Life Style

Bagai Pungguk Rindukan Bulan, Pink Tomiyang Merilis “Kasih (Ibu) Tak Sampai”

Balada tentang Kehilangan, Kerinduan, dan Cinta Seorang Ibu yang Tak Pernah Usai

ZETIZENS.ID – Penyanyi pendatang baru Pink Tomiyang resmi memperkenalkan karya perdananya kepada publik lewat single bertajuk “Kasih (IBU) Tak Sampai”, yang dirilis serentak di seluruh platform musik digital.

Lagu bergenre electro pop – ballad ini lahir dari pengalaman personal Pink Tomiyang menghadapi kehilangan sosok ibu, dan ditulis sebagai bentuk penyembuhan diri atas rasa rindu yang, menurutnya, tak kunjung reda hingga saat ini.

“Karya ini saya dedikasikan untuk mengobati rasa luka dan rindu yang tidak kunjung sembuh setelah ditinggal ibu. Jadi karya ini buat obat diri saya sendiri,” ungkapnya.

Menjelang perilisan, Pink Tomiyang mengaku dilanda perasaan campur aduk antara gugup dan banyak berpikir, mengingat single ini menjadi perkenalan pertamanya kepada penikmat musik Tanah Air sekaligus wadah bagi kisah paling personal dalam hidupnya.

“Kasih (IBU) Tak Sampai” murni terinspirasi dari pengalaman pribadi Pink Tomiyang, tanpa sentuhan kisah orang lain. Gambaran utamanya datang dari momen sederhana namun berat secara emosional: perjalanan pulang seorang diri setelah berziarah ke makam sang ibu.

“Setiap kali pulang ke rumah setelah ditinggal ibu, ada perasaan yang sulit dijelaskan kecuali oleh orang-orang yang sudah kehilangan orang terkasih. Di mobil, menyetir sendiri sepulang dari kuburan mama gambaran lagu ini seperti itu,” lanjutnya.

Bagi Pink Tomiyang, tema hubungan ibu dan anak dipilih karena rasa kehilangan yang menjadi inti cerita hanya benar-benar bisa dipahami oleh mereka yang pernah mengalami kehilangan besar dalam hidupnya, lengkap dengan bayang-bayang “andai saja hal itu belum terjadi.”

Judul “kasih yang tak sampai” sendiri merujuk pada satu pengharapan: seandainya sang ibu masih ada untuk menyaksikan mimpi-mimpi anaknya menjadi kenyataan.

Pesan terdalam yang ingin disampaikan Pink Tomiyang melalui lagu ini sederhana namun mengena menghargai waktu bersama orang terkasih selagi kesempatan itu masih ada. Proses penulisan lirik lahir dari kenangan-kenangan sederhana: senyum ibu, aroma masakannya, hingga baju baru pemberiannya hal-hal yang menurut Tomiyang terasa biasa saja saat itu, namun menjelma sangat berarti setelah sang ibu tiada.

Larik “Kau jadi rumah yang tak bisa kumasuki lagi” menggambarkan jarak yang kini memisahkan Tomiyang dengan ibunya sebuah kondisi di mana doa masih bisa dipanjatkan, namun pelukan secara fisik tidak lagi mungkin terjadi.

Sementara larik “Aku simpan kau di ruang yang tak bernama” lahir dari kebingungan Tomiyang menamai emosinya sendiri, entah itu marah, benci, kecewa, atau sakit hati, yang akhirnya ia rangkum dalam satu frasa: kasih tak sampai.

Pendekatan metafora yang kental dalam lirik-liriknya, menurut Tomiyang, mencerminkan karakter pribadinya yang tidak terbiasa mengucapkan perasaan secara gamblang, namun mampu memahami makna di balik perhatian-perhatian kecil.

Butuh waktu lebih dari 10 bulan bagi Pink Tomiyang untuk menuntaskan penulisan hingga menemukan rasa yang pas untuk lagu ini. Tantangan terbesar, diakuinya, adalah memasukkan jiwa dan rasa kehilangan yang ia rasakan secara utuh ke dalam karya.

Dari sisi musikalitas, aransemen digarap dengan mengedepankan harmoni agar perasaan dan kehilangan tetap menyatu secara indah antara musik dan vokal.

“Setiap sesi rekaman vokal, saya selalu menangis dan suara saya bergetar, tenggorokan sakit menahan air mata yang terus ingin keluar,” katanya.

Momen tersebut, menurut Pink Tomiyang, justru menjadi sesi rekaman paling berkesan, karena di titik itulah ia akhirnya menemukan keseimbangan nada dan musik yang paling mewakili perasaannya.

Sebagai pendatang baru di industri musik Indonesia, Tomiyang ingin memperkenalkan nilai keseimbangan dan kesederhanaan lewat karya-karyanya, dengan keyakinan bahwa hal-hal paling sederhana justru bisa terasa sangat berharga ketika telah hilang.

Genre pop ballad dipilih karena selaras dengan jiwa bermusiknya, dengan kejujuran dan kesetiaan sebagai nilai yang ingin terus ia bawa dalam setiap karya mendatang.

Sebelum dikenal sebagai penyanyi, Pink Tomiyang telah lebih dulu dikenal sebagai pendiri (Founder) Pink Print Team (PPT), komunitas tari yang telah berkembang menjadi wadah bagi banyak musisi berlatar belakang dancer, dan telah ia bina selama 10 tahun sejak awal pendiriannya.

Terjun ke dunia tarik suara diakuinya sebagai panggilan jiwa keinginan terdalam yang sudah lama dipendam dan baru kini bisa direalisasikan.

Pink Tomiyang berharap “Kasih (IBU) Tak Sampai” dapat menjadi teman bagi siapa pun yang tengah mencari obat dari rasa kehilangan, sekaligus pengingat bagi setiap anak untuk lebih menyayangi dan menghargai waktu bersama ibunya selagi waktu itu masih ada. “Pelukan untuk ibu, dan suapan makan dari tangan ibu.” (Sobri)

Al Sobri

Senang menyapa meski kadang nggak balik disapa. Suka berlari meski kadang nggak dapat medali. Journalist.

Tulisan Terkait

zetizens.id