Viral

Mengenal Cowok Avoidant, Sejenis Apa Itu?

ZETIZENS.ID – Pernah dengar istilah cowok avoidant? Kalau belum, simak ini yuk.

Cowok avoidant adalah individu dengan gaya keterikatan (attachment style) yang cenderung menghindari kedekatan emosional, menjaga jarak, dan mandiri secara berlebihan dalam hubungan.

Mereka bukan tidak punya perasaan, melainkan takut kehilangan kontrol atau terluka, sehingga menarik diri saat hubungan menjadi terlalu intim.

Tipe ini sangat menghargai kemandirian, sulit membuka diri (ekspresi emosi), cenderung slow response, sering menghilang (ghosting) saat konflik, dan merasa sesak jika pasangan terlalu clingy.

Penyebabnya, umumnya berakar dari pola asuh masa kecil yang dingin, sering diabaikan, dipaksa mandiri terlalu cepat, atau trauma penolakan.

Saat hubungan mulai menuntut komitmen tinggi, dia justru menjaga jarak.

Tipe ini biasanya mandiri ekstrem. “Aku bisa selesaikan masalahku sendiri, nggak butuh bantuanmu.” Begitu kira-kira kalimat yang sering dilontarkan.

Perlu diingat, tipe ini tiba-tiba tidak bisa dihubungi saat ada masalah emosional.

Sejak Kanak-kanak

Laman Detik Jogja membahas, istilah ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Namun faktanya, ini adalah pola hubungan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dan bisa berdampak besar dalam kehidupan dewasa, terutama dalam menjalin kedekatan secara emosional.

Dikutip dari Cleveland Clinic, gaya keterikatan atau attachment style adalah pola dalam menjalin hubungan yang terbentuk sejak kecil, berdasarkan bagaimana orang tua atau pengasuh utama merespons kebutuhan emosional kita.

Jika seorang anak tumbuh dengan pengasuh yang secara emosional kurang hadir atau tidak responsif, mereka bisa mengembangkan gaya keterikatan avoidant.

Avoidant attachment atau gaya keterikatan menghindar adalah salah satu dari empat gaya keterikatan yang dikenal dalam psikologi. Gaya ini terbentuk ketika seseorang terbiasa mengandalkan diri sendiri secara emosional sejak kecil, sehingga saat dewasa mereka cenderung menjaga jarak dalam hubungan.

Orang dengan gaya keterikatan ini biasanya terlihat sangat mandiri dan tidak nyaman dengan kedekatan emosional yang mendalam.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang dengan gaya avoidant sering kali tampak tenang dan tidak membutuhkan banyak perhatian dari orang lain. Mereka lebih suka menyelesaikan masalah sendiri dan jarang menunjukkan perasaan secara terbuka.

Saat menghadapi konflik atau situasi emosional, mereka lebih memilih menarik diri daripada membuka diri dan mencari dukungan.

Gaya keterikatan ini bisa terbawa hingga ke hubungan dewasa, termasuk hubungan romantis dan persahabatan.

Mereka cenderung menghindari ketergantungan, baik menjadi tempat bergantung maupun bergantung pada orang lain. Meski mungkin mereka terlihat tidak tertarik pada kedekatan, sebenarnya mereka hanya sulit membangun rasa aman dalam hubungan yang melibatkan emosi mendalam.

Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa sekitar 20% orang dewasa di Amerika mengaku memiliki gaya keterikatan avoidant.

Gaya ini lebih umum ditemukan pada pria dibandingkan wanita. Meskipun mereka tampak kuat dan mandiri dari luar, sering kali ada lapisan emosi yang ditekan dan tidak diungkapkan.

Penyebab Seseorang Menjadi Avoidant

Faktanya, avoidant attachment tidak terjadi begitu saja, ada banyak hal yang menyebabkan kondisi tersebut terbentuk. Berikut ini adalah sejumlah penyebab serta penjelasannya.

