Karya

Banjir Cinangka Menjadi Ujian Kepedulian Kita yang Sebenarnya

ZETIZENS.ID – Sebagai generasi yang hidup di era digital, pola perhatian kita sering mengikuti algoritma media sosial. Kita mudah terbawa isu nasional yang viral atau bencana besar di daerah lain. Namun masalah lokal yang menyentuh hajat hidup sekitar seperti banjir berulang di Cinangka Banten sering hanya jadi berita singkat di sela timeline.

Ini ironis. Masalah seperti banjir Cinangka justru dampaknya paling langsung. Ini bukan cuma soal genangan air tapi laporan akhir dari tata kelola lingkungan dan infrastruktur dasar daerah kita sendiri.

Kegagalan kita sebagai anak muda untuk konsisten menuntut solusi permanen mengungkap paradoks. Kita bersuara lantang untuk perubahan nasional namun sering bisu untuk hal yang akar masalahnya bisa kita lacak dari rumah sendiri.

Pertama kita perlu jujur ada jarak psikologis antara anak muda urban dengan bencana seperti banjir. Bagi yang tinggal di kos atau perumahan relatif aman, banjir di Cinangka terasa seperti peristiwa jauh.

Kita jadi konsumen pasif berita bencana, bukan pemangku kepentingan aktif yang merasa ikut memiliki masalah ini. Padahal pola konsumsi dan gaya hidup kita turut membentuk jejak ekologis yang memengaruhi siklus air di daerah seperti Cinangka.

Kedua, perhatian kita tersedot isu yang memberi feedback instan. Membahas konser atau tren adalah aktivitas sosial yang menyenangkan. Sementara membongkar penyebab banjir seperti alih fungsi lahan atau lemahnya penegakan hukum adalah pembicaraan kompleks.

Diskusi publik kita tentang lingkungan sering terjebak pada level simpati, bukan pada analisis kebijakan.

Ketiga, kegagalan komunikasi otoritas memperparah jarak ini. Informasi yang sampai sering hanya tinggi muka air dan jumlah pengungsi, tanpa penjelasan transparan tentang peta kerentanan banjir atau progres normalisasi sungai.

Data itu seharusnya bisa disajikan dengan visual menarik agar jadi bahan diskusi kritis anak muda yang melek data. Tanpa itu, banjir tetap dipandang sebagai takdir tahunan, bukan dampak keputusan politik yang bisa dikritisi.

Lantas apa yang bisa kita lakukan? Kita tidak harus langsung terjun ke lumpur untuk disebut peduli. Bentuk kepedulian baru bisa dimulai dari cara kita mengonsumsi dan merespons informasi.

Pertama, gunakan media sosial untuk hal yang lebih dari sekadar simpati. Saat berita banjir muncul, coba ajukan pertanyaan kritis di kolom komentar atau thread. Tanyakan penyebab struktural di baliknya. Apakah ada laporan audit lingkungan yang bisa diakses publik? Dengan pertanyaan seperti itu, kita mendorong narasi yang lebih dalam.

Kedua, jadilah mata bagi lingkungan sekitar. Jika melihat saluran air mampet atau pembangunan yang mencurigakan di daerah rawan banjir, dokumentasikan. Laporan warga yang disertai bukti visual sering kali lebih cepat ditindaklanjuti dinas terkait.

Ketiga, jadikan isu lingkungan sebagai parameter politik. Saat musim pemilihan tiba, tanyakan dan telusuri rekam jejak calon terkait penataan ruang dan penegakan hukum lingkungan. Pilih yang memiliki komitmen jelas dan transparan, bukan sekadar janji seremonial.

Banjir di Cinangka harus jadi momentum bagi generasi muda Banten untuk menggeser pola pikir. Dari penonton yang prihatin menjadi pengawas yang kritis. Dengan mengubah pola bertanya, kita mengubah pola diskusi. Perlahan kita bisa mendorong transparansi dan akuntabilitas yang lebih baik.

Bencana mungkin akan terus terjadi, namun kelengahan kita dalam menganalisis akar masalah adalah banjir yang sesungguhnya. Banjir yang menggenangi nalar kritis dan memutus harapan akan perubahan lebih fundamental. (*)

Ditulis oleh Syafa Azzahwa, mahasiswa Unpam PDSKU Kampus Serang

Tulisan Terkait

Back to top button
zetizens.id