Viral

Hikikomori, Fenomena Sosial di Jepang dan Bahayanya

ZETIZENS.ID – Hikikomori menjadi fenomena sosial di Jepang yang mendunia, berupa pengurungan diri secara ekstrem di rumah atau kamar, menghindari interaksi sosial, sekolah, atau bekerja selama lebih dari enam bulan.

Ini adalah bentuk penarikan diri sosial sukarela yang sering dipicu stres, tekanan sosial tinggi, atau kecemasan, sering kali didukung secara finansial oleh orang tua.

Ciri-ciri Utama Hikikomori:

Isolasi Fisik: Menghabiskan sebagian besar waktu di kamar, jarang keluar rumah.

Durasi Lama: Berlangsung setidaknya 6 bulan, sering kali bertahun-tahun.

Penghindaran Sosial: Tidak bekerja, tidak bersekolah, dan memutus hubungan dengan teman atau keluarga.

Ketergantungan: Bergantung pada orang tua untuk kebutuhan sehari-hari. Halodoc +4

Penyebab dan konteksnya antara lain;

Tekanan Budaya: Tingginya tuntutan prestasi di Jepang membuat sebagian orang merasa gagal dan memilih menarik diri.

Masalah Mental: Sering dikaitkan dengan depresi, kecemasan sosial, atau ketakutan akan penolakan, meski awalnya dianggap sebagai fenomena sosiokultural.

Era Digital: Seringkali beraktivitas terbatas pada dunia maya atau gadget. Halodoc +2
Fenomena ini awalnya menonjol di Jepang namun kini telah ditemukan di banyak negara lain. Penanganan memerlukan pendekatan psikologis, dukungan konsisten, dan program sosial untuk membantu individu berinteraksi kembali dengan lingkungan.

Ini Bahayanya

Hikikomori adalah istilah untuk menggambarkan seseorang yang tidak mau bersosialisasi, menarik diri dari lingkungan, dan berdiam diri di rumah dalam waktu yang lama.

Laman Alodokter membahas, keadaan ini tidak boleh dianggap sepele karena bisa menyebabkan stres, depresi, bahkan muncul keinginan untuk bunuh diri.

Sebagai makhluk sosial, normalnya seseorang akan bersosialisasi dan berteman dengan orang lain agar bisa menjalani kehidupan dengan baik.

Bersosialisasi tidak hanya menyenangkan, tetapi juga bermanfaat untuk mengurangi stres, meningkatkan kualitas hidup, serta menjadi media untuk bertukar pikiran.

Namun, pelaku hikikomori cenderung menghindari aktivitas sosial dan mengisolasi diri dari lingkungan.

Pelaku hikikomori justru akan mengisolasi diri dan tidak melakukan kontak sama sekali dengan orang lain, selain anggota keluarganya. Hikikomori juga kerap membuat orang menjadi kehilangan tujuan hidup.

Istilah hikikomori pertama kali dipelopori oleh Tamaki Saito pada tahun 1998 untuk menyebut seseorang yang berhenti sekolah atau bekerja dan hanya berdiam diri di rumah selama lebih dari 6 bulan.

Hikikomori tidak hanya dialami oleh penduduk Jepang, karena sebagian penduduk di berbagai negara juga mengalaminya. Umumnya, hikikomori lebih sering dialami oleh remaja dan dewasa muda, khususnya kaum pria. Namun, kondisi ini juga bisa dialami oleh wanita segala usia, termasuk para lansia.

Ada 2 jenis hikikomori, yaitu hikikomori primer di mana pelaku tidak memiliki gangguan kejiwaan penyerta yang menyebabkannya mengisolasi diri dan hikikomori sekunder di mana pelaku memiliki gangguan kejiwaan.

Sebenarnya, sampai saat ini penyebab pasti dari hikikomori belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang diduga bisa memicu timbulnya kondisi ini, yaitu:

Mendapatkan bullying di sekolah, kantor, atau masyarakat

Memperoleh pola pengasuhan yang salah, yaitu terlalu sering dimanja oleh keluarga, sehingga tidak ada keinginan untuk keluar rumah dan bersosialisasi dengan orang lain

Memiliki sifat penyendiri dan tidak terbiasa untuk memulai percakapan atau hubungan dengan orang lain, terutama yang tidak dikenal

Mengalami kecanduan internet dan ponsel sehingga enggan untuk keluar rumah dan bersosialisasiMengalami gangguan kejiwaan (pada hikikomori sekunder)

Kondisi hikikomori bisa terjadi dengan atau tanpa gangguan kejiwaan. Jadi, kondisi ini dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan mental pelakunya.

Isolasi ekstrem yang dilakukan oleh pelaku hikikomori bisa memicu munculnya beragam kondisi seperti stres, depresi, gangguan kepribadian, gangguan kecemasan, skizofrenia, keinginan bunuh diri.

Karena menghindari komunikasi sosial, bahkan dengan anggota keluarga, pelaku hikikomori cenderung merasa kesepian. Nah, selain menimbulkan dampak buruk pada kesehatan mental, kesepian juga turut memberikan pengaruh buruk pada kesehatan fisik, lho.

Beberapa dampak negatif kesepian bagi kesehatan, antara lain menurunkan kualitas tidur, meningkatkan risiko terjadinya demensia, berisiko tinggi mengalami penyakit kardiovaskular, serta muncul keinginan untuk melakukan kebiasaan buruk yang bisa mengundang penyakit, seperti merokok dan minum minuman beralkohol. (Zee)

Tulisan Terkait

zetizens.id