Kenali 16 Profil Kulit Indonesia, LABORÉ Hadirkan Temuan Terbaru di EADV 2026
Riset Baumann Skin Type Indicator (BSTI) versi Indonesia memperkuat pemahaman kebutuhan kulit masyarakat Indonesia untuk perawatan yang lebih presisi.

ZETIZENS.ID – LABORÉ membawa riset mengenai karakteristik kulit masyarakat Indonesia ke panggung dermatologi global melalui partisipasinya dalam 35th European Academy of Dermatology and Venereology (EADV) Congress 2026 di Vienna, Austria, pada 30 September–3 Oktober 2026.
Bersama PERDOSKI dan para dermatolog dari FKUI-RSCM, LABORÉ memperkenalkan kembali hasil riset Baumann Skin Type Indicator (BSTI) versi Indonesia, yang dipresentasikan melalui poster ilmiah oleh dr. Irwan Saputra Batubara, MSc., Sp.DVE.
Melibatkan 150 orang dewasa di Indonesia, riset ini mengkaji karakteristik kulit melalui empat dimensi BSTI, yaitu Dry/Oily, Sensitive/Resistant, Pigmented/Non-Pigmented, serta Tight/Wrinkled.
Kombinasi keempat dimensi tersebut menghasilkan 16 profil kulit, memberikan gambaran yang lebih spesifik dibandingkan klasifikasi yang hanya membedakan kulit kering, berminyak, atau kombinasi.
“Kulit tidak dapat selalu dipahami hanya dari satu karakteristik. Dua orang yang sama-sama memiliki kulit berminyak, misalnya, dapat memiliki tingkat sensitivitas dan karakteristik kulit lainnya yang berbeda. Karena itu, pemahaman yang lebih multidimensional dapat membantu kita melihat kebutuhan kulit secara lebih utuh. Melalui penelitian ini, kami berharap BSTI versi Indonesia dapat menjadi salah satu instrumen yang membantu memberikan gambaran karakteristik kulit yang lebih sesuai dengan populasi Indonesia,” ujar dr. Irwan Saputra Batubara, MSc., Sp.DVE.
Salah satu temuan yang menarik dari riset ini terlihat pada dimensi Sensitive/Resistant. Sebanyak 3 dari 4 orang dewasa yang diteliti di Indonesia memiliki karakteristik kulit sensitif, baik pada kelompok dengan kondisi kulit kering maupun berminyak.
Temuan ini menunjukkan bahwa kulit
sensitif tidak hadir dalam satu profil yang seragam. Seseorang dapat memiliki kulit berminyak sekaligus sensitif, sementara individu lain dengan kulit kering juga dapat memiliki karakteristik sensitivitas yang berbeda.
Kolaborasi penelitian ini juga melibatkan Dr. Leslie S. Baumann, FAAD, dermatolog dari Amerika Serikat sekaligus pencipta BSTI, yang sebelumnya telah digunakan untuk mengevaluasi karakteristik kulit lebih dari 200.000 orang di berbagai negara.
Pengembangan dan pengujian versi Indonesia menjadi bagian dari upaya untuk memastikan instrumen tersebut dapat digunakan dengan mempertimbangkan konteks bahasa dan karakteristik populasi Indonesia.
Dipresentasikannya riset ini di EADV Congress 2026 menempatkan temuan mengenai karakteristik kulit masyarakat Indonesia dalam percakapan dermatologi yang lebih luas.
Bagi LABORÉ, forum ini menjadi ruang untuk berbagi hasil penelitian sekaligus mendapatkan perspektif baru dari komunitas
dermatologi global, membuka peluang kolaborasi lanjutan, dan membawa lebih banyak perspektif mengenai kulit Indonesia ke tingkat internasional. (Sobri)