1. Orang Tua yang Tidak Responsif Secara Emosional
Anak-anak yang tumbuh dengan orang tua atau pengasuh yang tidak merespons kebutuhan emosional mereka cenderung mengembangkan gaya keterikatan avoidant. Ketika seorang anak berulang kali merasa diabaikan saat mencari kenyamanan atau dukungan, mereka akan belajar untuk tidak lagi menunjukkan kebutuhan tersebut.

Lama-kelamaan, anak akan menekan keinginan untuk mencari kenyamanan dan cenderung mengandalkan diri sendiri dalam menghadapi kesulitan.

2. Sering Dilarang Menangis atau Menunjukkan Emosi
Beberapa anak dibesarkan dalam lingkungan yang tidak membolehkan mereka mengekspresikan emosi. Saat seorang anak dilarang menangis atau bahkan diejek ketika sedang merasa sedih atau takut, mereka belajar bahwa menunjukkan perasaan bukanlah hal yang aman.

Kebiasaan ini bisa membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang tertutup dan sulit membangun hubungan emosional yang sehat dengan orang lain.

3. Pola Asuh yang Kaku dan Terlalu Keras
Orang tua yang terlalu ketat dan menuntut ketaatan tanpa memberi ruang untuk diskusi atau ekspresi bisa menjadi penyebab anak berkembang dengan gaya keterikatan avoidant. Dalam situasi seperti ini, anak merasa tidak bebas menjadi diri sendiri dan lebih memilih untuk menyembunyikan pikiran serta perasaannya. Hal ini memupuk sikap tertutup dan sulit percaya pada orang lain di masa dewasa.

4. Kurangnya Sentuhan Fisik dan Kelembutan
Beberapa orang tua secara tidak sadar menghindari kontak fisik dengan anak, seperti pelukan atau belaian. Sentuhan fisik sebenarnya sangat penting dalam membangun ikatan emosional. Anak yang jarang mendapatkan sentuhan kasih sayang bisa merasa tidak dicintai atau tidak penting, lalu mengembangkan sikap menjaga jarak dalam hubungan sosial maupun romantis saat dewasa.

5. Pengalaman Trauma di Masa Kecil
Trauma seperti kekerasan fisik, pelecehan emosional, atau pengalaman buruk lainnya di masa kanak-kanak juga dapat memicu terbentuknya gaya keterikatan avoidant. Anak yang mengalami trauma cenderung menarik diri dan menutup akses emosinya sebagai bentuk perlindungan diri. Mereka merasa tidak aman untuk membuka diri atau mempercayai orang lain, yang pada akhirnya terbawa hingga dewasa.

6. Pengasuh Juga Memiliki Gaya Avoidant
Anak-anak meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya, termasuk gaya berinteraksi emosional. Jika orang tua atau pengasuh sendiri memiliki gaya keterikatan avoidant, kemungkinan besar pola ini akan ditiru oleh anak. Mereka tidak belajar bagaimana membangun kelekatan yang sehat karena tidak mendapat contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

7. Faktor Genetik
Meski pengaruh lingkungan sangat kuat, faktor genetik juga bisa berperan dalam perkembangan gaya keterikatan avoidant. Penelitian menunjukkan bahwa hampir empat puluh persen kasus keterikatan avoidant pada orang dewasa mungkin dipengaruhi oleh gen tertentu, terutama yang berkaitan dengan pengaturan emosi dan respons terhadap stres. Namun, temuan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk dipahami secara menyeluruh.

8. Pengalaman Rejeksi dan Perbedaan Perlakuan Sejak Kecil
Anak yang merasa ditolak atau diperlakukan berbeda dari anak-anak lain bisa kehilangan kepercayaan terhadap hubungan sosial. Jika mereka terbiasa dianggap tidak cukup baik atau terus-menerus dibandingkan, mereka bisa menarik diri sebagai mekanisme pertahanan. Kondisi ini memupuk keyakinan bahwa hubungan dengan orang lain hanya akan berujung pada rasa sakit atau penolakan. (Zee)

Tulisan Terkait

Back to top button
zetizens.id