Finance

Sedikit yang Tahu, Timothy Ronald Dulu Jualan Pomade dan Sedotan hingga Jadi Investor Muda & Bikin Sekolah Gratis

Bukan cuma punya konten edukasi kripto yang tajam, perjalanan Timothy Ronald ternyata di awali dari hal yang membuatnya berbeda.

Zetizens.id – Langkah orang sukses memang berbeda dengan usia sepantarannya. Bayangin deh, pada umur 14 tahun nggak banyak anak muda yang mau mulai udaha kecil-kecilan, namun Timothy Ronald sudah fokus memilih jalannya sendiri.

Pada saat yang lain mungkin lagi sibuk mabar atau menggalau soal gebetan, Timothy Ronald udah punya mindset yang beda. Tanpa modal “orang dalam” atau koneksi sultan, dia mulai mengumpulkan pundi-pundi Rupiah dengan cara yang nggak disangka, yaitu jualan pomade dan sedotan stainless steel.

Bukan sekadar iseng, hasil jualan itu dia tabung buat satu misi besar: masuk ke pasar modal. Sementara anak-anak seusianya lagi asyik belanja barang hypebeast, Timothy justru sibuk mempelajari grafik saham dan investasi.

“Banyak orang nunggu punya uang banyak dulu baru investasi. Padahal, justru investasi itu yang bikin uang lo jadi banyak. Start early, start now,” kata Timothy Ronald lugas.

Dengan disiplin dan visi jangka panjang, Timothy tidak hanya menghasilkan uang tambahan namun ia melipatgandakannya.

Di usia 19 tahun, ia mendirikan Ternak Uang, sebuah platform edukasi finansial yang dengan cepat menjadi fenomena nasional. Ternak Uang tumbuh pesat dan akhirnya diakui sebagai salah satu startup dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia, termasuk dalam daftar LinkedIn Top Startups 2022.

Namun, Timothy tidak berhenti di sana, dia melihat masa depan di aset digital. Akhirnya, muncul Akademi Crypto. Tujuannya simpel tapi berani: bikin orang Indonesia melek teknologi blockchain dan nggak cuma jadi penonton di tengah perubahan sistem keuangan global.

Bukan cuma soal cuan, kesuksesan Timothy nggak mau dinikmati sendiri. Dia membuktikan kalau jadi investor sukses itu juga harus punya dampak sosial. Lewat inisiatif filantropinya, Timothy meninggalan warisan kebaikan dengan membangun 5 sekolah di daerah yang kurang terlayani, mulai dari Blitar, Lombok, Sumba, sampai Kupang.

Dia ingin anak-anak di sana punya kesempatan yang sama buat bermimpi besar, persis kayak apa yang dia lakukan dulu.

Perjalanan Timothy bukan tanpa tantangan. Seperti banyak tokoh yang mendorong perubahan nyata, ia kerap menghadapi keraguan, kritik, bahkan upaya yang bertujuan melemahkan.

Namun baginya, semua itu adalah bagian tak terpisahkan dari proses membangun sesuatu yang berarti. Ia percaya: siapa pun yang cukup berani untuk bergerak maju akan selalu mengundang perlawanan dan justru di situlah karakter sesungguhnya diuji. Karakter asli seseorang itu juga jadi bukti bahwa saat seseorang ditekan, akan terlihat aslinya.

Pelajaran yang bisa diambil buat kita semua adalah nggak masalah lo mulai dari jualan barang kecil di sekolah atau dari kamar kosan. Titik awal lo sekarang nggak bakal nentuin garis finish lo nanti. Kuncinya cuma satu: disiplin, berani ambil risiko, dan jangan lupa kasih dampak buat orang lain. (*)

Al Sobri

Senang menyapa meski kadang nggak balik disapa. Suka berlari meski kadang nggak dapat medali. Journalist.

Tulisan Terkait

Back to top button
zetizens.id