
ZETIZENS.ID — Narabahasa merayakan peluncuran buku Recehan Bahasa #2 yang jatuh pada Sabtu, 13 Juni 2026. Acara yang dilaksanakan di PDS H.B. Jassin, Cikini, Jakarta tersebut bertajuk Pesta Receh.
Melalui Pesta Receh, Narabahasa bersama Penerbit Mizan mengundang masyarakat untuk menikmati bahasa dengan cara yang lebih santai, interaktif, dan menghibur.
Pesta Receh terdiri atas rangkaian kegiatan berupa membaca senyap, diskusi buku Recehan Bahasa #2, hingga kuis kebahasaan berhadiah.
Acara ini diharapkan dapat menjadi ruang temu bagi pembaca, komunitas, dan pencinta bahasa untuk merayakan budaya membaca sebagai pengalaman yang hangat dan komunal.
Ivan Lanin dan Harrits Rizqi sebagai penulis, Hafizh Pragitya sebagai editor, dan Innezdhe Ayang sebagai editor dan peneliti sastra hadir sebagai pembicara dalam sesi diskusi buku yang tidak hanya membahas buku Recehan Bahasa #2, tetapi juga fenomena-fenomena kebahasaan pada zaman sekarang. Ivan Lanin membuka sesi diskusi dengan menyampaikan pendapatnya mengenai diksi unik yang bermunculan belakangan ini.
“Bahasa berkembang sesuai dengan generasinya. Istilah gaul atau slang akan tercipta, baik sengaja maupun tidak, pada tiap generasi untuk menunjukkan identitas mereka. Bukan generasi baru, melainkan generasi lama yang akan menyesuaikan diri,” ujar Ivan.
Selanjutnya, Harrits Rizqi menyampaikan alasannya menyoroti kata-kata yang dianggap “receh” dan mengangkatnya menjadi materi pada buku Recehan Bahasa #2.
Menurut Harrits, “Sebuah kata mengandung pemikiran penuturnya. Jika suatu kata ‘mati’ atau tidak digunakan lagi, pemikiran penuturnya juga ‘mati’.”
Ia juga mengungkapkan bahwa Recehan Bahasa #2 diterbitkan sebagai upaya untuk merawat budaya pemikiran yang telah melahirkan kata-kata yang dianggap “receh”.
Hafizh sebagai editor buku ini mengungkapkan pendapatnya mengenai fenomena kebahasaan yang sering kali menjadi perdebatan di masyarakat.
Menurut Hafizh, “Selain fenomena bahasa yang dekat, seperti galgah dan kapitil, ada juga fenomena seperti perdebatan apakah sawit merupakan pohon atau bukan, dan itu dijawab di buku ini.”
Terakhir, Innezdhe menyoroti fenomena tersebut dari sudut pandang dunia sastra. “Jika memang Badan Bahasa hanya ingin merekam kata, silakan saja.
Faktanya kita tidak menggunakan suatu kata hanya karena ingin menyebarkannya, tetapi juga merawat sejarah dan penggunaannya,” ujar Innezdhe.
Narabahasa berharap acara ini dapat menjadi pengingat bahwa bahasa memiliki peranan penting dalam mendidik bangsa. Seluruh kata yang diciptakan, dikembangkan, dan direkam adalah bentuk yang perlu dipertanggungjawabkan sebagai kearifan masyarakat Indonesia.
Narabahasa berharap buku Recehan Bahasa #2 yang ringan dan ringkas dapat mengenalkan masyarakat pada pemikiran lintas generasi dan pemikiran kolektif bangsa Indonesia yang jarang disorot. (Zee)







