LUSANT Membawa Ketulusan Tentang Mencintai Tanpa Memiliki Melalui Nomor Debut “Tak Pernah Jadi Rumah”
ZETIZENS.ID – Penyanyi solo pendatang baru, Lusant, resmi memperkenalkan langkah pertamanya di industri musik Indonesia melalui single debut berjudul “Tak Pernah Jadi Rumah” yang akan dirilis di seluruh platform musik digital.
Mengusung nuansa emotional pop, “Tak Pernah Jadi Rumah” hadir sebagai sebuah refleksi tentang cinta yang tulus, pengorbanan yang tak selalu berujung kebersamaan, serta proses belajar mengikhlaskan seseorang yang tak pernah benar-benar menjadikan kita tempat pulang.
Lagu ini lahir dari pengalaman pribadi Lusant yang kemudian berkembang menjadi cerita yang terasa dekat dengan banyak orang.
Tentang seseorang yang telah memberikan seluruh perhatian, waktu, dan perasaannya, namun pada akhirnya tetap tidak mampu memiliki hati orang yang dicintai. Meski begitu, cinta yang tulus tetap menyisakan doa agar orang tersebut menemukan kebahagiaannya, walaupun bukan bersama dirinya.
“‘Rumah’ dalam lagu ini bukanlah bangunan, melainkan simbol dari tempat kita merasa diterima, nyaman, dan ingin kembali. Kadang kita sudah berusaha menjadi tempat itu bagi seseorang, tetapi ternyata kita memang tidak pernah menjadi rumah baginya,” ujar Lusant.
Proses penulisan hingga produksi “Tak Pernah Jadi Rumah” memakan waktu sekitar tiga minggu. Dalam pengerjaannya, Lusant menggandeng Double D Production, yang digawangi oleh Ncex dan Yoga Patria sebagai composer sekaligus arranger.
Nama Yoga Patria sendiri telah dikenal sebagai gitaris sekaligus penulis lagu utama band pop rock asal Bandung, Nineball, yang melahirkan sejumlah karya populer, termasuk lagu “Hingga Akhir Waktu”.
Sementara Ncex juga memiliki pengalaman panjang di industri musik Indonesia, salah satunya sebagai arranger album Sesungguhnya milik Joeniar Arif.
Kolaborasi tersebut menghasilkan aransemen yang dibangun secara bertahap. Lagu dimulai dengan nuansa yang tenang, kemudian berkembang menuju klimaks emosional yang memperkuat makna setiap lirik. Karakter vokal Lusant juga menjadi salah satu elemen utama yang membawa pendengar menyelami setiap fase emosi dalam lagu ini.
Sebagai debut, Lusant memilih “Tak Pernah Jadi Rumah” karena merasa lagu ini paling mewakili identitas musikal dan perjalanan emosinya sebagai seorang musisi.
Ia ingin memperkenalkan warna musik yang ia sebut sebagai emotional pop, sebuah pendekatan yang menitikberatkan pada kekuatan cerita, dinamika aransemen, dan penyampaian emosi secara jujur.
Influence musikal Lusant banyak dipengaruhi oleh Korean emotional pop dan musik gospel, dua genre yang menurutnya memiliki kemampuan kuat dalam menyampaikan emosi melalui melodi, harmoni, hingga karakter vokal.
Lebih dari sekadar lagu patah hati, “Tak Pernah Jadi Rumah” juga mengajak pendengarnya memahami bahwa merelakan bukanlah bentuk kekalahan, melainkan proses menerima kenyataan dengan hati yang lebih lapang.
Lagu ini menjadi pengingat bahwa cinta yang tulus terkadang diwujudkan lewat keberanian untuk melepaskan dan tetap mendoakan kebahagiaan seseorang.
“Bagi siapa pun yang pernah mencintai dengan sungguh-sungguh tetapi tidak bisa memiliki, semoga lagu ini bisa menjadi teman. Tidak semua cinta harus berakhir dengan memiliki, tetapi semua cinta bisa mengajarkan kita tentang keikhlasan,” kata Lusant.
Single ini juga menjadi pintu pembuka menuju EP perdana Lusant yang akan dirilis secara bertahap. EP tersebut akan berisi tiga lagu yang saling terhubung sebagai rangkaian cerita mengenai kehilangan, luka, dan proses berdamai dengan diri sendiri.
Melalui karya perdananya, Lusant berharap dapat menghadirkan lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan. Ia ingin setiap pendengar menemukan ruang untuk mengenali emosinya sendiri dan merasa tidak sendirian dalam menghadapi proses mencintai, kehilangan, maupun mengikhlaskan. “Tak Pernah Jadi Rumah” akan resmi tersedia di seluruh layanan streaming digital. (Sobri)







