Viral

Cara Ngonten yang Berdampak ala Irine Suwandi dan Andrea Novita, 2 Kreator TikTok Discover List 2026

Dari karya yang bisa ketemu Lisa Blackpink sampai lulusan STEM yang punya lab seru sendiri.

ZETIZENS.id – Kenalan yuk sama 3 Kreator Indonesia yang masuk ke dalam deretan TikTok Discover List 2026, mereka adalah Andrea Novita (@andreanovitaa), Irene Suwandi (@ireneswnd), dan Ghina Eroz (@gweroz).

Yap, tahun ini, tiga kreator Indonesia berhasil masuk lagi ke dalam daftar Discover List 2026 lantaran konten-konten kreatif mereka berhasil diterima publik global, dan yang terpenting mampu memberikan pengaruh positif dan membentuk percakapan, tren, dan budaya—baik di dalam maupun di luar TikTok.

“Para kreator adalah denyut nadi playform ini. Melalui cerita serta kreativitas yang autentik, para kreator di TikTok terus menghidupkan ruang digital yang inklusif sekaligus membentuk percakapan yang berdampak, baik di TikTok maupun di luar platform,” ujar Edwin Marcel Lengkei, Communications Leads TikTok Indonesia di acara media gathering The Discover List, Jumat (6/3/2026) di Jakarta.

Semangat inilah yang mendorong TikTok untuk kembali menghadirkan Discover List 2026, sebuah inisiatif yang merayakan 50 kreator dari seluruh dunia yang patut mendapat perhatian melalui karya kreatif yang autentik. Para kreator terpilih terbagi dalam lima kategori: Educators, Icons, Innovators, Foodies, dan Originators.

Setelah terakhir tercatat dalam Discover List 2022, tahun ini tiga kreator asal Indonesia kembali masuk ke dalam daftar global milik TikTok tahun ini, sebuah capaian yang menegaskan daya saing mereka di ekosistem kreator global.

Discover List bukan sekadar bentuk apresiasi TikTok, tetapi juga sebuah jendela yang memungkinkan profil para kreator semakin mudah ditemukan oleh audiens lintas negara, membuka peluang kolaborasi dan memperluas jangkauan secara internasional.

“Kami terus melihat para konten kreator yang melahirkan kreasi yang unik tapi bisa diterima banyak kalangan dan berdampak.
Tren ini ternyata malah bisa jadi percakapan global yang dibahas banyak orang dari berbagai dunia,” katanya lagi.

Menurur Edwin, konten-konten ketiganya membawa dampak baik di Tiktok maupun juga di platform lain. Ketiga kreator Indonesia ini menonjol berkat kemampuan mereka menghadirkan pengetahuan dan keahlian secara autentik dan mudah diakses.

Irene Suwandi misalnya, kreatir asal Tangerang ini mampu menerjemahkan sains menjadi edukasi berbasis bukti yang mudah dipahami secara bahasa dan visual.

“Awalnya itu saya cuma ngepost hasil penelitian sendiri. Kontennya simpel tentang produk kemasan yang bisa berubah warna. Ngepost video cuma dari satu footage aja, ada sedikit teks dan ditambahin musik,” ujarnya di acara yang sama.

Andrea mengaku, kontennya tidak terlalu dipersiapkan tapi yang simpel itu justru yang mengantarkannya menjadi related dengan banyak orang. “Emang akunya yang udah àlay aja dari dulu jadi suka bikin video apapun walau gak ada niatan jadi konten kreator waktu itu, tapi pas beres sidang mulai edit-edit video dokumentasi yang tadinya buat memory sendiria doang,” jelasnya lagi.

Fokus pada hasil riset di pengembangan pangan, Andrea membuat konten video labotatorium menjadi lebih seru untuk disimak. “Sekarang aku ubah kata-kata yang terlalu sains atau stem banget jadi lebih familiar kayak penggunaan kata ‘difiltrasi’ jadi ‘dipisahin’, biar lebih bisa diterima masyarakat,” katanya lagi.

