Viral

Society of the Snow, Perjuangan Para Pemain Rugby di Gunung Bersalju

ZETIZENS.ID – Film ini lagi dibahas banget sama warga TikTok. Ya, film Society of the Snow. Ini adalah kisah nyata yang sangat akurat, diadaptasi dari buku La Sociedad de la Nieve karya Pablo Vierci.

Film ini menceritakan tragedi nyata Penerbangan Uruguay 571 yang jatuh di Pegunungan Andes pada tahun 1972, di mana tim rugby amatir itu harus bertahan hidup secara ekstrem, termasuk memakan daging untuk bertahan hidup.

Pesawat Angkatan Udara Uruguay (Uruguayan Air Force Flight 571) membawa tim rugby dan penumpang lainnya jatuh di Pegunungan Andes pada 13 Oktober 1972.

Para penyintas adalah tim rugby amatir dari Montevideo, Uruguay, yang terjebak di pegunungan bersalju selama lebih dari 70 hari.

Film ini sangat setia pada peristiwa sebenarnya, bahkan menggunakan nama asli para penyintas dan difilmkan di lokasi yang mirip atau sama dengan lokasi kecelakaan asli, menjadikannya salah satu penggambaran paling realistis dari tragedi tersebut.

Film ini didasarkan pada buku yang ditulis oleh seorang jurnalis yang merupakan teman kuliah para korban, memberikan perspektif mendalam tentang perjuangan mereka.

Survival

Society of the Snow (Masyarakat Salju) adalah film survival dari Spanyol yang mengisahkan tragedi nyata Penerbangan Angkatan Udara Uruguay 571 pada tahun 1972, di mana sebuah tim rugbi amateur jatuh di pegunungan Andes yang membeku dan harus berjuang untuk bertahan hidup selama 72 hari melawan kelaparan ekstrem, cuaca dingin, dan keterbatasan sumber daya. Bahkan sampai melakukan kanibalisme dari jenazah rekan mereka agar tetap hidup hingga akhirnya 16 orang selamat dan ditemukan.

Awal perjalanan, pesawat membawa tim rugbi Old Christians Club dari Uruguay menuju Chili saat melintasi Pegunungan Andes, tiba-tiba mengalami kecelakaan fatal.

Dari 45 penumpang, 33 selamat dari reruntuhan, namun terdampar di salah satu lingkungan paling keras di dunia dengan suhu sangat dingin, salju luas, dan tanpa makanan atau alat bantu.

Para penyintas berusaha memanfaatkan sisa-sisa pesawat, melawan kelaparan hebat, dan menghadapi longsor salju yang memakan korban.

Karena tak ada pilihan lain, mereka akhirnya harus mengambil keputusan kontroversial untuk memakan daging dari korban yang telah meninggal agar tetap hidup.

Setelah berbulan-bulan, dua dari penyintas berjuang mendaki gunung dan berhasil mencapai permukiman untuk meminta bantuan, yang akhirnya mengarah pada penyelamatan 16 orang yang tersisa.

Film ini berfokus pada ketahanan semangat manusia, persahabatan, dan pilihan moral sulit yang harus diambil untuk bertahan hidup dalam kondisi paling ekstrem, seperti yang dialami oleh para korban dalam kisah nyata yang mengharukan.

Ending

Akhir film Society of the Snow (Masyarakat Salju) menunjukkan penyelamatan 14 penyintas dari puing pesawat di Andes setelah Nando Parrado dan Roberto Canessa berhasil mencapai peradaban; namun, narator Numa Turcatti meninggal dunia, menjadi korban terakhir sebelum evakuasi.

Film ditutup dengan Numa menanyakan makna penderitaan dan kekuatan hubungan manusia, merefleksikan pengalaman yang mengubah hidup mereka dan meninggalkan penonton untuk merenungkan arti bertahan hidup.

Setelah Nando dan Roberto berhasil mendaki, helikopter penyelamat tiba dan mengevakuasi penyintas yang tersisa, meskipun tidak dalam satu hari penuh karena cuaca buruk.

Numa Turcatti, narator film, meninggal pada 11 Desember 1972, hanya 11 hari sebelum penyelamatan. Ia adalah orang terakhir yang meninggal sebelum bantuan tiba.

Adegan terakhir menampilkan Numa yang sudah meninggal, berbicara langsung kepada penonton, menanyakan makna dari penderitaan dan keputusan sulit yang mereka buat (kanibalisme), menekankan bahwa makna itu harus ditemukan oleh masing-masing individu, termasuk penonton.

Film ini secara setia menggambarkan bagaimana para penyintas akhirnya diakui sebagai “keajaiban Andes” setelah mereka mengungkapkan kebenaran tentang bertahan hidup dengan memakan daging rekan-rekan mereka yang telah meninggal, sebuah keputusan yang mereka buat dengan berat hati.

Film ini berakhir bukan hanya dengan kisah penyelamatan, tetapi juga dengan perenungan filosofis tentang kehidupan, kematian, iman, dan ikatan luar biasa yang terbentuk di bawah tekanan ekstrem, memaksa kita semua untuk mempertimbangkan makna dari pengalaman tersebut. (Zee)

Tulisan Terkait

Back to top button
zetizens.id