Nusantara

IVAXCON 2026: Ratusan Tenaga Kesehatan Bersinergi

Dorong Kepercayaan Publik terhadap Imunisasi

ZETIZENS.ID – Rangkaian kegiatan IVAXCON 2026 yang diselenggarakan oleh MSD Indonesia, ditutup dengan Simposium Ilmiah yang mempertemukan ratusan tenaga kesehatan dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari kesehatan anak, penyakit dalam, obstetri ginekologi, hingga dermatovenerologi dan kedokteran umum.

Mengusung tema besar “Let’s Spread Stories That Matter”, forum ini tidak hanya menyoroti perkembangan data klinis terbaru, tetapi juga menghadirkan cerita dan realitas tantangan imunisasi di lapangan sebagai dasar penguatan solusi kolektif bagi ketahanan kesehatan nasional.

Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. Andi Saguni, M.A, serta Managing Director MSD Indonesia, George Stylianou.

Sesi ini turut menghadirkan para pakar kesehatan terkemuka sebagai panelis diskusi, termasuk Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K), serta Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD-KAI, FINASIM, yang bersama-sama membuka ruang dialog lintas disiplin untuk memperkuat kepercayaan publik dan kolaborasi dalam penguatan program imunisasi nasional.

Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. Andi Saguni, M.A, dalam sambutannya menyampaikan, “Pemerintah terus berkomitmen memperkuat program imunisasi nasional sebagai bagian dari transformasi sistem kesehatan, khususnya dalam pilar pelayanan kesehatan primer. Di tengah tantangan disinformasi mengenai vaksin, tenaga kesehatan memiliki posisi strategis dalam memberikan edukasi yang berbasis bukti ilmiah, menjelaskan manfaat dan keamanan vaksin, serta membangun kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi. Apresiasi kepada MSD Indonesia dan seluruh pihak yang menyelenggarakan Simposium Ilmiah IVAXCON ini, melalui kolaborasi kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, industri, dan masyarakat, kita dapat memastikan bahwa setiap individu memperoleh perlindungan optimal dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.”

Senada itu, Managing Director MSD Indonesia, George Stylianou menyampaikan, “Tantangan kesehatan yang dihadapi masyarakat saat ini bukan hanya terkait akses, melainkan pada kepercayaan publik terhadap imunisasi yang seringkali dipengaruhi oleh misinformasi. Melalui IVAXCON 2026, MSD menghadirkan ruang kolaborasi lintas disiplin bagi para tenaga kesehatan untuk saling berbagi bukti ilmiah dan pengalaman nyata dari lapangan. Kami percaya bahwa setiap data dan cerita yang dibagikan dapat memperkuat kita dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat sehingga tercapai perlindungan kesehatan bagi setiap generasi di Indonesia.”

Imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan yang dapat dilakukan karena berperan penting dalam pencegahan dan pengendalian penyakit menular. Namun demikian, fenomena penolakan atau keraguan terhadap imunisasi (vaccine hesitancy) menjadi tantangan serius bagi program imunisasi nasional. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari aspek sosial, budaya, keyakinan keagamaan, hingga meningkatnya arus informasi yang tidak valid di media sosial.

Memahami situasi ini, dan dalam rangka memperingati Pekan Imunisasi Dunia 2026, MSD Indonesia kembali menyelenggarakan IVAXCON 2026, yang digelar pada 24-26 April 2026. Forum ini menjadi wadah dialog strategis yang mempertemukan tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, sektor swasta, media, dan komunitas, untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor guna melawan tantangan misinformasi dan meningkatkan akses imunisasi.

Dalam sesi diskusi panel pada Simposium Ilmiah, tantangan mengenai kepercayaan publik terkait imunisasi menjadi bahasan utama.

Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A (K), yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, membagikan perspektif mengenai pentingnya narasi yang jujur saat berhadapan dengan orang tua di ruang praktik.

“Banyak cerita di lapangan yang menunjukkan bahwa keraguan orang tua sering kali bersumber dari kurangnya pemahaman tentang risiko penyakit yang sebenarnya. Kita menghadapi realita beban penyakit pneumonia dan infeksi pneumokokus yang masih sangat tinggi. Di IDAI, kami melihat bahwa membangun kepercayaan (vaccine confidence) dimulai dari kemampuan kita sebagai tenaga kesehatan untuk menceritakan manfaat imunisasi secara personal dan berbasis bukti dalam mencegah penyakit infeksi yang berbahaya, sehingga orang tua merasa tenang dan yakin akan perlindungan masa depan anak mereka,” jelas Prof. Hartono.

Berbagai penyakit menular seperti infeksi bakteri pneumokokus yang dapat menyebabkan pneumonia dan meningitis, Human Papillomavirus (HPV) yang berkontribusi pada hampir 99% kasus kanker serviks secara global, serta Campak, Gondongan, Rubella, dan Varicella (MMRV), merupakan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah, salah satunya melalui imunisasi.

Namun demikian, rendahnya kesadaran akan pentingnya perlindungan kesehatan masih menjadi tantangan, yang turut berkontribusi terhadap tingginya angka kesakitan di Indonesia.

Campak dapat menyerang semua usia, termasuk orang dewasa. Risiko komplikasi meningkat pada anak di bawah lima tahun dan orang dewasa di atas 30 tahun.

Ketua Satuan Tugas Imunisasi Dewasa PAPDI, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD-KAI, menegaskan perlunya perubahan paradigma dalam memandang imunisasi sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan sepanjang tahapan kehidupan.

“Imunisasi bukan hanya urusan anak-anak. Orang dewasa, kelompok berisiko tinggi atau yang belum memiliki bukti kekebalan, sangat disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk melengkapi vaksinasinya. Tantangan utama di lapangan adalah meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai isu kesehatan yang berkaitan dengan penyakit tertentu, serta upaya pencegahan yang bisa dilakukan. Persepsi bahwa imunisasi hanya relevan pada masa kanak‐kanak perlu dilihat kembali, mengingat upaya perlindungan kesehatan dapat berbeda sesuai tahapan usia”, tegas dr. Sukamto.

Dalam Immunization Agenda 2030, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkenalkan pendekatan life-course immunization yang merupakan strategi global untuk memastikan setiap individu memperoleh perlindungan vaksin di seluruh tahapan kehidupan. Melalui perluasan cakupan imunisasi lintas usia yang menjangkau masa remaja, dewasa, hingga lansia, vaksin berperan penting dalam melindungi masyarakat, memperkuat sistem kesehatan, serta mendukung ketahanan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan. (Sobri)

Al Sobri

Senang menyapa meski kadang nggak balik disapa. Suka berlari meski kadang nggak dapat medali. Journalist.

Tulisan Terkait

zetizens.id