Traveling

Bendungan Pamarayan, Bangunan Bersejarah Pengendali Air

ZETIZENS.ID – Bangunan ikonik ini ada di Pamarayan, Kabupaten Serang, Banten. Inilah Bendungan Pamarayan aka Bendung Pamarayan, bangunan bersejarah pengendali air dan irigasi di Kabupaten Serang, Banten.

Dibangun pada masa kolonial Belanda, bangunan aslinya kini menjadi cagar budaya, sementara fungsinya digantikan oleh bendungan baru yang berjarak sekitar 1 kilometer.

Bendung Lama Pamarayan dibangun antara tahun 1905 dan 1925. Bendungan ini memiliki 10 pintu air dan merupakan bendungan terbesar pertama yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda di Indonesia.

Saat ini bendungan tua tersebut sudah tidak beroperasi karena terjadi pendangkalan dan kerusakan, namun ditetapkan menjadi situs cagar budaya yang sering dikunjungi untuk wisata sejarah.

Sementara Bendungan Baru Pamarayan yang merupakan bendungan modern, dibangun sebagai pengganti bendungan lama. Bendungan baru ini berfungsi vital untuk mengatur aliran Sungai Ciujung serta mengairi ribuan hektare area persawahan di wilayah Kabupaten Serang dan sekitarnya.

Situs ini terletak di perbatasan antara Desa Pamarayan (Kecamatan Pamarayan) dan Desa Panyabrangan (Kecamatan Cikeusal), Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Laman National Geographic membahas, sekitar lima dasawarsa setelah terbitnya novel Max Havelaar karya Multatuli, pemerintah Hindia Belanda bermaksud menuntaskan perkara irigasi—juga penanggulangan banjir dan paceklik—di Banten Utara. Melalui bendungan ini.

Pemerintah menggulirkan proyek pembangunan bendung di aliran Sungai Ciujung. Lokasinya di Serang, tepatnya di Kawedanan Pamarayan.

Gagasan pembangunan bendung ini seolah ingin menyangkal apa yang pernah dikatakan Multatuli dalam novelnya: “Di tempat penduduk menipis karena kekurangan atau kelaparan, dikatakanlah sebagai akibat paceklik, kekeringan, hujan, atau semacamnya, dan tidak pernah karena salah urus dalam pemerintahan.”

Sungai Ciujung mengular sejauh 142 kilometer. Berhulu di Gunung Halimun, bermuara di Tekurak—pesisir utara Jawa. Alirannya mendapat pasokan juga dari Gunung Karang dan Gunung Endut.

Setelah Sungai Ciujung bertemu Sungai Cibeurang di Rangkasbitung, kemudian alirannya berkelok-kelok menuju pesisir utara Jawa melalui Pamarayan di Kabupaten Serang. (Zee)

Tulisan Terkait

zetizens.id