Sungai Cibanten, Urat Nadi Peradaban di Masa Lalu

ZETIZENS.ID – Jika berkunjung ke Kota Serang, tak jauh dari Alun-alun Kota Serang ada jembatan bertuliskan Sungai Cibanten. Ini bukan sembarang sungai. Ada kebesaran dan kebanggaan Banten di masa lalu.
Ya, Sungai Cibanten di masa lalu merupakan
urat nadi peradaban dan jalur transportasi perdagangan rempah-rempah yang vital di Banten, menghubungkan wilayah pedalaman (Banten Girang) dengan pesisir (Karangantu).
Sungai ini menjadi saksi sejarah sejak era prasejarah, kerajaan Hindu-Buddha, hingga kejayaan Kesultanan Banten dan kolonial.
Dahulu, sungai ini sangat dalam dan mampu dilalui kapal-kapal besar yang mengangkut rempah-rempah dari laut ke pedalaman.
Sepanjang alirannya ditemukan tinggalan prasejarah (punden berundak, alat batu) hingga Hindu-Buddha (Situs Banten Girang abad ke-10 hingga 16).
Sungai ini berperan penting dalam mendukung mobilitas perdagangan dan pertahanan kerajaan saat masa Kesultanan Banten.
Sungai ini mengalir melewati situs-situs penting, termasuk Banten Girang di hulu dan area Kesultanan Banten Lama di hilir.
Saat ini, fungsi Sungai Cibanten menurun akibat pendangkalan dan penyempitan, namun jejak sejarahnya tetap menjadikan sungai ini situs budaya yang penting.
Vital
Sungai Cibanten di masa lalu berperan vital
sebagai jalur transportasi utama, urat nadi perdagangan rempah-rempah, dan pusat peradaban yang menghubungkan wilayah pesisir (Banten Lama) dengan pedalaman (Banten Girang) sejak masa prasejarah hingga kolonial.
Sungai ini memfasilitasi perdagangan internasional dan mendukung kehidupan permukiman, saksi kejayaan Kesultanan Banten.
Sungai ini merupakan urat nadi perhubungan yang menghubungkan Pelabuhan Banten Lama di pesisir dengan Banten Girang di pedalaman, memungkinkan perahu pengangkut rempah-rempah berlayar hingga ke pusat kota.
Pada abad ke-17, sungai ini menjadi jalur perdagangan aktif, terutama untuk mengangkut komoditas seperti gula dan arak dari pemukiman di sekitarnya.
Keberadaannya sangat krusial bagi perekonomian Kesultanan Banten dalam perdagangan lada internasional.
Sepanjang aliran sungai ini ditemukan peninggalan arkeologis dari berbagai masa, mulai dari prasejarah (alat batu, manik-manik), Hindu-Buddha di Banten Girang, hingga masa Kesultanan Banten, menunjukkan sungai ini merupakan pusat aktivitas manusia.
Sungai ini menjadi akses penting menuju istana keraton dan pertahanan kota. Selain itu, jadi saksi bisu sejarah ini menghubungkan situs-situs bersejarah seperti Situs Banten Girang di hulu dengan kawasan Banten Lama di hilir.
Berdasarkan catatan sejarah dan jejak arkeologis, Sungai Cibanten di masa lalu memiliki peran vital yang mirip dengan sungai-sungai besar di Eropa, khususnya sebagai jalur perdagangan internasional yang sibuk, urat nadi transportasi air, dan pusat peradaban.
Pada masa keemasan Kesultanan Banten (khususnya hingga abad ke-17), Sungai Cibanten dapat dilayari dan berfungsi sebagai urat nadi perdagangan rempah-rempah yang menghubungkan pedalaman dengan Pelabuhan Karangantu di Teluk Banten. Ini mirip dengan sungai Rhine atau Thames yang menjadi jalur perdagangan utama.
Sungai ini adalah sarana transportasi utama yang menghubungkan pesisir dan pedalaman, digunakan oleh pedagang lokal maupun asing, termasuk perwakilan dagang Eropa (VOC).
Di sepanjang aliran sungai, tumbuh peradaban penting mulai dari masa prasejarah, Hindu-Buddha (situs Banten Girang), hingga masa Kesultanan Banten.
Pada masanya, sungai ini melengkapi keindahan istana sultan.
Namun, secara fisik dan geografis, tentu berbeda. Sungai Cibanten berhulu di Gunung Karang dan bermuara di Teluk Banten, dengan perannya yang krusial bagi kerajaan maritim di daerah tropis, berbeda dengan sungai-sungai Eropa yang lebih panjang dan mengalir melalui iklim sedang.
Kini, Sungai Cibanten mengalami pendangkalan dan penyempitan, dan sedang dalam upaya revitalisasi untuk mengembalikan perannya sebagai warisan sejarah dan wisata budaya. (Zee)







