Viral

Olahraga Pacu Jalur dari Indonesia yang Sekarang Mendunia

ZETIZENS.ID – Pada awalnya olahraga ini dilakukan oleh satu orang laki-laki di depan dan beberapa orang yang di belakang mendayung. Nah orang yang di bagian depan perahu, melakukan gerakan tarian.

Pacu Jalur sampai membuat heboh warga luar negeri dengan video yang beredar di internet begitupun banyak yang mengabadikan video itu dan akhirnya menjadi trending.

Dimulai dari kalangan laki-laki maupun perempuan, sampai banyak dilakukan di beberapa tempat karena saking trendnya. Akhirnya bagus mereka menyebutnya sebagai “aura farming”.

Abad ke-17

Laman Detik menyebut, pacu jalur ternyata dimulai sejak abad ke-17 di wilayah Rantau Kuantan, sepanjang Sungai Kuantan. Kini menjadi wilayah Kecamatan Hulu Kuantan hingga Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau, demikian dilansir dari situs Pemkab Kuansing.

Abad ke-17 transportasi darat belum berkembang, sehingga angkutan hasil bumi memanfaatkan jalur sungai dengan jalur atau sampan.

Hasil bumi yang diangkut jalur seperti pisang dan tebu, sekaligus mengangkut manusia hingga 40-40 orang.

Dari kebiasaan ini muncul jalur-jalur yang diberi ukiran indah seperti ukiran kepala ular; buaya; atau harimau; baik di bagian lambung maupun selembayung-nya, ditambah lagi dengan perlengkapan payung; tali-temali; selendang; tiang tengah (gulang-gulang); serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri).

Kemudian, kegiatan tersebut berkembang menjadi lebih dari sekedar alat angkut. Kampung-kampung di sepanjang Batang Kuantan mulai menggelar Pacu Jalur untuk memperingati dan merayakan berbagai hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad, Hari Raya Idul Fitri, memperingati tahun baru Islam (1 Muharram), dan sebagainya.

Demikian dikutip dari jurnal ‘Perlombaan Pacu Jalur di Kuantan Singingi (2009-2019)’ yang ditulis Risman, Meri Erawati dan Kaksim dari Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas PGRI Sumatera Barat, dalam Jurnal Pendidikan Tambusai Volume 7 Nomor 3 Tahun 2023.

Saat Belanda masuk ke dalam wilayah Rantau Kuantan dengan menduduki Kota Teluk Kuantan, pacu jalur dimanfaatkan untuk merayakan Hari Ulang Tahun atau kelahiran Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus.

Perayaan pacu jalur tak lagi di hari-hari besar Islam, tetapi hanya digelar setahun sekali saat HUT Ratu Wilhelmina yang membuat warga Rantau Kuantan menganggap sebagai datangnya Tahun Baru.

Itulah sebabnya sampai saat ini Pacu Jalur ada yang masih menyebutnya Tambaru (tahun baru).

Setelah Indonesia Merdeka, warga melihat sisi lain yang membuat keberadaan jalur itu menjadi semakin menarik, yakni dengan digelarnya acara lomba adu kecepatan antarjalur yang hingga saat ini dikenal dengan nama pacu jalur.

Kini pacu jalur menjadi pertunjukan kompetisi dan budaya, dengan memperebutkan hadiah berupa kerbau; sapi; serta piala bergilir. (Revaldi)

Tulisan Terkait

zetizens.id