Viral

Bidadari Surga, Kisah Cinta yang Tumbuh di Tengah Perbedaan Prinsip Hidup

ZETIZENS.ID – Dinda Hauw dan Rey Mbayang beradu peran dalam film Bidadari Surga yang dijadwalkan tayang Januari ini. Film dari rumah produksi Max Pictures ini menghadirkan film drama romantis bernuansa religi.

Laman Tabloid Bintang membahas, film ini mengangkat kisah cinta yang tumbuh di tengah perbedaan prinsip hidup, keyakinan, serta latar belakang sosial yang kontras.

Disutradarai oleh Indra Gunawan, Bidadari Surga menawarkan cerita cinta yang tidak dibangun dari paksaan untuk berubah, melainkan dari proses saling memahami, belajar, dan bertumbuh.

Dengan pendekatan yang realistis, film ini menyentuh dinamika hubungan di tengah masyarakat modern yang sarat perbedaan.

“Film ini berbicara tentang proses pendewasaan. Cinta sejati tidak menuntut, tapi mengajak. Saya ingin penonton melihat bahwa perubahan yang tulus lahir dari kesadaran, bukan tekanan,” ujar Indra Gunawan.

Tokoh utama dalam film ini diperankan oleh Rey Mbayang sebagai Taufan, seorang kreator konten YouTube yang dikenal luas, namun kerap menuai kontroversi akibat sikap dan pandangannya. Rey menyebut peran ini sebagai tantangan emosional yang cukup kompleks.

“Taufan adalah figur yang penuh ego, jauh dari kata ideal. Namun di balik itu ada keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Film ini mengingatkan bahwa mencintai berarti menghormati nilai dan keyakinan orang yang kita cintai,” tutur Rey.

Kisah

Cerita bermula saat Taufan bertemu dengan Nadia (diperankan oleh Dinda Hauw), seorang perempuan sederhana yang merupakan putri seorang kiai. Nadia dikenal teguh memegang nilai keimanan dan prinsip hidupnya.

Perbedaan cara pandang di antara keduanya memicu konflik, terutama ketika Taufan meminta Nadia untuk melepas hijab, permintaan yang langsung ditolak dengan tegas.

Penolakan tersebut justru menjadi titik balik dalam kehidupan Taufan. Dari situlah perjalanan emosional dimulai, memperlihatkan pergulatan batin, proses hijrah, serta pencarian makna cinta yang lebih dalam. Hubungan mereka berkembang seiring perubahan cara Taufan memandang keyakinan, cinta, dan tanggung jawab pribadi.

Dengan konflik yang relevan dan realitas masa kini, penggarapan cerita yang emosional, serta pesan moral yang kuat, Bidadari Surga diproyeksikan menjadi film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton untuk merenung dan mengambil inspirasi.

Representasi

Laman Kapanlagi membahas, bagi Dinda Hauw, karakter Nadia bukan sekadar tokoh fiksi, melainkan representasi perempuan yang teguh memegang keyakinan di tengah dinamika cinta modern.

Melalui film ini, ia ingin menyampaikan pesan bahwa prinsip hidup bukanlah penghalang untuk mencintai, melainkan pondasi yang menguatkan sebuah hubungan.

“Nadia adalah perempuan yang lembut namun teguh memegang prinsip. Lewat film ini, aku ingin menunjukkan bahwa mempertahankan keyakinan bukanlah penghalang cinta, justru menjadi fondasi yang kuat,” tutur Dinda saat ditemui Kapanlagi di Gala Premiere Film Bidadari Surga di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Jum’at (9/1/2026).

Sosok Nadia diceritakan sebagai putri seorang kiai yang taat dan berpegang pada nilai-nilai religius. Konflik bermula ketika Taufan meminta Nadia melepas hijab, sebuah permintaan yang ditolak tegas. Penolakan tersebut justru menjadi titik balik yang membawa perubahan besar dalam perjalanan hidup dan spiritual Taufan.

Dari sudut pandang kreator, sutradara Indra Gunawan menekankan bahwa Bidadari Surga tidak dibangun sebagai kisah cinta instan. Film ini dirancang dengan pendekatan yang dekat dengan realitas, di mana cinta hadir sebagai proses saling memahami, bukan memaksakan kehendak.

“Bidadari Surga adalah film tentang proses. Tentang bagaimana cinta tidak memaksa, tetapi mengajak seseorang untuk bertumbuh dan berubah menjadi lebih baik. Saya berharap film ini bisa menyentuh hati penonton,” ujar Indra Gunawan.

Sementara itu, Rey Mbayang menilai karakter Taufan memiliki sisi manusiawi yang kuat. Ia digambarkan sebagai pribadi yang penuh ego, namun perlahan belajar menghargai nilai dan keyakinan orang lain melalui pertemuannya dengan Nadia.

“Taufan bukan sosok sempurna. Dia penuh ego, tapi memiliki keinginan untuk berubah. Film ini mengajarkan bahwa cinta sejati berarti menghormati nilai dan keyakinan pasangan,” kata Rey.

Tak hanya mengandalkan drama romantis, Bidadari Surga juga menyisipkan unsur komedi yang ringan dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Perpaduan tersebut diharapkan mampu membuat penonton terhibur sekaligus merenung tentang makna cinta dan hijrah.

Secara keseluruhan, film ini mengangkat tema cinta, prinsip, dan perubahan diri dengan balutan cerita yang emosional. Kehadiran Dinda Hauw sebagai Nadia menjadi salah satu kekuatan utama dalam menyampaikan pesan moral yang membumi dan dekat dengan realitas masyarakat. (Zee)

Tulisan Terkait

Back to top button
zetizens.id