Jaadugar: A Witch in Mongolia, Anime Islami yang Mencuri Perhatian

ZETIZENS.ID – Ini loh anime yang lagi mencuri perhatian dan wira-wiri di media sosial, Jaadugar: A Witch in Mongolia. Kartun ini viral karena menghadirkan nuansa Islami seperti kumandang azan dan berlatar era masa kejayaan Islam.
Laman Tempo membahas, Anime Jaadugar: A Witch in Mongolia memang lagi jadi pembicaraan internasional termasuk di Indonesia. Serial anime yang diproduksi oleh Science SARU, Jaadugar: A Witch in Mongolia yang baru saja tayang terdengar ada suara Azan.
Tayang perdana pada 4 Juli di platform streaming Crunchryroll, baru saja menit pertama tayang sudah terdengar ada Azan. Para karakter di pemukiman rumah Mongolia juga tampak membuka jendela rumahnya saat pagi tiba.
Sang karakter utama yang memakai hijab panjang dan menutup wajahnya tampak berlari-lari dan menuju ke sumber suara. Saat berada di depan bangunan masjid yang ada kubah, ia membuka penutup wajahnya dan tampak takjub lalu tersenyum.
Sepanjang industri anime Jepang, jarang banget ada anime yang berani mengangkat budaya Mongol-Persia sampai sedetail tersebut. Bahkan sengaja memasukkan azan ke dalam scene.
Berlatar abad ke-13 di kekaisaran Mongol, animenya menceritakan soal Fatima atau Sitara seorang anak perempuan muslim Persia yang cerdas dan punya pengetahuan di bidang pengobatan.
Takdir membawanya ke lingkungan kekaisaran Mongol, tempat ia harus menghadapi intrik politik dan perubahan sejarah.
Sementara itu, Kekaisaran Mongol yakni kekaisaran terkuat di bumi di bawah Kaisar Genghis Khan, berulang kali menyerang negara lain dan memperluas kekuasaannya dari hari ke hari.
Ketika ambisi ini mencapai kota tempat Sitara tinggal, kehidupan damainya berakhir, dan takdirnya mulai berubah secara dramatis.
Serial Jaadugar disutradarai oleh Naoko Yamada sutradara film terkenal A Silent Voice. Abel Gongora akan menjadi sutradara, dan Kenichi Yoshida yang sebelumnya bekerja dengan Studio Ghibli akan menjadi perancang karakter serialnya.
Animenya diadaptasi dari komik berjudul Tenmaku no Jaadugar karya Tomato Soup yang terbit di Majalah Manga digital Souffle milik Akita Shoten. Sampai sekarang sudah ada 5 volume yang rilis.
Jarang Dieksplorasi
Laman RRI Surabaya membahas, di tengah dominasi anime fantasi dan dunia modern, kehadiran Jaadugar: A Witch in Mongolia berhasil menarik perhatian karena mengangkat latar sejarah yang jarang dieksplorasi.
Anime garapan Science SARU ini menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar anime global karena menghadirkan tokoh utama Muslim dengan penggambaran yang dinilai lebih autentik dan menghormati latar budaya serta sejarah Islam.
Bahkan, sejumlah penggemar di media sosial menyebut Jaadugar sebagai representasi Muslim dalam anime yang telah lama mereka nantikan.
Dilansir dari Anime News Network dan berbagai tanggapan komunitas penggemar, serial ini mulai tayang pada musim panas 2026 dan langsung memperoleh respons positif berkat pendekatan historisnya.
Dilansir dari Anime News Network, Jaadugar merupakan adaptasi manga A Witch’s Life in Mongol karya Tomato Soup, yang di Jepang berjudul Tenmaku no Jādūgaru.
Adaptasi animenya diproduksi oleh Science SARU, dengan Naoko Yamada sebagai chief director dan Abel Góngora sebagai sutradara.
