Tentang Ekspektasi, Jarak, dan Hal-Hal yang Tak Pernah Benar-benar Terucap

ZETIZENS.ID — Melanjutkan semesta emosional yang telah diperkenalkan melalui “you don’t love me anymore,” EVE kembali lewat single terbaru berjudul “durhaka,” sebuah karya yang memperluas narasi tentang ekspektasi, jarak emosional, identitas, dan penerimaan dalam kehidupan sehari-hari pada umumnya.
Ditulis sepenuhnya dalam Bahasa Indonesia, “durhaka” menjadi salah satu karya EVE yang paling intimate sejauh ini.
Lagu ini berbicara tentang rumitnya menghadapi ekspektasi sambil perlahan belajar menjaga diri sendiri. Bukan tentang menyalahkan siapa pun, melainkan tentang diam, rindu, dan penerimaan yang hadir
secara bersamaan dalam hubungan antar sesama.
Dalam konteks budaya Indonesia, kata “durhaka” sendiri memiliki makna yang sangat kuat. Kata tersebut sering dilekatkan pada seseorang yang dianggap mengecewakan atau tidak memenuhi harapan keluarga.
Namun melalui lagu ini, EVE mencoba memandang kata tersebut dari sisi yang lebih personal dan manusiawi — sebagai ruang emosional yang mungkin muncul ketika seseorang merasa sulit memenuhi
ekspektasi, namun tetap menyimpan kasih, dan rasa hormat.
Dari segi musik, “durhaka” menghadirkan pendekatan yang lebih tenang dan intim melalui produksi berbasis piano, nuansa live recording studio, serta aransemen cello yang emosional.
Produksi lagu ini sengaja dibuat agar emosi dari liriknya terasa lebih dekat, jujur, dan sederhana.
Lewat penulisan lirik yang lebih percakapan, personal, dan reflektif, EVE menghadirkan cerita yang mungkin sulit diucapkan banyak orang, namun diam-diam dirasakan oleh banyak pendengar.
Penggalan lirik seperti: “sampai sini saja, ku nyatakan walau ku durhaka, sampai kapanpun kau tetap takdirku” menjadi inti emosional dari lagu ini — tentang lelah, penerimaan, dan kenyataan bahwa seseorang tetap bisa mencintai, meski tidak lagi mampu bertahan dalam cara yang sama.
Sementara lirik: “entah sampai kapan aku bisa menahan, dengan semua kelabumu yang katanya cinta” menggambarkan rasa lelah dalam menghadapi tekanan emosional yang sering kali hadir di balik ekspektasi
dan kasih sayang.
EVE mengungkapkan bahwa “durhaka” lahir dari refleksi pribadi, pengamatan dan kumpulan cerita emosional dari sekitar, serta berbagai cerita mengenai ekspektasi, jarak emosional, dan hal-hal yang sering kali sulit diungkapkan secara langsung.
“Menurutku, kadang orang bisa saling menyayangi, tapi tetap kesulitan memahami satu sama lain sepenuhnya. Apalagi dalam keluarga, perasaan sering kali jauh lebih rumit dari yang terlihat. Masih ada cinta di dalam diam, kecewa, atau jarak yang terbentuk perlahan. ‘durhaka’ lahir dari usaha untuk jujur terhadap perasaan itu tanpa menyudutkan siapa pun,” ujar EVE.
Melalui “durhaka,” EVE kembali melanjutkan semesta emosional menuju proyek mendatangnya — sebuah rangkaian karya yang banyak berbicara tentang keluarga, kedewasaan, dan usaha seseorang untuk
menemukan damai.
Harapannya, “durhaka” dapat mengajak pendengarnya untuk duduk bersama emosi-
emosi yang selama ini mungkin mereka pendam sendiri.
“durhaka” kini sudah tersedia di seluruh digital streaming platform. (Sobri)







