Masjid Kuno Kaujon, Cagar Budaya Bersejarah Bukti Perlawanan Pejuang di Banten

ZETIZENS.ID – Pada 12 Maret 2026 lalu di acara Ramadan Youth Storyteller, Zetizens diajak berkunjung ke Masjid Kuno Kaujon, Kota Serang. Yuk cari tahu masjid satu ini.
Masjid Kuno Kaujon di Kota Serang, Banten, merupakan cagar budaya yang diperkirakan berdiri sebelum tahun 1870-an, kemungkinan besar sejak masa Kesultanan Banten atau awal kolonial Belanda.
Terletak strategis di tepi Sungai Cibanten, masjid ini sempat menjadi basis perlawanan pejuang lokal melawan Belanda pada abad ke-19.
Masjid Kuno Kaujon di Kota Serang, Banten, diperkirakan dibangun oleh tokoh masyarakat lokal yang dikenal sebagai Ki Uju pada kisaran abad ke-17 hingga ke-18.
Masjid ini memiliki nilai sejarah tinggi sebagai tempat persinggahan di tepi Sungai Cibanten dan mengalami renovasi besar pada masa kolonial Belanda, sekitar tahun 1800-an hingga 1936.
Pendiri
Masjid ini dinamai berdasarkan tokoh lokal, Ki Uju, yang diyakini sebagai pendiri awal. Masjid ini diperkirakan berdiri pada abad ke-17 atau ke-18, dengan beberapa sumber menyebutkan renovasi atau pembangunan kembali dilakukan pada tahun 1800-an.
Terletak strategis di tepi Sungai Cibanten, sering digunakan sebagai tempat ibadah nelayan atau pedagang.
Masjid ini merupakan salah satu cagar budaya penting di Kota Serang yang mempertahankan arsitektur klasiknya.
Berada di Kaujon, Kelurahan Serang, masjid ini awalnya melayani masyarakat di jalur perdagangan Sungai Cibanten yang menghubungkan pesisir dan pedalaman.
Berdasarkan peta tahun 1878, kawasan Kaujon merupakan basis pejuang perlawanan melawan kolonial Belanda, bahkan menjadi titik kumpul para jawara dan kelompok agama saat pemberontakan Ki Haji Wasyid tahun 1888.
Memiliki arsitektur khas dengan atap berbentuk limas dan ornamen filosofis buah nanas pada gapura imam, yang melambangkan manusia yang kotor (belum dikupas) dan bersih (sudah dikupas).
Masjid ini mengalami renovasi pada tahun 1936 dan berlanjut hingga tahun 2002.
Saat ini, Masjid Kuno Kaujon diakui sebagai salah satu potensial cagar budaya di Kota Serang.
Pilar
Keunikan tiang (pilar) Masjid Kuno Kaujon, Serang, terletak pada hiasan pilar semu di bagian mihrab yang menampilkan ukiran empat buah nanas.
Ukiran ini memiliki makna simbolis: nanas belum dikupas melambangkan manusia kotor penuh dosa, sementara nanas dikupas melambangkan manusia yang telah bertaubat.
Beberapa hal menonjol lainnya terkait struktur tiang dan interior masjid ini:
Hiasan Filosofis: Ukiran empat buah nanas pada pilar semu di mihrab, konon sudah ada sejak awal masjid didirikan, melambangkan ajaran moral.
Arsitektur Jawa-Banten: Tiang-tiang penyangga (saka guru) di dalam masjid mendukung atap tumpang (limas bersusun tiga), khas masjid awal masa Islam di Nusantara.
Bahan Lokal: Tiang dan struktur utama menggunakan kayu lokal, selaras dengan bangunan panggung tradisional di tepi sungai.
Masjid yang terletak dekat aliran sungai Kali Ci Banten ini mencerminkan perpaduan budaya lokal Jawa dan ajaran Islam.
Tiang masjid kuno, seperti pada Masjid Agung Banten atau masjid tradisional Nusantara lainnya, umumnya meliuk atau tidak lurus sempurna karena penggunaan material kayu jati utuh yang mengikuti bentuk alami pohonnya, serta teknik konstruksi tradisional.
Hal ini menciptakan struktur yang fleksibel, artistik, dan kokoh menahan beban atap tumpang.
Alasan Tiang Melengkung/Meliuk:
Penggunaan Kayu Alami: Tiang diambil langsung dari batang pohon jati utuh, yang secara alami tidak lurus sempurna, guna mempertahankan kekuatan struktural. (Zee)