Studio tersebut sebelumnya dikenal melalui berbagai anime dengan kualitas visual artistik yang tinggi, sehingga banyak penggemar menaruh ekspektasi besar terhadap proyek ini.
Ceritanya berlatar pada abad ke-13 di wilayah Persia, tepatnya di kota Tus, Iran.
Tokoh utamanya adalah seorang gadis muda bernama Sitara, yang dijual sebagai budak kepada sebuah keluarga cendekiawan Muslim.
Di sana ia mulai mempelajari ilmu pengetahuan, sastra, dan filsafat Islam. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika pasukan Mongol menyerbu Persia.
Setelah kehilangan orang-orang yang ia sayangi, Sitara dibawa ke Kekaisaran Mongol dan kemudian menggunakan nama Fatima, memulai perjalanan baru yang penuh intrik politik, perjuangan, dan pencarian jati diri.
Dilansir dari Anime News Network, kisah ini terinspirasi oleh sejumlah tokoh dan peristiwa sejarah nyata pada masa ekspansi Kekaisaran Mongol.
Berbeda dengan sebagian besar anime yang hanya menjadikan karakter Muslim sebagai tokoh pendukung, Jaadugar menempatkan identitas agama dan budaya sebagai bagian penting dalam perjalanan karakter utamanya.
Nilai-nilai seperti pentingnya ilmu pengetahuan, penghormatan terhadap tradisi intelektual Islam, serta kehidupan masyarakat Persia pada abad pertengahan digambarkan secara alami tanpa menjadikannya sekadar elemen dekoratif.
Hal inilah yang membuat banyak penonton menyambut anime tersebut sebagai representasi Muslim yang lebih berimbang dan manusiawi.
Selain mengangkat tema sejarah, Jaadugar juga memperoleh pujian berkat riset budayanya yang mendalam.
Dilansir dari Wikipedia yang merangkum wawancara kreatornya, Tomato Soup mempelajari berbagai manuskrip abad pertengahan, pakaian tradisional, arsitektur Persia, hingga kondisi sosial pada masa Kekaisaran Mongol agar dunia yang dibangun terasa autentik.
Gaya visual anime pun mengadaptasi ilustrasi manuskrip kuno dengan perpaduan warna yang khas sehingga menghasilkan identitas artistik yang berbeda dari anime sejarah pada umumnya.
Respon positif juga datang dari komunitas internasional. Di media sosial, banyak penggemar menyebut Jaadugar sebagai angin segar karena menghadirkan karakter Muslim tanpa bergantung pada stereotip yang sering muncul dalam media populer.
Mereka mengapresiasi bagaimana anime ini memperlihatkan kehidupan masyarakat Muslim melalui sudut pandang sejarah, pendidikan, dan kemanusiaan, bukan hanya konflik atau peperangan.
Meski demikian, sebagian penonton juga berharap serial ini tetap menjaga akurasi sejarah hingga akhir penayangannya.
Tak hanya menarik dari sisi cerita, manga aslinya juga telah meraih berbagai penghargaan di Jepang. Karya Tomato Soup pernah menduduki peringkat pertama kategori pembaca perempuan dalam Kono Manga ga Sugoi! 2023, memperoleh nominasi Manga Taisho, serta memenangkan penghargaan utama pada Japan Cartoonists Association Awards 2026.
Prestasi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa adaptasi animenya begitu dinantikan sebelum akhirnya tayang tahun ini.
Dengan perpaduan kisah sejarah, kualitas animasi dari Science SARU, serta representasi budaya yang lebih autentik, Jaadugar: A Witch in Mongolia menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan anime sejarah lainnya.
Kehadirannya tidak hanya memperkaya keragaman cerita dalam industri anime, tetapi juga menunjukkan bahwa kisah-kisah dari peradaban Islam dan Asia Tengah memiliki potensi besar untuk diangkat kepada penonton global melalui medium animasi.
Kamu sudah nonton, belum? (Zee)







