edu

Mahasiswa KKM Literasi 23 Untirta Gelar Seminar Sekolah Inklusi, Dorong Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua Wujudkan Pendidikan Setara

ZETIZENS.ID — Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Literasi Untirta Kelompok 23 Desa Bulakan, Mengadakan Kegiatan Seminar Pendidikan yang bertema “Sosialisasi Sekolah Inklusi: Membangun Pemahaman Bersama melalui Kolaborasi Sekolah dan Parenting untuk Mewujudkan Pendidikan yang Setara” pada Sabtu (25/7/2026).

Dengan Bimbingan yang diberikan oleh Dosen Pendamping Lapangan Ibu Prof. Dr. Rida Oktorida Khastini, S.Si., M.Si.

Kegiatan yang bertujuan memberikan pemahaman konsep sekolah inklusi, dan hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang setara, serta pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam mendukung tumbuh kembang serta proses belajar anak sukses dijalankan.

Pemateri, Nur Ahdi, S.Pd., menjelaskan bahwa pendidikan inklusi menerima segala perbedaan, termasuk kondisi setiap anak. Menurutnya, dengan menerima perbedaan tersebut, kita telah menerapkan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam dunia pendidikan. Ia juga menyampaikan bahwa setiap masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan yang layak.

“Pendidikan inklusi menerima segala perbedaan, sampai pada kondisi setiap anak. Ketika kita menerima perbedaan itu, sebenarnya kita sedang menerapkan nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam dunia pendidikan. Semua masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, berhak mendapatkan pendidikan yang layak’’ jelas Nur Ahdi.

Ia juga menyampaikan bahwa setiap masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan yang layak.

Oleh karena itu, apabila pemerintah belum dapat mendirikan SLB di setiap daerah, sekolah reguler dapat dikembangkan menjadi sekolah inklusi agar akses pendidikan dapat dirasakan oleh semua anak.

‘’Jika pemerintah belum bisa mendirikan SLB di setiap daerah, mengapa sekolah reguler tidak kita jadikan sebagai sekolah inklusi agar semua anak memiliki kesempatan belajar yang sama?” ttambah Nur Ahdi

Peserta pada kegiatan ini, Ratna, selaku guru pada SDN Bulakan II mengaku memperoleh banyak wawasan baru setelah mengikuti seminar ini.

Menurutnya seminar ini memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai konsep sekolah inklusi dan bagaimana cara menangani anak dengan beragam kebutuhan di lingkungan sekolah.

“Kami mendapatkan banyak ilmu tentang sekolah inklusi, terutama mengenai bagaimana penanganan terhadap anak-anak dengan berbagai kondisi. Jika nanti kami menemui anak-anak seperti yang dipaparkan dalam seminar, tentu kami jadi lebih tahu bagaimana harus menyikapinya,” ujarnya.

Sementara itu, Eha anggota Kelompok KKM Literasi 23 Bulakan yang menjadi penyelenggara kegiatan ini berharap sosialisai sekolah inklusi dapat meningkatkan pemahaman guru dan orang tua mengenai pentingnya pendidikan yang setara bagi setiap anak.

“Harapannya, sekolah inklusi bisa benar-benar diterapkan sehingga tidak ada lagi pembedaan terhadap hak anak. Semua orang tua dan guru juga diharapkan memahami bahwa setiap anak, termasuk anak yang memiliki hambatan dalam pembelajaran, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan,” jelasnya. (Zee)

Tulisan Terkait

zetizens.id