Maureen Kartika Sang Peraih Penghargaan TikTok Awards 2025 Kategori Changemaker

ZETIZENS.ID – TikTok Awards 2025 memilih Maureen Kartika sebagai penerima penghargaan kategori Changemaker. Siapa dia? Cari tahu yuk.
Maureen Kartika adalah kreator konten kecantikan di TikTok yang juga bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Lahir dengan disabilitas yang membuatnya tidak bisa berjalan, Maureen telah mengatasi berbagai tantangan dalam hidupnya.
Laman IDN Times menulis, sebagai penyandang disabilitas, Maureen Kartika percaya bahwa tiap orang berkesempatan memberikan dampak positif bagi orang lain.
Sejak kecil, Maureen memiliki motorik yang lemah sehingga mengharuskannya menggunakan kursi roda ke mana pun. Namun, kondisi tersebut gak menghalanginya untuk menjalani kehidupan seperti orang lain pada umumnya.
“Aku kuliah di Psikologi. Jadi dari SMA, aku pengen jadi psikolog yang buka praktek sendiri,” ujar lulusan Universitas Atmajaya Jakarta ini kepada IDN.
Maureen bukan seorang yang mudah berputus asa. Dirinya merupakan bukti bahwa semua orang berhak mendapatkan pendidikan terlepas dari apa pun keadaannya. Ia pun mulai merambah ke dunia konten kreator untuk menunjukkan bahwa penyandang disabilitas juga punya potensi dan kesempatan besar di luar sana.
“Aku mau buktikan kalau seorang disabilitas tuh juga punya skill. Salah satunya skill makeup dan kita berhak punya tempat juga di dunia beauty. Kita juga udah tahu kok banyak beauty influencer disabilitas di luar sana. Jadi kenapa di Indonesia gak bisa? Aku mau mematahkan stigma negatif itu,” katanya.
Itulah mengapa di tengah-tengah kejenuhannya mengerjakan skripsi, Maureen memilih untuk membuat konten. Berawal dari menonton beauty vlogger, akhirnya Maureen banyak memanfaatkan media sosial seperti Instagram, YouTube, dan TikTok untuk berbagi banyak hal.
Menampik Stigma
Hidup di era modern gak bisa menampik kenyataan bahwa stigma-stigma negatif itu masih ada, terutama untuk penyandang disabilitas. Inilah yang menjadi keresahan Maureen sehingga ia ingin menunjukkan bahwa penyandang disabilitas juga punya kesempatan yang sama.
“Orang-orang masih punya stigma kalau disabilitas itu gak bisa apa-apa, ngerepotin doang. Itu masih sering banget kita tuh teman-teman disabilitas mendengar soal itu,” resahnya.
Bagi Maureen, masih banyak orang di Indonesia yang belum paham apa itu disabilitas. Alih-alih disabilitas, sebagian besar masyarakat Indonesia masih menggunakan kata ‘cacat’. Padahal Bahasa Indonesia yang baik dan benar pun sudah mengganti kata tersebut dengan disabilitas.
Maureen bilang, “Masih banyak banget orang yang gak paham apa itu disabilitas. Masih menganggap disabilitas itu sama dengan sakit. Mungkin awalnya karena sakit, tapi bukan penyakit yang bisa cepat sembuh. Memang disabilitas itu jadi bagian dari diri kita.”
Awalnya, Maureen mengaku masih banyak warganet yang melontarkan berbagai komen negatif. Namun, Maureen justru semakin terpacu untuk mendobrak stigma-stigma negatif itu.
“Justru yang seperti itu jadi bahan yang nge-push aku. Berarti aku harus lanjut lagi supaya orang lama-lama terbiasa melihat kontenku dan mereka bisa menerima aku,” ucapnya.
Self Acceptance
Banyak hal dilalui seorang Mauren untuk bisa mencapai titik self acceptance. Sebagai anak remaja kala itu, Maureen tidak seperti anak lainnya yang bisa berjalan dan berlari-lari. Ia mengidap skoliosis ideopatik, yakni jenis skoliosis yang tidak diketahui penyebabnya.
“Dulu sudah sampai 120 derajat, jadi sudah miring banget. Di operasinya pun karena sudah usia 19 tahun, jadi gak bisa langsung ditarik karena bahaya. Cuma ditarik 50-an derajat, masih ada sisa 79 derajat,” ceritanya.
Nyatanya, skoliosis ini juga menyadarkan Maureen bahwa ia memiliki rongga paru-paru yang besar sebelah. Kondisi ini membuat kinerja paru paru Maureen tidak berjalan maksimal.
“Sebelahnya sudah sesuai dengan besar badanku saat ini, umurku saat ini. Tapi sebelahnya masih kecil, tidak membesar, seperti paru anak-anak,” sambungnya.
Ini membuat Maureen rentan merasa lelah dan rentan mengalami infeksi. Rupanya, apa yang ia takutkan benar-benar terjadi.
“Setahun kemudian, aku kena infeksi paru-paru. Aku masuk ICU kurang lebih ada 11 hari dan akhirnya dokter bilang tidak ada perkembangan,” jelas perempuan kelahiran 1994 ini.
Itu sebabnya, Maureen sudah memakai trakeostomi untuk membantunya bernapas dan berbicara sejak usia 20 tahun. Tak menampik kenyataan, Maureen sempat merasa down dan hampir putus asa.
“Pas pakai trakeostomi ini, aku sempat gak bisa makan manual lewat mulut karena alat aku yang harusnya nutup kalau makanan masuk, itu gak ketutup. Jadi makanan masuk ke paru-paru. Akhirnya aku gak boleh makan dulu kurang lebih empat bulan. Aku makan di satu selang. Aku benar-benar down. Aku stres banget. Hampir setiap hari nangis karena aku kayak, ‘Tuhan kenapa sih udah gak bisa jalan, skoliosis, sekarang pakai trakeostomi? Makan aja gak bisa,” katanya.
Melalui platform media sosial, Maureen berharap banyak orang lebih teredukasi. Banyak konten-konten Maureen yang menunjukkan bahwa disabilitas itu berdaya.
“Aku mau menunjukkan di platform aku kalau disabilitas itu gak sebatas kekurangan mereka aja. Gak sebatas kebutuhan khusus mereka. Gak bisa jalan itu bukan kekurangan aku. Aku bisa jalan kok tapi aku jalan pakai kursi roda,” jelas Maureen.
Sama halnya dengan teman-teman tuli atau teman-teman tunawicara. Mungkin orang lain berbicara pakai suara dan mulut, tetapi mereka juga bisa berbicara menggunakan tanggan melalui Bahasa Isyarat.
Semangat Kak. (Zee)