Walau nggak mudah membuat konten lab yang relate dengan masyarakat awam, akhirnya Andrea mencari ide-ide yang sedang diminati atau jadi kebiasaan orang sehari-hari, seperti mengedukasi kebiasaan memakan roti yang sudah berjamur dan sebagainya dengan bukti-bukti lab yang asik.

“Karena konten aku basisnya stem dan science aku biasanya eksperimen dulu di lab, itu bisa memakan 3 hari lamanya. Kalo nggak berhasil ngulang lagi. Fokusku sekarang kan olahan pangan yang relate sama momen banyak orang, aku memjaga konsistensi ini dengan bikin konten yang related sama banyak orang kayak pas bulan puasa ini bikin permen dari kurma atau biji kurmanya bisa lho diolah menjadi kopi,” terangnya lagi.

Dengan semakin banyak konten lab yang nyambung sama 12 juta lebih followersnya, Andrea akan terus mengedukasi hasil lab yang seru ke banyak orang.

Begitu juga dengan Irene Suwandi, kerator DIY project yang punya passion di art. Usahanya membuat konten pra karya membawa kesempatan Irene bertemu dengan idolanya, Lisa Blackpink dan juga Ariana Grande.

“Trik aku yang suka art ternyata bisa dikombinasikan sama kesukaan aku, fangirling Idol Korsel, jadi waktu itu aku mau do something yang beda sama yang lain. Aku yang mulai posting 2021 saat pandeni, justru awalnya malah bikin konten komedi tapi nggak viral. Karena aku suka art aku baru nih bikin karya makeup art di muka ternyata yang itu malah tembus 400K views, padahal gak ada follewersnya sama sekali.

“TikTok pun mengubah saya dari yang bukan siapa-siapa, kini bisa jadi seseorang yang punya kesempatan ketemu public figure dunia lewat konten dan karya yang aku buat, dan sekarang aku juga bisa membuka kolaborasi dan membuat gerakan yang berdampak diantaranya kini aku lagi bikin panti asuhan dengan interior yang unik, mungkin satu-satunya juga di Jakarta kolaborasi dengan Arrofi Ramadhan,” beber kreator asal Surabaya itu.

Soal menjaga konten yang sesuai dengan niche, Irene mengaku ambis untuk bisa selalu punya karya yang ada gong-nya. Jika 2025 lalu, ia membuat lightstick super besar untuk Lisa Blackpink. Tahun berikutnya harus punya sesuatu yang lebih spesial lagi.

“Sebenarnya aku bikin konten itu sehari sekali, tapi aku menetapkan setiap tahun harus ada project untuk konten yang wah kayak project lightstick terbesar tahun lalu, jadi biasanya aku akan siapkan bahan, biaya dan semua diplanning, konten regular tetap ada untuk ikutin konten viral fsm random atau bikin sesuatu yang tren yang selaras sama niche aku juga di art,” terang Irena lagi.

Soal membuat konten di TikTok, Edwin Lengkei menambahkan, siapapun bisa membuat konten yang berdampak.baik bagi dirinya dan orang lain, serta jangan takut tidak akan dilihat meski belum punya pengikut.

“Yang menarik untuk TikTok bahwa platform kami itu membantu siapapun untuk dapat ditemukan siapapun, nggak harus punya 1 juta pengikut dulu baru ngonten tapi selama kontennya itu menarik maka akan bisa dilihat. Dan kita selalu saja melihat ada kreator yang bisa kreatif, enggaged dan berdampak positif ke komunitasnya. Jadi kami berharapan, ini bisa memacu motivasi kreator dari Indonesia dengan membuat jonten kreatif dan bermanfaat,” katanya lagi. (*)

Al Sobri

Senang menyapa meski kadang nggak balik disapa. Suka berlari meski kadang nggak dapat medali. Journalist.

Tulisan Terkait

Back to top button
zetizens.id