Karya Paling Ambisius Kamila Andini, EMPAT MUSIM PERTIWI, Terseleksi Masuk Toronto International Film Festival 2026
Akan tayang di Bioskop mulai tanggal 8 Oktober 2026

ZETIZENS.ID — Kabar membanggakan datang dari rumah produks Forka Films. Karya paling ambisius dari sutradara Kamila Andini, Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java), secara resmi terpilih untuk ditayangkan perdana secara global (World Premiere) di ajang bergengsi Toronto International Film Festival (TIFF) 2026.
Film yang dibintangi oleh deretan aktor papan atas—Putri Marino, Arya Saloka, Christine Hakim, dan Hana Pitrashata Malasan dan banyak aktor yang lainnya—ini akan pulang dan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.
Empat Musim Pertiwi yang dengan judul Internasional Four Seasons In Java akan
tayang di prpgram Centrepiece, yang merupakan program khusus di TIFF yang
menayangkan film-film berkualitas dari seluruh dunia dari para sineas internasional.
Program ini menyoroti penceritaan yang beragam dari berbagai negara. Sebelumnya,
program ini dikenal dengan nama Contemporary World Cinema.
TIFF 2026 akan berlangsung pada 10–20 September 2026. Terseleksinya Empat Musim Pertiwi di TIFF 2026 menandai kembalinya Kamila Andini ke panggung festival bergengsi tersebut, setelah sebelumnya sukses membawa pulang penghargaan Platform Prize lewat film Yuni pada tahun 2021.
The Dream Team: Sineas Bertabur Bintang. Kekuatan magis dari visual dan
penceritaan Empat Musim Pertiwi tidak lepas dari deretan sineas brilian di balik
layarnya.
Diproduseri oleh Ifa Isfansyah, film ini kembali mempersatukan para kolaborator luar biasa dari serial fenomenal Gadis Kretek.
Visi penyutradaraan Kamila didukung penuh oleh jajaran kreator terbaik tanah air,
termasuk Sinematografer Batara Goempar, I.C.S, Desainer Produksi Dita Gambiro,
Penata Busana Hagai Pakan, Penata Rias Astrid Sambudiono, dan Editor Akhmad
Fesdi Anggoro.
Atmosfer film ini semakin hidup dan emosional berkat rancangan tata suara dari Sound Designer Vincent Villa, serta kolaborasi musik epik dari komposer Ricky Lionardi dan Bottlesmoker.
Karya Sinematik Paling Ambisius Secara skala produksi dan visi kreatif, Empat Musim Pertiwi hadir dengan skala produksi yang jauh lebih besar dibandingkan karya-karya Kamila Andini sebelumnya.
Menjelajahi genre yang belum pernah
disentuh oleh sang sutradara, film ini secara berani menggabungkan elemen
psychological drama, sci-fi, magical realism, western, dan misteri.
Kamila Andini mengungkapkan bahwa pemilihan Gunung Bromo sebagai latar
utama adalah sebuah keputusan yang disengaja. Latar ini digunakan untuk
mengeksplorasi kontras antara keagungan alam yang megah dan mengisolasi,
dengan kehadiran teknologi yang mampu memberdayakan sekaligus
menghancurkan.
“Ini adalah metafora yang kuat untuk perjalanan karakter saya—alam yang megah, namun bisa terasa sangat isolatif,” ungkap Kamila.
“Bromo memang sudah ada sejak awal proses kreatif film ini pada 2017. Bahkan
sebelum Gadis Kretek atau Yuni. Secara skala produksi, Empat Musim Pertiwi
memang lebih kompleks, berat, dengan kanvas yang lebih besar,” ujar produser
Ifa Isfansyah.
Lebih dari itu, ambisi besar film ini dibuktikan melalui jaringan kerja sama produksi
internasional prestisius. Empat Musim Pertiwi merupakan hasil kolaborasi produksi
dari berbagai negara, melibatkan Forka Films (Indonesia) yang bekerja sama dengan
ICI ET LA PRODUCTIONS (Prancis), LEMMING FILM (Belanda), STORM
PICTURES (Norwegia), PFX (Polandia), dan GIRAFFE PICTURES (Singapura). Dari
dalam negeri film ini didukung kolaborasi dari Miles Films, Jagartha, Trinity
Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle, dan Navvaros. (Sobri)







