Cegah Perundungan Sejak Dini, Mahasiswa KKM Untirta Gelar Sosialisasi Anti-Bullying bagi Anak di Desa Margasari

ZETIZENS.ID — Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Tematik Literasi Kelompok 21 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menyelenggarakan sosialisasi bertajuk “Be Kind, No Bully” di Desa Margasari, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, pada Selasa (28/7/2026).
Kegiatan yang diikuti oleh 84 peserta tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman anak-anak mengenai pentingnya mencegah perundungan (bullying) dan diskriminasi, khususnya terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Sosialisasi menghadirkan materi mengenai pengertian bullying dan diskriminasi, dampak yang ditimbulkan bagi korban, serta cara membangun sikap saling menghargai dan menjadi teman yang baik.
Penyampaian materi dilakukan menggunakan bahasa yang sederhana dan interaktif agar mudah dipahami oleh peserta.
Salah satu rangkaian kegiatan yang menarik perhatian peserta adalah sesi roleplay atau simulasi perundungan yang diperankan oleh perwakilan siswa SDN Bugel.
Melalui simulasi tersebut, peserta diajak memahami berbagai bentuk perundungan yang dapat terjadi di lingkungan sekolah sekaligus mendiskusikan langkah-langkah yang tepat untuk mencegah dan mengatasinya bersama fasilitator.
Sebagai bentuk refleksi, peserta juga menuliskan harapan dan pengalaman mereka terkait perundungan pada sticky notes yang kemudian ditempelkan di papan bertuliskan “Wishes No Bully”.
Kegiatan ditutup dengan pembacaan ikrar bersama sebagai komitmen untuk tidak melakukan perundungan, tidak mendiskriminasi teman, serta berani membantu dan membela korban perundungan.
Dhea Putri Amanda, mahasiswa Program Studi Pendidikan Khusus angkatan 2023 yang menjadi salah satu fasilitator kegiatan, berharap sosialisasi tersebut dapat meningkatkan pemahaman peserta mengenai Anak Berkebutuhan Khusus.
“Harapan saya setelah diadakan sosialisasi, semoga adik-adik semakin paham apa itu ABK dan dapat menerima temannya yang memiliki perbedaan dengan mereka. Selain itu, semoga guru dan orang tua dapat menerima serta memberikan fasilitas yang mencukupi bagi anak berkebutuhan khusus, sehingga tidak ada lagi perundungan di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Arsela Kamalia Azzahra, mahasiswa Program Studi Pendidikan Khusus angkatan 2023.
Menurutnya, penanaman nilai toleransi sejak dini menjadi langkah penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif.
“Semoga anak-anak sejak dini memahami perbedaan antara anak reguler dan anak berkebutuhan khusus, tidak melakukan perundungan, serta tidak membeda-bedakan dalam berteman,” katanya.
Melalui sosialisasi “Be Kind, No Bully”, mahasiswa KKM Tematik Literasi Kelompok 21 Untirta berharap nilai-nilai saling menghormati, menghargai perbedaan, dan membangun lingkungan yang inklusif dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Kegiatan ini juga menjadi salah satu upaya menanamkan kesadaran sejak dini bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar, bermain, dan berkembang tanpa rasa takut terhadap perundungan maupun diskriminasi. (Zee)







