Menyulap Banten Menjadi ‘The Next Bali’: Antara Potensi Geografis dan Tantangan Realitas

ZETIZENS.ID – Selama puluhan tahun, Bali telah menjadi standar emas pariwisata Indonesia, bahkan dunia. Namun, seiring dengan meningkatnya kepadatan di Pulau Dewata, para pelancong mulai mencari alternatif destinasi yang menawarkan keindahan serupa namun dengan suasana yang lebih segar.
Di sinilah Banten muncul sebagai kandidat kuat. Dengan garis pantai yang panjang, pegunungan yang hijau, dan kekayaan budaya yang autentik, Banten memiliki semua elemen dasar untuk bertransformasi menjadi “Bali Baru” di ujung barat Pulau Jawa.
Anyer: Menjemput Senja ala Jimbaran
Salah satu potensi paling mencolok terletak di Anyer. Jika dikelola dengan serius, Pantai Anyer sangat mungkin menyamai pesona Jimbaran di Bali. Keduanya berbagi keunggulan geografis yang sama: posisi di sisi barat yang menyajikan panorama matahari terbenam yang memukau.
Potensi pasar untuk wisata kuliner seafood di tepi pantai terbuka lebar, menciptakan suasana romantis yang selama ini menjadi daya tarik utama Jimbaran.
Namun, transformasi ini bukan tanpa hambatan. Masalah utama di Anyer adalah penguasaan lahan oleh pihak swasta dan perorangan yang telah berlangsung selama puluhan tahun, sehingga akses publik menjadi terbatas.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencatat bahwa idealnya bangunan hotel berada 20 meter dari bibir pantai, namun realitasnya banyak izin lama yang sudah telanjur ada.
“Kita melihatnya bahwa hotel yang dekat pantai kira-kira kurang dari 20 meter, ada aturannya. Tapi, izin masalah hotel sekarang ini kan sudah lama punya izin,” kata pengurus PHRI Banten Sari Alam saat berbincang dengan detikTravel, Serang, Banten, Kamis (29/11/2018).
Untuk menyamai Jimbaran, Anyer membutuhkan penataan kawasan yang terpusat, pengelolaan sampah yang ketat, serta pembangunan infrastruktur ramah pejalan kaki seperti trotoar dan lampu jalan yang memadai .
Sawarna dan Mandalawangi: Kuta yang Liar dan Jatiluwih yang Sejuk
Bergerak ke selatan, kita menemukan Pantai Sawarna yang sering dijuluki sebagai “Bali rasa Banten”. Dengan ombak besar yang cocok untuk berselancar dan pasir putih yang membentang, Sawarna memiliki kemiripan karakter dengan Pantai Kuta. Namun, berbeda dengan Kuta yang ramah bagi perenang pemula, Sawarna memiliki arus kuat khas Samudera Hindia yang berbahaya, sehingga lebih cocok bagi para pencari ketenangan dan backpacker daripada pariwisata massal.
“Apabila sebuah destinasi dikembangkan dengan pendekatan partisipatif dan berwawasan lingkungan, maka manfaat ekonominya akan dirasakan secara langsung oleh masyarakat sekitar. Ini merupakan aset yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola secara berkelanjutan dan profesional,” ucap Plt Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Linda Rohyati Fatimah, di sela-sela kegiatan Pendampingan Peningkatan Kapasitas Pengelola Destinasi Pariwisata Berkelanjutan Identifikasi Masalah Pengelolaan Destinasi Pariwisata di Wisata Pantai Carita, Selasa (20/05/25) seperti yang diulas laman Harmoni.
Jarak yang cukup jauh dari Jakarta, sekitar 180 hingga 230 kilometer dengan medan menantang, tetap menjadi tantangan utama dalam mendatangkan wisatawan.
Sementara itu, bagi pecinta wisata agraris, kawasan Mandalawangi di Pandeglang menawarkan potensi yang mirip dengan Jatiluwih di Bali.
Terletak di lereng Gunung Karang, Pulosari, dan Aseupan, Mandalawangi memiliki udara sejuk dan pemandangan sawah berundak atau terasering yang eksotis.
