StoryVerse: Dari Literasi Menjadi Cerita, Upaya Mahasiswa KKM Literasi Kelompok 57 Mendorong Budaya Literasi Melalui Menulis Cerita

ZETIZENS.ID – Kelompok 57 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Literasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menyelenggarakan program “StoryVerse: Dari Literasi Menjadi Cerita” di SMAN 1 Carenang, Desa Teras, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, pada 28–29 Juli 2026.
Kegiatan yang diikuti oleh 18 siswa kelas XI, masing-masing merupakan perwakilan dari enam kelas yang memiliki minat dalam menulis kreatif, menjadi salah satu bentuk implementasi program literasi yang selaras dengan program Perpustakaan Nasional dalam meningkatkan budaya membaca dan menulis di kalangan pelajar.
Program StoryVerse dirancang sebagai ruang belajar yang mendorong peserta untuk tidak hanya membaca, tetapi juga mengolah hasil bacaan dan pengalaman menjadi sebuah karya sastra.
Dengan kegiatan ini, mahasiswa KKM berupaya menumbuhkan kebiasaan gemar membaca, meningkatkan kecintaan terhadap buku, mengembangkan kreativitas dan imajinasi, melatih kemampuan berpikir kritis, serta menghasilkan karya tulis yang orisinal.
Kegiatan hari pertama diawali dengan pembukaan dan sambutan dari Faqih selaku Ketua Kelompok 57 KKM Literasi Untirta. Selanjutnya, peserta memperoleh materi mengenai dasar-dasar penulisan cerita pendek yang disampaikan oleh Firli dan Bitya sebagai fasilitator utama.
Materi yang diberikan meliputi pengenalan konsep cerita pendek, cara menemukan ide cerita, menyusun kerangka cerita, mengembangkan premis menjadi alur yang utuh, mengenali unsur-unsur penting dalam sebuah cerita, hingga memahami kriteria penulisan cerita pendek yang baik.
Sebagai sumber inspirasi, peserta kemudian menyaksikan film “Sang Pemimpi” yang diadaptasi dari novel karya Andrea Hirata. Sebelum pemutaran film dimulai, panitia membagikan lembar kerja kepada seluruh peserta dan mengarahkan mereka untuk mencatat berbagai gagasan, nilai, maupun inspirasi yang diperoleh selama menyaksikan film.
Langkah ini bertujuan agar peserta mampu mengembangkan ide baru berdasarkan pesan yang mereka tangkap, bukan sekadar mengulang alur cerita yang telah ditonton.
Usai pemutaran film, peserta mulai menyusun kerangka cerita pendek berdasarkan kreativitas, pengalaman, dan imajinasi masing-masing.
Selama proses tersebut, mahasiswa KKM bertindak sebagai fasilitator pendamping yang memberikan arahan serta berdiskusi dengan peserta mengenai pengembangan ide, penokohan, alur, maupun konflik yang dibangun dalam cerita.
Menjelang penutupan hari pertama, peserta diberikan kesempatan untuk menyempurnakan kerangka cerita di rumah sekaligus mulai mengembangkan naskah menjadi cerita pendek secara utuh.
Pada hari kedua, peserta melanjutkan proses penulisan hingga seluruh cerita selesai. Setelah itu, fasilitator utama bersama fasilitator pendamping melakukan sesi revisi dan penyuntingan melalui diskusi secara langsung dengan setiap peserta.
Pendampingan ini tidak hanya berfokus pada aspek kebahasaan, tetapi juga memberikan masukan mengenai pengembangan ide, struktur cerita, alur, penokohan, penggunaan latar, serta kekuatan pesan yang disampaikan dalam karya.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap hasil belajar peserta, dua siswa terpilih mempresentasikan cerita pendek yang telah mereka tulis di hadapan seluruh peserta. Dalam sesi tersebut, mereka menjelaskan tema cerita, ide utama, tokoh, latar, serta alur yang dikembangkan berdasarkan inspirasi dari film “Sang Pemimpi”.
