Panjang Mulud di Banten Viral, Dikenal Luas di Media Sosial

ZETIZENS.ID – Meski sudah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu, Panjang Mulud di Banten menjadi sangat populer di media sosial pada tahun ini. Dan diulas di berbagai program televisi.
Panjang Mulud merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Banten, termasuk di Kota dan Kabupaten Serang, untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Meski perayaan maulid Nabi secara nasional pada 25 Agustus, namun Panjang Mulud di Serang digelar di berbagai hari.
Tradisi Panjang Mulud ini mencolok karena menghadirkan replika kreatif. Warga membuat hiasan atau replika yang disebut “Panjang” dengan bentuk unik seperti masjid, perahu, rumah, mobil, hingga pesawat.
Panjang dihiasi dengan berbagai barang kebutuhan seperti sembako, pakaian, perabotan rumah tangga, perlengkapan salat, hingga uang tunai.
Replika ini diarak keliling kampung diiringi tabuhan marawis dan lantunan selawat sebelum dibawa ke masjid atau lapangan.
Puncak acara diisi dengan Ngeropok, yaitu pembagian atau perebutan isi bingkisan Panjang secara bersama-sama untuk dibagikan kepada warga, ustaz, anak-anak, hingga kaum duafa.
Abad 16
Tradisi Panjang Mulud sudah ada sejak abad ke-16 pada masa kejayaan Kesultanan Banten. Namun, perayaan secara massal yang melibatkan masyarakat luas baru dimulai pada abad ke-17 di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1682).
Ada dua fase penting dalam perkembangan sejarah tradisi ini:
1. Era Kesultanan Banten (Media Dakwah)
Dimulai sejak Sultan Banten pertama, Sultan Maulana Hasanuddin, dan Sultan kedua, Sultan Maulana Yusuf (1570–1580), untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Perayaan massal berada di bawah kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa, tradisi ini digelar secara besar-besaran sebagai sarana syiar Islam, pemersatu rakyat, sekaligus ekspresi rasa syukur.
FYI, istilah “Panjang” merujuk pada wadah atau kereta hias besar, berasal dari kata Sanskerta pajang yang berarti hiasan, sedangkan “Mulud” merujuk pada bulan Rabiul Awal.
2. Pasca-Runtuhnya Kesultanan (Menyebar ke Masyarakat)
Setelah Kesultanan Banten runtuh, upacara perayaan tidak lagi terpusat di lingkungan istana.
Tradisi ini kemudian menyebar dan diadopsi langsung oleh masyarakat di tingkat kampung, pesantren, hingga masjid-masjid di seluruh wilayah Serang dan sekitarnya hingga hari ini.
Pernak-pernik
Kembang telur atau telur rebus hias yang jadi ciri khas utama melambangkan simbol kelahiran dan fase kehidupan. Kulit telur menggambarkan iman, putih telur menggambarkan islam, dan kuning telur menggambarkan ikhsan.
Sementara sembako dan makanan yang disajikan berupa beras, minyak, dan mi instan menyimbolkan ketahanan pangan dan kewajiban manusia untuk saling berbagi rezeki kepada sesama yang membutuhkan.
Selain itu, ada pakaian dan perlengkapan salat seperti sarung, mukena, atau baju baru bermakna ajakan untuk selalu menjaga kesucian dan meningkatkan kualitas ibadah setelah merayakan kelahiran Rasulullah.
Uang tunai kertas yang juga dihadirkan pada Panjang Mulud, mlambangkan keberkahan ekonomi.
Untuk membuat perayaan yang megah hingga terkumpul puluhan juta rupiah, warga Serang mengandalkan sistem swadaya. Biasanya, jauh-jauh hari sebelum bulan Mulud (Rabiul Awal), panitia tingkat RT atau RW sudah dibentuk untuk menghimpun dana kolektif dari setiap kepala keluarga sesuai kemampuan mereka. (Zee)