Agar bisa sejajar dengan Jatiluwih, pemerintah daerah perlu memastikan perlindungan lahan agar sawah tidak beralih fungsi, serta memperbaiki akses jalan agar nyaman dilalui kendaraan besar seperti bus pariwisata.
Sangiang: Nusa Penida yang Tersembunyi
Di Selat Sunda, terdapat Pulau Sangiang yang memiliki lanskap alam mirip dengan Nusa Penida. Keunggulan utamanya terletak pada tebing-tebing pesisir yang curam, seperti Bukit Begal, serta gua-gua laut eksotis seperti Goa Kelelawar.
Pulau ini juga menyimpan kekayaan bawah laut yang luar biasa untuk kegiatan menyelam. Sayangnya, kesiapan Sangiang masih sangat minim dalam hal akomodasi, restoran, dan fasilitas sanitasi standar pariwisata.
Tanpa penataan jalur trekking yang aman dan fasilitas pendukung yang memadai, potensi Sangiang sebagai destinasi kelas dunia akan tetap terpendam.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Banten, Eneng Nurcahyati mengatakan, Gubernur memberikan perhatian besar terhadap potensi-potensi wisata setempat, salah satunya keindahan alam yang ada di pulau-pulau
“Pulau-pulau tersebut belum tergarap secara optimal sebagai destinasi wisata. Oleh karena itu ia berharap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) mengidentifikasi potensi-potensi tersebut. Kami berharap DKP juga memetakan profilnya secara detil untuk memudahkan dalam pengambilan kebijakan untuk tahapan pengelolaannya. Sehingga bisa dilakukan pembahasan bersama dengan OPD terkait termasuk Dinas Pariwisata dalam penataan destinasinya,” kata Eneng seperti dikutip dari laman Republika, Jumat (15/9/2017).
Baduy: Menjaga Kesakralan di Tengah Modernisasi
Menarik untuk membandingkan kawasan masyarakat adat Baduy di Kabupaten Lebak dengan Desa Penglipuran di Bali. Meskipun keduanya merupakan desa adat, Baduy memiliki prinsip hidup yang sangat berbeda.
Jika Penglipuran terbuka sepenuhnya sebagai objek wisata komersial yang beradaptasi dengan teknologi, Baduy memegang teguh prinsip “Saba Budaya”.
Masyarakat Baduy, khususnya Baduy Dalam, melarang penggunaan gawai, sabun kimia, kendaraan, hingga pengambilan foto demi menjaga kesucian wilayah mereka.
Mereka lebih memposisikan diri sebagai cagar budaya atau alam daripada destinasi wisata massal yang berisiko merusak ekosistem dan tradisi lokal.
Gubernur Banten Andra Soni menegaskan, Pemerintah Provinsi Banten akan terus membangun komunikasi dengan masyarakat adat Baduy, tidak hanya melalui momentum Seba, tetapi juga melalui koordinasi berkelanjutan.
“Insya Allah komunikasi terus kita bangun. Melalui Jaro Pamarentah, mereka selalu menyampaikan hal-hal yang perlu dilaporkan. Kami berterima kasih kepada masyarakat adat Kanekes yang setia kepada pemerintah dan terus memberikan masukan, salah satunya dalam menjaga alam,” katanya seperti dikutip laman Detik, (25/4/2026).
Membangun Identitas Banten
Banten memang memiliki potensi besar untuk menjadi “The Next Bali,” namun perjalanan menuju ke sana memerlukan komitmen yang besar dari berbagai pihak.
Tantangan klasik seperti pengelolaan sampah, penataan pedagang yang belum rapi, serta keterbatasan infrastruktur jalan masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.
Selain itu, penting untuk diingat bahwa transformasi tidak selalu berarti harus menjiplak Bali secara identik. Banten harus mampu menjaga keseimbangan antara komersialisasi pariwisata dan pelestarian alam serta budaya lokal, sebagaimana yang diinginkan oleh masyarakat adat Baduy.
Dengan penataan yang tepat, Banten tidak hanya akan menjadi alternatif saat orang jenuh dengan Bali, tetapi akan menjadi destinasi yang memiliki jati diri dan pesona uniknya sendiri. (Hilal)







