Dari Sekam Padi hingga Sampah Plastik, KKM Tematik Reguler 19 Untirta Dorong Inovasi Pengelolaan Limbah Bernilai Ekonomi di Desa Lamaran

ZETIZENS.ID – Limbah pertanian dan sampah plastik kerap dipandang sebagai persoalan lingkungan. Namun, melalui inovasi yang tepat, keduanya dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan.
Gagasan tersebut menjadi fokus program Siklus Desa (Sinergi Kelola Limbah untuk Desa Berkelanjutan) yang diselenggarakan Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Tematik Reguler 19 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) di Balai Desa Lamaran, Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang, pada Minggu, 19 Juli 2026.
Mengusung tema “Mengubah Limbah Menjadi Nilai. Mewujudkan Desa Mandiri melalui Inovasi Pengelolaan Limbah Berkelanjutan”, kegiatan ini menghadirkan dua narasumber lintas disiplin ilmu, yakni Nur Alam dari Program Studi Agribisnis Untirta dan Rafiqa Nur Madani dari Program Studi Teknik Metalurgi Untirta.
Kegiatan turut dihadiri Kepala Desa Lamaran, Sekretaris Desa, perangkat desa, tiap-tiap RT/RW, kader PKK, serta masyarakat Desa Lamaran.
Sebelum sosialisasi dimulai, mahasiswa KKM menyiapkan sampel briket berbahan dasar sekam padi dan Eco-Paving Block dari limbah plastik yang telah diproduksi secara mandiri.
Kedua produk tersebut dibuat menggunakan limbah yang berasal dari lingkungan sekitar Desa Lamaran sehingga masyarakat dapat melihat secara langsung bahwa limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat.
Materi pertama disampaikan oleh Nur Alam yang membahas pemanfaatan limbah sekam padi menjadi briket sebagai sumber energi alternatif.
Selain menjelaskan tahapan pembuatannya, ia juga memaparkan manfaat ekonomi dan lingkungan dari pemanfaatan sekam padi yang selama ini banyak terbuang.
“Desa Lamaran memiliki potensi limbah sekam padi yang cukup melimpah. Jika dimanfaatkan dengan baik, limbah tersebut dapat diolah menjadi briket yang bernilai ekonomi sekaligus menjadi sumber energi yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar berbasis batu bara,” ujar Nur Alam.
Usai penyampaian materi, peserta diajak melihat contoh briket yang telah dibuat. Antusiasme masyarakat terlihat pada sesi diskusi ketika salah seorang warga menanyakan perbandingan kualitas briket sekam padi dengan briket batok kelapa maupun batu bara.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Nur Alam menjelaskan bahwa setiap jenis briket memiliki karakteristik, kelebihan, dan kekurangan masing-masing. Namun, pemanfaatan sekam padi dipilih karena bahan bakunya melimpah di Desa Lamaran serta menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan batu bara.
Suasana kegiatan semakin interaktif melalui sesi ice breaking. Warga yang berhasil menjawab pertanyaan seputar materi mendapatkan hadiah berupa paket sembako. Kegiatan ini tidak hanya menciptakan suasana yang lebih hidup, tetapi juga memperkuat pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan.
Rangkaian sosialisasi kemudian dilanjutkan oleh Rafiqa Nur Madani yang memperkenalkan pemanfaatan limbah plastik menjadi Eco-Paving Block.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan proses pembuatan, alat dan bahan yang digunakan, serta berbagai keunggulan Eco-Paving Block sebagai salah satu alternatif pemanfaatan sampah plastik.
Peserta juga diperlihatkan sampel hasil produksi serta video proses pembuatannya sehingga memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai tahapan pengolahannya.
“Pemanfaatan sampah plastik menjadi Eco-Paving Block bukan hanya bertujuan menghasilkan produk baru, tetapi juga menjadi salah satu upaya mengurangi penumpukan sampah plastik di lingkungan. Semakin banyak plastik yang dimanfaatkan kembali, semakin kecil potensi pencemaran yang ditimbulkan,” jelas Rafiqa.
Pada sesi tanya jawab, warga menanyakan kekurangan Eco-Paving Block dibandingkan paving konvensional. Menanggapi hal tersebut, Rafiqa menjelaskan bahwa kualitas produk sangat dipengaruhi oleh jenis plastik yang digunakan.
Selain itu, Eco-Paving Block kurang direkomendasikan untuk menahan beban berat dalam jangka panjang dan memiliki ketahanan yang lebih rendah terhadap suhu yang sangat tinggi.
Meskipun demikian, material tersebut tetap memiliki potensi besar sebagai solusi pengurangan sampah plastik apabila dimanfaatkan sesuai peruntukannya.
Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi para narasumber, kegiatan ditutup dengan penyerahan sertifikat penghargaan yang dilanjutkan sesi dokumentasi bersama.
Melalui program Siklus Desa, Kelompok KKM Tematik Reguler 19 Untirta berharap masyarakat tidak lagi memandang limbah sebagai barang yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya pengelolaan limbah yang inovatif, produktif, dan berkelanjutan di Desa Lamaran. (Zee)







