Edu

Cegah Child Grooming dan Bullying, Mahasiswa KKM Untirta Ajak Siswa MTs Berani Melindungi Diri

ZETIZENS.ID – Kekerasan terhadap anak tidak selalu datang dalam bentuk yang mudah dikenali. Child grooming, misalnya, kerap berjalan perlahan dan halus yang diawali dengan perhatian, pujian, hingga pemberian hadiah sebelum akhirnya menjerumuskan anak ke situasi yang membahayakan.

Ditambah dengan persoalan bullying yang masih marak terjadi di lingkungan sekolah, anak-anak menjadi kelompok yang rentan tanpa bekal pengetahuan yang cukup untuk melindungi diri mereka sendiri.

Menjawab persoalan tersebut, Kelompok 40 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Tematik Reguler Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menggelar kegiatan edukasi bertajuk “Edukasi Bahaya Child Grooming dan Bullying dalam Upaya Perlindungan Anak” pada Senin, 20 Juli 2026 di MTs Al-Jauharatun Naqiyah, Buah Gede, Puloampel, Kabupaten Serang, Banten.

Mengusung tema “Save Love for Self: Aku Berharga, Aku Berhak Aman”, kegiatan ini menghadirkan Dr. Nina Yuliana, M.Si. sebagai pembicara utama. Dalam paparannya, Nina menekankan bahwa setiap anak memiliki hak untuk merasa aman dan dihargai.

Nina menjelaskan, child grooming merupakan proses bertahap yang dilakukan pelaku untuk mendekati, membangun kepercayaan, hingga akhirnya memanipulasi anak.

Tahapannya dimulai dari pendekatan dan perkenalan, pemberian perhatian khusus dan hadiah, permintaan untuk merahasiakan hubungan, hingga kontrol penuh terhadap korban.

“Pelaku bisa terlihat sangat baik di awal, tetapi tujuannya bisa berbahaya,” ujar Nina di hadapan para siswa.

Ia juga mengajarkan cara mengenali tanda bahaya atau red flag, seperti permintaan untuk merahasiakan sesuatu dari orang tua, ajakan mengirim foto pribadi, hingga kalimat manipulatif seperti “kamu cuma punya aku”.

Sebagai bekal perlindungan diri, siswa diperkenalkan pada prinsip STOP–TOLAK–CERITA: berhenti sejenak saat merasa tidak nyaman, menolak dengan tegas, lalu segera menceritakannya kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya.

Selain child grooming, isu bullying turut menjadi perhatian dalam kegiatan ini. Bullying atau perundungan, baik dalam bentuk fisik, verbal, maupun di ranah digital seperti penyebaran foto atau video tanpa izin, kerap menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kepercayaan diri dan kesehatan mental anak.

Siswa diajak untuk tidak menjadi pelaku maupun penonton pasif saat melihat tindakan perundungan, serta berani melaporkannya kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya agar dapat segera ditindaklanjuti.

Selain kedua materi tersebut, siswa juga diajak memahami pentingnya menjaga batas diri, baik menyangkut tubuh, perasaan, privasi, maupun data pribadi di dunia digital seperti kata sandi, lokasi, dan foto.

Beberapa studi kasus dan simulasi roleplay turut dihadirkan agar siswa dapat mempraktikkan cara menolak situasi tidak nyaman secara sopan namun tegas.

Di akhir sesi, para siswa diajak membangun Safety Circle atau lingkaran aman yang terdiri dari orang tua, guru, wali kelas, hingga guru BK sebagai tempat bercerita jika mengalami situasi yang tidak nyaman.

Peserta juga diperkenalkan pada layanan pengaduan resmi seperti hotline 129 dan laman lapor.go.id sebagai jalur bantuan tambahan di luar lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM Tematik Kelompok 40 Untirta berharap para siswa MTs Al Jauharatun Naqiyah tidak hanya memahami bahaya child grooming dan bullying secara teori, tetapi juga berani bersuara dan melindungi diri maupun teman-temannya dari situasi yang membahayakan. (Zee)

Tulisan Terkait

zetizens.id