Lailatul Qadar, Malam Istimewa di Bulan Ramadan

ZETIZENS.ID – Tidak terasa ya Zet, Ramadan sudah memasuki hari ke-21. Nah, malam-malam gankilt di sepuluh hari terakhir banyak yang iktikaf di masjid dan rumah untuk berburu Lailatul Qadar.
Kamu pasti pernah dengar dari film, lagu, podcast, ceramah ustaz, atau penjelasan guru di kelas atau pesantren kilat tentang malam istimewa saat bulan Ramadan bernama Lailatul Qadar ini? Cari tahu yuk.
Lailatul Qadar adalah malam kemuliaan di bulan Ramadan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (setara lebih dari 83 tahun), di mana Alquran pertama kali diturunkan.
Malam ini dipenuhi keberkahan, rahmat, dan ampunan Allah, di mana malaikat turun ke bumi membawa ketenangan.
Keistimewaan
Lailatul Qadar dikenal juga sebagai Malam Seribu Bulan. Ibadah pada malam ini pahalanya lebih baik daripada ibadah selama 1.000 bulan.
Malam ini jadi istimewa karena waktu turunnya Alquran yakni malam istimewa saat Alquran diturunkan dari Laufil Mahfuz ke langit dunia.
Lailatul Qadar juga disebut sebagai malam penentuan, malam ditetapkannya takdir, alur, dan nasib manusia untuk satu tahun ke depan.
Ciri-cirinya banyak disebut sebagai malam yang tenang, damai, tidak panas maupun dingin, dan pagi harinya matahari terbit dengan lembut tanpa sinar terik.
Malam Ganjil
Lailatul Qadar umumnya terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.
Umat Muslim dianjurkan meningkatkan ibadah seperti iktikaf, salat malam, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan berzikir. Doa yang dianjurkan: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, mencintai ampunan, maka ampunilah aku).
Ya, Lailatul Qadar ada dan terjadi pada zaman Nabi Muhammad SAW. Bahkan, malam kemuliaan ini secara khusus diberikan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad sebagai bentuk kemuliaan, di mana beribadah di dalamnya lebih baik daripada seribu bulan. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat pun rutin mencarinya, khususnya di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.
Lailatul Qadar berkaitan erat dengan turunnya Alquran (QS. Al-Qadr). Lailatul Qadar diberikan sebagai fasilitas bagi umat Nabi Muhammad SAW yang usianya lebih pendek dibanding umat terdahulu, namun ingin mendapatkan pahala besar.
Nabi Muhammad SAW menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan i’tikaf dan ibadah untuk menggapai malam tersebut.
Terdapat riwayat kisah di mana Nabi Muhammad SAW dan para sahabat melihat tanda-tanda Lailatul Qadar.
Tanda
Tanda-tanda malam Lailatul Qadar menurut hadits adalah suasana malam yang tenang, damai, dan sejuk (tidak terlalu panas/dingin), angin bertiup lembut, dan pagi harinya matahari terbit cerah, putih, tidak menyilaukan. Langit bersih, tidak mendung, dan tidak ada gangguan suara binatang malam yang bising.
Suasana malam yang sangat tenang. Malam terasa damai, tenang, dan tidak terlalu panas atau dingin. Angin berhembus sepoi-sepoi dan lembut.
Pada pagi harinya, matahari terbit dengan sinar yang tidak terlalu panas atau menyilaukan, tampak putih dan lembut.
Langit malam tampak cerah, jernih, dan tidak berawan (terutama saat bulan purnama).
Individu yang beribadah merasakan ketenangan batin yang mendalam, nikmat dalam berdoa, dan hati terasa lebih lembut.
Untuk tanda-tanda non-fisik menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, salah satu tanda adalah hati yang merasa sangat tersentuh, timbul perasaan haru yang membuat air mata mengalir, serta dorongan kuat untuk beribadah dan bersedekah.
Tanda-tanda ini umumnya dirasakan dan dikenali setelah malam tersebut berlalu. Fokus utamanya adalah meningkatkan ibadah (itikaf, salat, baca Alquran) di sepuluh malam terakhir Ramadan. Yuk iktikaf dan mencari Lailatul Qadar. (Zee)







