Life Style

Alfin Habib Hidupkan Kembali ‘Cindai’ dengan Sentuhan Baru, Tetap Kental Nuansa Melayu

ZETIZENS.ID – Lagu legendaris “Cindai” kembali hadir dengan interpretasi baru melalui suara penyanyi dangdut Alfin Habib. Lagu yang sebelumnya dipopulerkan oleh penyanyi asal Malaysia, Siti Nurhaliza, kini dibawakan dari sudut pandang seorang laki-laki tanpa menghilangkan karakter musik Melayu yang telah melekat pada karya tersebut.

Bagi Alfin, keputusan untuk membawakan ulang “Cindai” berangkat dari kecintaannya terhadap musik Melayu yang telah menjadi bagian dari perjalanan bermusiknya. Melalui aransemen baru, ia ingin menghadirkan pengalaman mendengarkan yang berbeda, sekaligus tetap menghormati kekuatan karya aslinya.

Membawakan lagu yang telah begitu lekat dengan penyanyi aslinya menjadi tantangan tersendiri. Menurut penyanyi kelahiran 1993 ini, tantangan terbesar bukan terletak pada teknik vokal, melainkan bagaimana menerjemahkan emosi lagu yang selama ini identik dengan perspektif perempuan menjadi kisah yang tetap terasa alami ketika dinyanyikan oleh seorang laki-laki.

“Saat pertama kali mendapatkan kesempatan membawakan ‘Cindai’, saya benar-benar speechless dan sempat tidak percaya. Lagu ini adalah karya legendaris yang dipopulerkan oleh Datuk Siti Nurhaliza, sehingga tantangannya terasa sangat besar. Saya sadar ada tanggung jawab untuk membawakan lagu ini dengan sebaik mungkin,” ujar Alfin.

Mantan finalis ajang kompetisi D’Academy musim ketiga ini menjelaskan, proses interpretasi dilakukan tanpa mengubah kekuatan melodi asli yang menjadi ciri khas lagu tersebut. Alfin ingin menghadirkan warna baru yang lebih dekat dengan selera pendengar masa kini tanpa menghilangkan identitas melayu yang menjadi kekuatan “Cindai.”

“Sekarang banyak lagu lama yang diaransemen ulang dengan sentuhan modern. Dari situ saya merasa ini adalah waktu yang tepat untuk menghadirkan kembali ‘Cindai’ dalam versi yang lebih segar, namun tetap mempertahankan nuansa Melayu yang menjadi jiwanya,” tambah Alfin.

Dalam proses penggarapannya, Alfin berupaya menjaga keseimbangan antara sentuhan modern dan karakter asli lagu. Ia memastikan unsur-unsur khas musik Melayu tetap dipertahankan agar identitas “Cindai” tidak memudar di balik aransemen baru yang lebih relevan dengan selera pendengar masa kini.

“Saya tetap menghadirkan cengkok dan senandung khas Melayu agar esensi lagu legendaris ini tidak hilang,” ujarnya.

Upaya tersebut turut didukung oleh pengalaman Alfin sebagai musisi multi-instrumentalis. Selain dikenal sebagai penyanyi, ia juga menguasai berbagai alat musik, seperti biola, akordeon, piano, saksofon, dan gitar. Kemampuan bermain alat musik ini membantu Alfin dalam memahami karakter musik Melayu secara lebih mendalam, termasuk saat menentukan aransemen yang tetap mempertahankan identitas musikal lagu.

Sebelum merilis “Cindai”, Alfin telah lebih dulu dikenal melalui sejumlah karya, di antaranya melalui lagu “Permaisuri Hatiku” dan “Hilang Saat Terang”, yang turut memperkuat posisinya di blantika musik Melayu tanah air.

Di tengah berkembangnya berbagai genre musik populer di berbagai platform digital, Alfin memilih tetap konsisten berkarya di jalur musik Melayu. Baginya, musik Melayu memiliki karakter yang khas sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman sehingga tetap relevan dinikmati lintas generasi.

“Musik Melayu membentuk perjalanan karier saya sampai hari ini. Walaupun saya sering membawakan berbagai genre saat tampil, orang tetap mengenal saya lewat warna Melayu yang menjadi ciri khas saya,” kata Alfin.

Ia berharap versi terbaru “Cindai” dapat menjadi ruang bernostalgia bagi para pendengar lama sekaligus memperkenalkan musik Melayu kepada generasi yang lebih muda.

“Untuk pendengar yang tumbuh bersama ‘Cindai’, saya berharap lagu ini bisa menjadi ruang untuk bernostalgia dengan nuansa yang baru. Sementara bagi generasi muda yang mungkin baru mengenal lagu ini, semoga versi ini bisa menjadi jembatan untuk melihat bahwa musik Melayu tetap indah dan dapat dinikmati semua kalangan. Saya juga berharap ke depannya, musik Melayu Indonesia terus lestari dan semakin dikenal, bukan hanya di Asia tetapi juga di dunia,” tutup Alfin. (Zee)

Tulisan Terkait

zetizens.id