Sudah Jarang Terlihat, Bangunan dengan Branding Operator Seluler

ZETIZENS.ID – Dulu saat musim mudik tiba, pemandangan di perjalanan menuju kampung halaman bukan hanya sawah, gunung, lembah, tapi juga bangunan dengan cat merek operator seluler. Sekarang, tidak lagi. Kenapa?
Kolase foto bangunan yang dicat dengan tema iklan operator seluler Indonesia seperti XL, Mentari, Kartu As beredar viral di media sosial. Ini mencerminkan pemandangan nostalgia di Indonesia.
Pemandangan ini membangkitkan nostalgia akan era pemasaran konvensional di lingkungan sekitar.
Foto-foto tersebut menampilkan bangunan komersial yang dicat dengan logo dan warna khas merek telekomunikasi lama. Dulu, pemandangan ini sangat biasa terlihat. Sekarang malah jarang terlihat.
Operator seluler saat ini tidak lagi melakukan strategi dengan branding fisik besar-besaran pada bangunan dan billboard untuk merek lama seperti Mentari dan Kartu As karena beberapa faktor.
Misalnya perubahan fokus pasar. Industri telekomunikasi telah berubah secara signifikan. Operator kini tidak lagi hanya mengejar jumlah pelanggan sebanyak-banyaknya melalui akuisisi massal, tetapi lebih berfokus pada loyalitas pelanggan, layanan digital, dan efisiensi operasional.
Alasan lain adalah konsolidasi merek. Banyak merek lama telah dikonsolidasikan atau dihentikan operasionalnya seiring dengan merger dan akuisisi perusahaan induknya. Misalnya, Mentari adalah bagian dari Indosat, dan Kartu As adalah bagian dari Telkomsel. Beberapa operator legendaris memang sudah tidak beroperasi lagi.
Era telah berubah. Era digital dan pemasaran online sedang terjadi saat ini. Strategi pemasaran telah beralih ke ranah digital.
Pemasaran melalui media sosial, aplikasi seluler, dan iklan daring dianggap lebih efektif, terukur, dan hemat biaya dibandingkan dengan branding fisik berskala besar.
Selain itu efisiensi biaya. Biaya untuk mempertahankan branding fisik yang luas di seluruh negeri sangat tinggi. Dengan beralih ke saluran digital, operator dapat mengalokasikan anggaran pemasaran dengan lebih efisien.
Perkembangan teknologi pun turut mempengaruhi. Fokus industri telah bergeser dari jaringan 3G/4G ke 5G, yang memerlukan investasi infrastruktur besar. Penggunaan kembali spektrum frekuensi yang sebelumnya digunakan untuk 3G, misalnya, untuk layanan 4G yang lebih efisien juga menjadi prioritas.
Sebagai hasilnya, citra merek yang terlihat di gambar mewakili era yang berbeda dalam sejarah telekomunikasi Indonesia yang kini telah berevolusi. (Zee)