Presentasi tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus menunjukkan bahwa satu karya dapat melahirkan beragam interpretasi dan sudut pandang yang berbeda.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi berbagi mengenai dunia perkuliahan bersama mahasiswa KKM. Mengangkat semangat yang selaras dengan pesan dalam “Sang Pemimpi”, sesi ini bertujuan memotivasi para siswa agar terus berani bermimpi, melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, dan mengembangkan potensi diri melalui pendidikan.
Setelah rangkaian kegiatan berakhir, seluruh karya peserta dikumpulkan untuk dinilai oleh tiga fasilitator utama. Penilaian dilakukan berdasarkan delapan aspek, yaitu kesesuaian dengan tema film, pengembangan ide, struktur cerita pendek, kreativitas dan orisinalitas, pengembangan tokoh dan latar, alur cerita, penggunaan bahasa, serta ketepatan ejaan dan tanda baca sesuai kaidah PUEBI. Dari proses tersebut akan ditentukan pemenang Juara I, Juara II, Juara III, serta kategori Cerita Favorit.
Sebagai bentuk pendampingan yang berkelanjutan, setiap peserta juga memperoleh umpan balik tertulis secara mendalam melalui surat elektronik.
Umpan balik tersebut berisi hasil revisi dan penyuntingan yang disusun oleh fasilitator utama agar peserta memahami kelebihan karya mereka sekaligus aspek-aspek yang masih dapat dikembangkan pada proses menulis berikutnya.
Selama pelaksanaan kegiatan, antusiasme peserta terlihat tinggi. Mereka aktif berdiskusi, bertanya kepada fasilitator, serta berusaha mengembangkan ide cerita yang beragam.
Beberapa peserta bahkan berhasil menghasilkan cerita pendek dengan permainan bahasa yang kuat, suasana yang hidup, dan alur yang menarik, menunjukkan bahwa inspirasi dari sebuah bacaan maupun film dapat berkembang menjadi karya yang benar-benar baru dan orisinal.
Faqih selaku Ketua Kelompok 57 KKM Literasi Untirta menyampaikan bahwa StoryVerse diharapkan mampu menjadi pengalaman awal yang menyenangkan bagi siswa dalam dunia kepenulisan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa menulis itu adalah merangkai kata dan juga berani menuangkan gagasan dan pengalaman menjadi sebuah cerita yang bermakna. Melalui StoryVerse, kami berharap peserta semakin mencintai budaya membaca sekaligus percaya diri untuk menghasilkan karya tulis mereka sendiri,” jelasnya.
Senada dengan itu, Aulia selaku Ketua Pelaksana StoryVerse menuturkan bahwa kegiatan ini dirancang agar peserta mengalami langsung seluruh proses kreatif seorang penulis.
“Peserta mendapatkan pembelajaran teori tentang menulis cerita dan mengalami proses menemukan ide, menyusun kerangka, menulis, merevisi, hingga menerima umpan balik. Harapannya, mereka memahami bahwa sebuah karya yang baik lahir melalui proses yang panjang dan terus diperbaiki,” tukasnya.
Salah seorang peserta mengaku memperoleh pengalaman baru selama mengikuti kegiatan tersebut.
“Awalnya saya mengira menulis cerita itu sulit. Setelah mengikuti StoryVerse, saya jadi tahu bagaimana mencari ide dari hal sederhana dan mengembangkannya menjadi sebuah cerita. Saya juga senang karena mendapatkan banyak masukan yang membuat tulisan saya menjadi lebih baik,” katanya.
Dengan adanya kegiatan StoryVerse, Kelompok 57 KKM Literasi Untirta berharap budaya literasi di lingkungan sekolah bukan hanya membaca tetapi juga mengembangkan bacaan mereka menjadi kemampuan berkarya.
Dengan membiasakan siswa membaca, berpikir kritis, dan menulis secara kreatif, diharapkan akan lahir lebih banyak generasi muda yang mampu menyampaikan gagasan, pengalaman, serta imajinasi mereka melalui karya-karya yang berkualitas. (Zee)







