Dampak Bullying Verbal terhadap Kepercayaan Diri Siswa dan Upaya Pencegahannya

ZETIZENS.ID – Bullying verbal telah menjadi salah satu masalah yang sudah berlangsung lama terjadi di sekolah, namun hal tersebut sering kali dianggap sebatas candaan atau lelucon. Padahal, tindakan seperti ejekan, penghinaan, pemberian julukan buruk, dan sindiran yang menyakitkan bisa menyebabkan dampak psikologis yang serius.
Keadaan ini semakin sangat menghawatirkan, karena pada saat ini siswa-siswa mulai menganggap hal tersebut sebagai hal yang normal dan bagian dari cara mereka berinteraksi sehari-hari.
Inilah inti permasalahan yang serius: karena pada saat kekerasan dibungkus dalam bentuk hiburan, korban terpaksa merasa bahwa rasa sakit sebagai sesuatu yang biasa.
Melalui kegiatan PKM yang dilaksanakan di SMKN 1 Kragilan, terlihat bahwa sebagian besar siswa sebenarnya belum menyadari bahwa tindakan verbal yang mereka anggap suatu hal yang sepele dapat tergolong sebagai salah satu bentuk bullying yang dapat merugikan kedua belah pihak.
Kesempatan untuk berkomunikasi membantu mereka memahami bahwa kata-kata yang selama ini diucapkan tanpa pikir panjang bisa merusak rasa percaya diri teman-teman mereka yang menjadi korban.
Beberapa siswa bahkan mengaku pernah menjadi korban bullying, merasa malu dan rendah diri, mengalami kesulitan dalam berinteraksi, hingga enggan atau sulit berbicara di depan umum karena pernah dipermalukan dengan kata-kata.
Fakta bahwa bullying verbal dapat mengganggu rasa percaya diri bukanlah hal baru. Siswa yang terus-menerus menerima perlakuan verbal yang negatif cenderung menarik diri, merasa tidak berarti, serta memicu kekhawatiran tentang pandangan ataupun penilaian orang ain terhadap dirinya.
Dampak ini tidak hanya mengganggu perkembangan psikologis tetapi juga berdampak pada prestasi akademik dan kemampuan bersosialisasi mereka. Padahal, sekolah yang semestinya menjadi tempat yang aman untuk tumbuh kembang justru terasa tidak aman, dan berubah menjadi lingkungan penuh kecemasan.
Meskipun demikian, kegiatan PKM juga menunjukkan hasil positif. Setelah sosialisasi, siswa mulai memperlihatkan perubahan dalam perilakunya: mereka menjadi lebih berhati-hati dalam berbicara, memahami pentingnya saling menghormati, dan mulai menyadari bahwa komunikasi yang baik dapat menciptakan suasana belajar yang tentram dan damai.
Antusiasme mereka dalam berdiskusi simulasi mencerminkan keinginan yang kuat untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih mendukung dan bebas dari bullying verbal.
Dengan kondisi ini, upaya pencegahan terhadap bullying verbal bukan lagi hanya pilihan, tetapi suatu keharusan. Sekolah seharusnya membangun budaya komunikasi yang positif dan tidak mengizinkan adanya bentuk penghinaan apapun.
Edukasi mengenai bahaya bullying perlu dilakukan secara terus-menerus, bukan hanya sekali. Siswa juga perlu dilatih dalam keterampilan komunikasi yang tegas, sehingga mereka berani menyampaikan ketidakpuasan jika diperlakukan tidak adil, tanpa takut dianggap lemah atau berlebihan.
Pada akhirnya, membangun rasa percaya diri siswa bukan hanya menjadi tugas masing-masing individu, tetapi juga tanggung jawab seluruh lingkungan sekolah.
Bullying verbal harus dilihat sebagai masalah yang serius, bukan hanya sekadar bahan lelucon. Melalui edukasi, pendampingan, dan pembiasaan perilaku positif, kita bisa menciptakan sekolah yang aman dan nyaman, di mana setiap siswa dapat berkembang tanpa rasa takut, serta memiliki kepercayaan diri untuk mengembangkan potensi terbaik mereka. (*)
Ditulis oleh Zelda Ristiyana, Cinta Dela Saputri, Wahidatul Nabilla A, Herlida, dan Muhtadi mahasiswa universitas Pamulang Serang, semester 3.







