Secure Parking: Generasi Baru Hadapi Tantangan Industri Parkir Modern

ZETIZENS.ID — Industri perparkiran di Indonesia tidak lagi hanya mengurusi soal menyediakan ruang untuk kendaraan. Perubahan pola mobilitas perkotaan, ekspektasi pengguna, pemilik properti, serta pendekatan pemerintah dalam pengelolaan kawasan urban menghadirkantantangan baru bagi industri ini.
Bagi Secure Parking Indonesia (SPI), perubahan tersebut berarti pengalaman panjang selama puluhan tahun harus diterjemahkan kembali oleh generasi yang lebih muda yang kini menjalankan roda perusahaan sehari-hari.
Mereka belajar dari pengalaman generasi sebelumnya sambil terus menemukan cara baru untuk menjaga layanan tetap relevan.
“Pengalaman menjadi dasar dalam mengambil keputusan, tetapi kita juga harus terbuka terhadap perubahan. Yang penting adalah memahami nilai dan pembelajaran di balik pengalaman tersebut, kemudian menerapkannya dengan cara yang relevan dengan kondisi saat ini,” ujar Regan Rachmat, Chief Brand Manager SPI.
Generasi di garis depan SPI menghadapi persoalan yang tak sama dengan situasi beberapa dekade lalu.
Pengguna semakin terbiasa dengan layanan yang praktis, proses masuk dan keluar kendaraan yang lancar, pembayaran non-tunai, tarif yang jelas, informasi yang mudah diakses, serta penanganan masalah yang responsif. Pemilik properti semakin menuntut transparansi dan efisiensi.
Saat ini, arah pembenahan tata kelola perparkiran semakin terlihat melalui perluasan pembayaran digital, peningkatan peralatan, penguatan pengawasan, serta penataan parkir agar lebih tertib dan transparan.
Kondisi ini meningkatkan ekspektasi terhadap operator layanan parkir modern untuk menghadirkan layanan yang akuntabel, mudah digunakan, dan andal.Pada saat yang sama, perkembangan industri perparkiran global bergerak menuju layanan yang semakin terintegrasi.
Pemanfaatan pembayaran digital, teknologi pengenalan kendaraan, pemantauan kondisi operasional, dan data semakin dibutuhkan untuk membantu operator mengelola akses, kapasitas, serta kebutuhan pengguna secara lebih cepat.
Sejalan dengan itu, kajian International Association of Public Transport (UITP) menempatkan transformasi parkir dalam konteks mobilitas perkotaan yang lebih terpadu, melalui penguatan tata ruang, inovasi digital, dan pemanfaatan data.
Perubahan tersebut menuntut investasi teknologi, kesiapan proses kerja, keamanan kendaraan, serta kemampuan sumber daya manusia operator parkir modern untuk menangani kondisi yang tidak selalu dapat diselesaikan oleh sistem secara otomatis.
“Tantangan kami bukan hanya mengadopsi teknologi, tetapi memastikan teknologi tersebut benar-benar membuat pengalaman pengguna jadi lebih baik dan memperkuat kualitas operasional. Ini membutuhkan cara kerja yang lebih responsif, kolaboratif, dan didukung talenta yang siap menghadapi perubahan,” tambah Regan.
Pembelajaran Antar-Generasi
Dalam operasional sehari-hari, operator parkir juga dituntut mampu memahami karakter setiap lokasi, menjaga kelancaran akses, serta memanfaatkan data operasional untuk mendukung pengelolaan mobilitas di suatu kawasan.Khairul Hafis, Regional Business Manager, menjelaskan bahwa semakin besar skala bisnis SPI, semakin beragam pula karakter lokasi, kebutuhan pelanggan, karakter lingkungan, dan tantangan operasional yang dihadapi.
“Pengelolaan parkir tidak dapat mengandalkan satu pendekatan untuk semua lokasi. Standar dan prosedur tetap perlu dijaga, tetapi tim juga harus mampu menyesuaikannya dengan kondisi di masing-masing tempat,” kata Khairul.
Kondisi ini membuat pengalaman dari satu lokasi perlu diperlakukan sebagai pembelajaran, bukan sebagai resep yang harus diterapkan kembali secara persis. Di lapangan, proses belajar semakin nyata karena keputusan sering kali harus dibuat dalam situasi yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi.
Arief Saputera, Car Park Manager, melihat bagaimana karyawan yang lebih muda belajar dari cara rekan yang lebih berpengalaman menangani komplain, kondisi ramai, maupun berbagai persoalan operasional.
“Yang dipelajari bukan hanya prosedurnya, tetapi juga bagaimana membaca situasi, berkomunikasi, dan mengambil keputusan,” ujar Arief.
Bagi Mitha Kavita, Business Development Executive, banyak pembelajaran datang dari rekan yang lebih berpengalaman dalam memahami karakter mitra dan membangun komunikasi yang tepat.
“Pengalaman tersebut membantu saya ketika menghadapi situasi yang berbeda, karena saya jadi memiliki referensi bagaimana melihat suatu masalah sebelum menentukan langkah,” kata Mitha.
Namun, proses pembelajaran tidak berhenti pada menerima cara yang sudah ada. Generasi yang lebih muda cenderung lebih dekat dengan perkembangan digital dan akses informasi yang cepat, sementara pengalaman rekan yang lebih berpengalaman membantu memastikan pendekatan baru tetap sesuai dengan kebutuhan dan nilai perusahaan.
Teknologi Sebagai Jembatan
Perubahan cara kerja juga terlihat dari pemanfaatan teknologi. Dhea Nuralif Islamiah dari IT Divisionmenjelaskan bahwa sejumlah proses yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat dibantu sistem—seperti Epsilon yang membantu mengintegrasikan proses operasional dan informasi layanansecara lebih terarah.
“Bagi generasi yang lebih muda, kedekatan dengan teknologi juga bukan sekadar soal menggunakan sistem baru. Mereka dapat berperan dalam menjembatani kebutuhan pengguna dengan solusi yang dikembangkan oleh tim IT. Dengan demikian, perspektif baru masuk ke dalam proses kerja melalui persoalan yang konkret, bukan sekadar karena perbedaan usia,” ujar Dhea.
Nilai Tetap Sama, Cara Kerja Terus Berkembang
Di sinilah kesinambungan organisasi mengambil bentuk yang berbeda, bukan dengan meneruskanseluruh cara lama, melainkan pengetahuan dan prinsip yang tetap relevan untuk menghadapi situasi baru. Nilai seperti integritas, tanggung jawab, disiplin, dan komitmen terhadap pelayanan tetap menjadi fondasi yang perlu dijaga.
Sementara itu, cara bekerja, teknologi, kebutuhan pelanggan, dan cara berkomunikasi terus berkembang.
“Generasi muda perlu mendapatkan kesempatan untuk belajar dari pengalaman sebelumnya, kemudian membawa perspektif dan cara kerja baru untuk mengembangkan apa yang sudah dibangun,” kata Regan.
Menjelang HUT ke-34 SPI pada Oktober mendatang, perjalanan perusahaan menjadi konteks yang semakin relevan untuk melihat bagaimana sebuah organisasi dan manusia di dalamnya terus bergerak.
Bagi generasi yang kini menjalankan berbagai fungsi di SPI, tugas mereka bukan sekadar meneruskan apa yang sudah ada, melainkan memahami apa yang membuatnya bekerja, menentukan apa yang masih relevan, dan menemukan cara untuk membawanya ke konteks yang baru. (Zee)







