Kegiatan Buka Bersama dan Kajian Ramadan: “Membangun Integritas dan Kepemimpinan dalam Ilmu Pemerintahan”

ZETIZENS.ID – Dalam beberapa tahuterakhir, isu integritas dan kepemimpinan dalam tata kelola pemerintahan di Indonesia masih menjadi perhatian serius. Hal ini ditunjukkan oleh masih ditemukannya berbagai kasus penyalahgunaan wewenang, rendahnya akuntabilitas, serta menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan.
Data terbaru menunjukkan bahwa Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2024 berada pada skor 37, yang mengindikasikan bahwa persoalan korupsi masih menjadi tantangan besar.
Selain itu, penurunan Indeks Perilaku Anti Korupsi juga mencerminkan bahwa kesadaran dan konsistensi masyarakat dalam menjunjung nilai integritas belum sepenuhnya kuat.
Dalam konteks tersebut, mahasiswa Ilmu Pemerintahan memiliki peran strategis sebagai calon aktor dalam sistem pemerintahan di masa depan. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori dan konsep, tetapi juga dituntut memiliki integritas dan kapasitas kepemimpinan yang baik.
Oleh karena itu, kegiatan buka bersama dan kajian Ramadan dengan tema “Membangun Integritas dan Kepemimpinan dalam Ilmu Pemerintahan” menjadi relevan dan penting untuk diselenggarakan.
Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Gedung B Lantai 1 Universitas Pamulang Kampus Kota Serang, dan menjadi salah satu bentuk upaya untuk mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan pengembangan karakter mahasiswa.
Melalui kajian Ramadan, peserta diajak untuk merefleksikan kembali pentingnya nilai kejujuran, tanggung jawab, dan amanah sebagai dasar dalam membangun integritas pribadi maupun profesional.
Dari sisi substansi, materi kajian yang disampaikan telah memberikan pemahaman bahwa integritas bukan sekadar konsep normatif, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam konteks Ilmu Pemerintahan, di mana setiap kebijakan dan keputusan yang diambil akan berdampak langsung pada masyarakat. Selain itu, pembahasan mengenai kepemimpinan juga menekankan bahwa seorang pemimpin tidak hanya dituntut memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga harus memiliki etika, empati, dan keberpihakan terhadap kepentingan publik.
Namun demikian, jika ditinjau secara lebih kritis, pelaksanaan kajian masih memiliki ruang untuk pengembangan. Pola penyampaian materi yang cenderung satu arah berpotensi membuat peserta kurang terlibat secara aktif.
Ke depan, diperlukan pendekatan yang lebih partisipatif, seperti diskusi interaktif atau studi kasus, agar peserta dapat mengaitkan materi dengan realitas yang dihadapi serta meningkatkan daya kritis mahasiswa.
Selain kajian, kegiatan buka bersama juga menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan dari keseluruhan rangkaian acara. Buka bersama tidak hanya berfungsi sebagai agenda seremonial, tetapi juga sebagai sarana untuk mempererat hubungan antar mahasiswa, pengurus, dan seluruh pihak yang terlibat. Dalam pelaksanaannya, suasana kebersamaan telah terbangun dengan cukup baik, namun masih terdapat beberapa hal yang perlu menjadi perhatian.
Dari segi teknis, koordinasi antar panitia dan ketepatan waktu pelaksanaan masih perlu ditingkatkan agar kegiatan dapat berjalan lebih efektif dan tertib. Selain itu, interaksi antar peserta belum sepenuhnya merata, di mana masih terlihat adanya kecenderungan terbentuknya kelompok-kelompok kecil.
Hal ini menunjukkan bahwa fungsi buka bersama sebagai ruang membangun kebersamaan lintas individu dan divisi belum sepenuhnya optimal.
Lebih lanjut, penting untuk memastikan bahwa nilai integritas yang diangkat dalam kajian juga tercermin dalam pelaksanaan kegiatan. Aspek seperti tanggung jawab, komunikasi yang efektif, dan komitmen terhadap tugas menjadi indikator sederhana yang dapat menunjukkan sejauh mana nilai tersebut diimplementasikan dalam praktik berorganisasi. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berhenti pada tataran wacana, tetapi juga memberikan contoh nyata dalam pelaksanaannya.
Meskipun masih terdapat beberapa kekurangan, kegiatan ini tetap memberikan kontribusi positif dalam membangun kesadaran mahasiswa akan pentingnya integritas dan kepemimpinan.
Kegiatan ini dapat menjadi langkah awal dalam membentuk karakter mahasiswa Ilmu Pemerintahan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki nilai moral dan etika yang kuat.
Sebagai tindak lanjut, diperlukan upaya berkelanjutan agar nilai-nilai yang telah disampaikan dalam kajian dapat diinternalisasi secara konsisten.
Hal ini dapat dilakukan melalui program-program lanjutan yang mendukung penguatan karakter, seperti forum diskusi rutin, pelatihan kepemimpinan, atau kegiatan berbasis pengabdian kepada masyarakat.
Secara keseluruhan, kegiatan buka bersama dan kajian Ramadan ini memiliki potensi besar sebagai media pembinaan karakter mahasiswa. Dengan pengelolaan yang lebih matang, pendekatan yang lebih interaktif, serta konsistensi antara nilai dan praktik, kegiatan serupa di masa mendatang diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih optimal dalam mencetak generasi pemimpin yang berintegritas dan bertanggung jawab. (Zee)







